0800 1088888  EN

    Tantangan Besar SMI Terapkan Teknologi lignite coal upgrading

    innovation, news / 28 Maret 2018

    [:id]Target Semen Indonesia menerapkan teknologi lignite coal upgrading di semua unit produksi di tahun 2019, menjadi tantangan besar. “Dilihat dari ketersediaan cadangan batu bara di Indonesia, masih relatif cukup sampai tahun 2050,” kata Singgih Widagdo, Ketua Kebijakan Publik, Ikatan Ahli Geologi Indonesia, pada acara Focus Group Discussion (FGD) Lignite Coal Upgrading Technology, di Ruang Synergy, Gedung Utama Semen Indonesia, lantai 4, Selasa (27/03/2018) .

    Lignite adalah batubara dengan kualitas terendah, biasa disebut brown coal, dengan kandungan kalori antara 1.700 – 3.000 Kcal/kg (GAR). Jumlahnya diperkirakan sangat banyak di Indonesia, dan barang tambang yang tidak laku dijual di pasar global. Sebenarnya, amat tepat bagi SMI untuk mengembangkan teknologi lignite coal upograding sebagai sumber energi pembakaran di semua unit pabrik. Sejauh ini, produk batu bara di pasar global, dengan kandungan kalori dalam kisaran 4.200 – 6.200 kcal/kg.

    Pemakaian batubara di SMI, rata-rata sekitar 2 juta ton per pabrik, dan pemakaian jumlah ini, hanya seperempat dari kebutuhan PLN. “Artinya, kalau memang SMI ingin mengembangkan teknologi lignite coal upgrading, perlu dipikirkan ketersediaan barang di pasar. Sebab, perusahaan tambang lebih memilih memenuhi permintaan PLN, yang jumlahnya lebih besar. Belum lagi kebutuhan ekspor. Ingat, Indonesia adalah pengekspor batu bara nomor satu di dunia. Ini dilakukan demi keberlangsungan hidup perusahaan tambang. Jadi, memang ada baiknya SMI mempunyai tambang batu bara sendiri, untuk memenuhi kebutuhan akan lignite,” ujar Singgih, yang juga menjadi Sekjen Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada ini.

    Menurut Singgih, selain terbentur teknologi, problem terbesar jika menerapkan teknologi lignite coal upgrading, adalah transportasi. Yaitu jarak antara tambang batu bara dan pabrik semen. Kata Singgih, ketersediaan batu bara lignite itu, umumnya ada di daerah pedalaman. Sedangkan di kawasan pesisir, batu bara mempunyai kandungan kalori sangat bagus. “Ini problem mesti dipecahkan. Jangan sampai dengan penerapan teknologi lignite coal upgrading, malah menaikkan cost di sektor lain,” tandas Singgih, yang pernah menjadi staf ahli PLN ini.

    Jika dorongan melakukan terobosan teknologi lignite coal upgrading dikarenakan harga batu bara terus naik, Singgih membeber data harga tertinggi batu bara mencapai 95,5 dolar per ton, terjadi pada 2 Maret 2012. Harga terendah mencapai 44,20 dolar per ton, pada 10 April 2016. Setelah itu, harga batu bara merangkak naik di atas harga standar 70 dolar per ton, dan sesekali turun. “Saya melihat harga batu bara ini di kisaran bawah 100 dolar, dan ada kans untuk turun. Terkait harga, sebenarnya bukan dikarenakan hukum pasar, tapi lebih kepada regulasi dari dua negara pengimpor batu bara terbesar, yaitu China dan India. Jika regulasi dua negara itu berubah, saya yakin akan terjadi over supply batu bara di pasar lokal,” tandas Singgih.

    Singgih mengakui dia tak mengetahui tentang teknologi lignite coal upgrading. Andai hadir Herman Hidayat dari Pusat Teknologi Sumberdaya Energi dan Industri Kimia (PTSEIK) – BPPT, yang memang ahli dalam teknologi, tentu bisa terjawab. “Jujur, saya hanya menunjukkan seberapa besar potensi sumber daya batu bara di Indonesia. Untuk teknologinya, bukan core saya,” tandas Singgih. (ros)[:]

    Facebook Comments