0800 1088888  EN

    TAK ADA ALASAN PESIMISTIS

    news / 11 Agustus 2016

    Peluang Semen Indonesia untuk mempertahankan market share masih terbuka lebar. Gambaran ini di berikan Katua  Tim Ahli Wakil Presiden Sofjan Wanandi untuk menepis rasa pesimistis beberapa kalangan terkait dengan kebijakan pemerintah menurunkan harga Semen Indonesia dan BUMN Semen lain  sebesar Rp 3.000,- per zak. “ peluang masih sangat prospektif,” tandasnya.

    Sofjan Wanandi menerangkan bahwa industry semen prospektif mendorong pertumbuhan ekonomi. ini sejajar denagn kebijkan pemerintah yang akan memusatkan pembangunan infrastruktur sebagai upaya untuk mendorong laju perekonomian bangsa.  seiring dengan kebijakan tersebut, tentunya kebutuhan akan semen sebagai bahan utama bangunan juga akan meningkat ,sehingga menepis keraguan tentang ke beradaan dividen Semen Indonesia. “ Pembangunan infrastruktur nanti akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dan, itu pasti akan membutuhkan semen,” yakinnya dalam investor roundtable discussionSemen Indonesia Tbk dan Bareksa.com di Jakarta, Selasa (17/2).

    Selain Sofjan, diskusi yang diikuti 50 analis dari berbagai perusahaan aset manajemen dan sekuritas tersebut juga di hadiri  beberapa tokoh penting. Diantaranya Komisaris Utama Semen Indonesia Mahendra Siregar, peneliti dari LPEM-FEUI Mohammad ikhsan dan Direktur Utama Ir Suparni. Sebagi moderator Sekper Agung Wiharto.

    Ir Suparni menjamin bahwa Semen Indonesia mampu mempertahankan margin keuntungan terkait kebijakan pemangkasan harga tersebut. Salah satu langkah yang akan digagas yaitu dengan melakukan efisiensi terhadap seluruh divisi-divisi dalam manajemen Semen Indonesia.

    OPTIMALKAN PASAR LUAR NEGERI 

    Sementara itu, Komisaris Utama Semen Indonesia Mahendra Siregar mendorong manajemen untuk mengoptimalkan pasar luar negeri. Langkah ini sebagai trobosan untuk menghindari kejenuhan pasar dalam negeri yang tahun ini diprediksi alami over supply.

    Menurut mantan Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ini, kondisi pasar dalam lima tahun kedepan akan mengalami kelebihan pasokan ini di sebabkan peningkatan kapasitas produksi oleh produsen yang sudah ada dan masuknya pemain-pemain baru ke indutri semen nasional. Kondisi ini berbalik dengan situasi pada 2014 lalu, dimana pasar semen nasional mengalami kelebihan permintaan (excess demand) akibat produksi riil semen berada di bawah permintaan. Alhasil, kran impor pun sempat di buka untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

    Mantan Wakil Menteri Keuangan ini melanjutkan, akibat persaingan yang tinggi kemungkinan harga semen akan mengalami penurunan-penurunan seperti ini akan terjadi secara otomatis. “ sama seperti minyak, bukan di karenakan keputusan melainkan merupakan reaksi terhadap pasar yang produksinya berlebih,” katanya.

    Mahendra mengatakan kedepannya hal yang seperti ini akan memberatkan perseroan. pasalnya Semen Indonesia ataupun produsen semen lainnya tidak mungkin melakukan pengurangan produksi untuk mengimbangi permintaan yang ada. Perseroan, menurutnya, harus membayar cicilan utang dan berbagai macam biaya lainnya. selain itu, investasi yang sudah di keluarkan harus di utilitasi secara penuh.

    Untuk itu, Mahendra mendorong manajemen Semen Indonesia untuk mengoptimalkan pasar luar negeri agar target produksi bisa lebih terjaga. Semen Indonesia juga akan memaksimalkan ekspor ke beberapa Negara seperti Srilanka dan Bangladesh.

    Disinggung mengenai keiapan Semen Indonesia menghadapi persaingan pemain-pemain baru, Mahendra Siregar menegaskan perseroan sangat siap. Pihaknya tidak takut terhadap pemain-pemain internasional yang akan masuk ke Semen Indonesia. Mahendra, mengatakan, pihaknya sudah tau kondisi yang ada di Indonesia dan siap untuk bersaing. “ Kalau mereka mau masuk ke Indonesia apakah mereka sudah paham dengan kondisi Semen Indonesia ke depannya” katanya.

    Menurut data Asosiasi Semen Indonesia, tahun ini saja beberapa pabrik semen baru akan beroperasi, diantaranya pabrik semen terintegrasi milik PAN ASIA, Siam Cement, dan Merah Putih di Pulau Jawa serta pabrik semen milik Anhui Conch di Kalimantan.

    “ Periode 2015-2020 adalah periode survival yang tidak kuat bersaing tidak akan survive. Semen Indonesia tidak hanya akan survive. Manajemen sudah memberikan komitmen bahwa meraka paling tidak akan mempertahankan pangsa pasar,” ujar Mahendra. (yla/znl)

    Facebook Comments

    Leave a reply