0800 1088888  EN

    Ubah Paradigma Melihat Pasar

    news / 15 Juni 2016

    Semen Indonesia menyiapkan sejumlah langkah antisipasi menghadapi peta persaingan industri semen yang makin kompetitif. Langkah ini diawali dengan perubahan paradigma dalam melihat pasar. “Kata kuncinya adalah market bukan hanya Indonesia tapi regional,” jelas Direktur Utama Semen Indonesia Rizkan Chandra kepada awak media di Jakarta, Jum’at (10/6).

    Perubahan paradigma ini, tak lepas dari kondisi pasar semen nasional saat ini yang tengah mengalami over kapasitas. Kondisi ini merupakan imbas dari pertumbuhan kapasitas produksi yang lebih tinggi daripada pertumbuhan demand.

    Pertumbuhan demand saat ini menurut Rizkan Chandra, masih dibawah 5 persen. Sampai akhir tahun, pertumbuhan diperkirakan maksimal 6 persen, tidak lebih besar dari pertumbuhan kapasitas yang mencapai 9 persen. Di tengah kondisi over kapasitas, para pemain baru masuk dengan menerapkan strategi dengan margin rendah. Agresivitas pemain baru ini diakui Dirut telah menggerus market share di Kalimantan. Namun, hal ini menurutnya tidak terlalu berdampak, karena pasar terbesar Semen Indonesia adalah di wilayah Jawa, Sumatera dan Sulawesi.

    Selain adanya over kapasitas dan perubahan struktur pasar nasional karena masuknya pemain baru, kondisi pasar juga mengalami perubahan. Pasar semen yang sebelumnya didominasi produk bag, kini mulai beralih ke bentuk curah. Ini terlihat dari tingginya pertumbuhan demand semen curah yang memiliki margin lebih rendah daripada semen bag.

    Meski demikian, demand semen di Indonesia diyakini akan meningkat yang didukung oleh belanja pengembangan infrastruktur dan pertumbuhan di sektor perumahan. Tingkat konsumsi semen per kapita yang masih rendah disebutnya menjadi peluang bagi para pelaku industri semen. Saat ini tingkat konsumsi semen perkapita Indonesia, lanjutnya, masih dibawah Malaysia, Vietnam, bahkan Thailand. Pertumbuhan segmen industri produk turunan semen (precast, ready mixed concrete, light brick, dll) diharapkan juga mampu mendongkrak demand semen nasional. Ke depan pasar regional akan menjadi solusi saat pasar domestik tengah over. “Pengalihan pasar ke regional ini hanya akan dilakukan saat pasar domestik mengalami over, namun saat demand domestik tinggi kita akan fokuskan pada pasar dalam negeri,”sergahnya.

    Untuk memaksimalkan pengalihan pasar ke regional, Semen Indonesia akan mencari negara yang tidak memiliki bahan baku atau negara yang memiliki struktur pasar oligopoly (sedikit pemain). Ini untuk menjaga kepastian penyerapan pasar. Dengan kepastian penyerapan pasar diharapkan utilisasi pabrik dapat dimaksimalkan yang akan berimplikasi pada penurunan biaya.

    Sementara untuk menekan cost of goods sold (COGS) manajemen akan melakukan perbaikan distribusi dengan melakukan sinergi group. Dikatakannya, biaya distribusi mengambil porsi hingga 18 persen dari COGS. Menurutnya, cost murah yang diterapkan pabrikan semen asal Cina bukan tidak bisa ditiru. Justru Semen Indonesia memiliki lebih unggul karena memiliki brand yang telah dikenal dan mengakar kuat.

    Untuk semakin memperkuat brand, Semen Indonesia akan mengkampanyekan semangat nasionalisme pada konsumen. Hal ini dilakukan dengan memunculkan slogan 3P (Paling Berkualitas, Paling Green, Paling Indonesia). Keterlibatan Semen Indonesia dalam pembangunan berbagaimahakarya seperti Gedung DPR/MPR hingga jembatan Suramadu telah membuktikan kualitas Semen Indonesia.

    Penerapan prinsip triple bottom line (people, planet, profit) dalam operasional perusahaan dan berbagai terobosan seperti waste heat recovery power generation (WHRPG) hingga penggunaan biomass sebagai pengganti batubara memperkuat Semen Indonesia sebagai perusahaan green industry. Sedangkan sebagai perusahaan berstatus BUMN dengan mayoritas kepemilikan saham oleh pemerintah, membuat status Semen Indonesia sebagai semen paling Indonesia tidak perlu diragukan lagi. (bwo)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply