0800 1088888  EN

    Warga Ring I Pabrik Rembang dalam Rekrutmen

    news / 16 September 2014

    Kehadiran Semen Indonesia lewat pembangunan Pabrik di Rembang mulai memberi dampak positif bagi warga sekitar. Salah satunya dengan rekrutmen tenaga security. Tahap awal, rekrutmen ini menerima sebanyak 71 tenaga keamanan. Mereka diambil dari warga yang berada di ring satu pabrik. Di antaranya dari Desa Kajar, Desa Tegaldowo, Desa Timbrangan, Desa Pesucen dan Desa Kadiwono Kecamatan Gunem Kabupaten Rembang.

    Untuk merekrut mereka, SMI bekerja sama dengan Kepala Desa setempat. Para kepala desa memberi rekomendasi nama-nama yang dianggap layak untuk mengisi posisi tenaga pengamanan. Selanjutnya, mereka diseleksi lagi oleh tim pengamanan Semen Indonesia.

    Menurut Sumarsono, salah satu tim seleksi, materi seleksi meliputi wawancara dan kesigapan. Lolos dari sini, mereka akan mendapat tempaan lanjutan. Diantaranya ilmu baris ber baris, bela diri dan pengembangan skill individu. “Selanjutnya mereka akan kita kirim ke Polres Rembang selama dua hari untuk mendapatkan pelatihan lanjutan dan sertifikat,” ujar Sumarsono.

    Menurut Sumarsono, proses rekrutmen security ini akan terus berlanjut. Untuk gelombang I saja, setidaknya dibutuhkan 106 personel. “Rekrutmen terus berlanjut. Yang pasti, diutamakan dari warga sekitar, khususnya yang ada di ring satu pabrik,” bebernya.

    Mereka yang dinyatakan lolos terlihat gembira. Seperti yang ditunjukkan Siswanto (38). Bapak satu anak yang berasal dari Desa Pesucen ini, mengaku kini bisa menatap masa depan lebih sumringah. Setidaknya, kini dia telah mendapatkan pekerjaan tetap, sesuatu yang selama ini dikejar tiada henti.

    “Dulu pekerjaan saya buruh tani atau kerja serabutan apa saja. Tak ada penghasilan tetap, sedang kebutuhan keluarga harus terpenuhi setiap hari. Ini yang membuat istri saya sering marah-marah,” akunya saat ditemui Gapura di lokasi pabrik. “Kini, saya lebih yakin menatap masa depan,” tambahnya.

    Pengakuan yang sama juga diberikan Abdul Sohfif (29) warga desa Kadiwono. Alumni STM Blora ini, sebelumnya tak memiliki pekerjaan tetap. Bekal ijazah STM dipakai untuk menjadi pekerja bangunan di Rembang. Jika tak ada garapan, dia menghidupi keluarga kecilnya dengan menjadi buruh tani. “Sehari dapat upah Rp 50 ribu,” ujar bapak satu anak ini.

    Tak hanya mereka yang telah berkeluarga, kehadiran Pabrik Semen di Rembang juga dipakai sandaran harapan bagi mereka yang masih berstatus bujang. Tanpa malu, Arif Nuryawan (23), kini mengaku lebih pede dalam mencari jodoh. Setidaknya, status sebagai security Pabrik Semen sudah bisa jadi jaminan. “Kalau calon sudah ada, tapi kemarin-kemarin masih ragu untuk meminangnya. Maklum, belum punya penghasilan tetap,” akunya, tersipu. Keinginan untuk mengubah hidup, sejatinya sudah dicanangkan kuat Arif selepas menyelesaikan sekolah di SMA 2 Blora pada 2008 lalu. Waktu itu, dia sampai ikut merantau ke Papua untuk berdagang sembako. Hanya saja, hantaman krisis membuat perusahaan yang diikuti gulung tikar. Dia akhirnya kembali pulang tanah kelahiran, Desa Kajar. “Saya berharap pembangunan Pabrik ini tak berhenti. Jalan terus biar bisa memberi manfaat sebanyak mungkin bagi warga di sini,” harapnya.

    Harapan yang kurang lebih sama juga disampaikan Rukamto (26) warga Timbrangan, Damin (36) warga Tegaldowo dan Siman (23) warga Tegaldowo. (ram/znl)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply