0800 1088888  EN

    Studi Banding Warga Sekitar Pabrik Rembang dan Gresik ke Jogja. Menggumpal dalam Tekad dan Harapan

    news / 12 Oktober 2015

    c0e46d220678f34663f39ee06276cc3a

    Selama tiga hari, 29 September sampai 1 Oktober, Semen Indonesia mengajak warga sekitar Pabrik Rembang dan Pabrik Gresik studi banding ke Jogja dan Jawa Tengah. Salah satu lokasi yang dikunjungi Desa Panggungharjo. Desa yang terletak di Kabupaten Bantul ini pada 2014 lalu dinobatkan sebagai Desa Terbaik Nasional.

    Profit, People, Planet. Tiga kata ini menjadi mantra wajib Semen Indonesia Grup dalam beraktifitas. Jabaran sederhana dari konsep tersebut bisa digambarkan dalam kalimat seperti ini; bahwa segala proses bisnis yang dijalankan perseroan dalam mengejar profit (keuntungan) selalu dibarengi dengan kepedulian pada masyarakat (people) dan lingkungan (planet) sekitar. “Karena itu, buat apa kita miliki keuntungan tinggi namun masyarakat sekitar tak ikut merasakan. Atau, gerak perusahaan kita justru tak bersahabat dengan lingkungan,” tandas Kadep CSR Wahjudi Heru menjelaskan ikhwal digelarnya studi banding ini.

    Prinsip triple P yang bergerak sejalan ini, salah satunya diwujudkan dengan Studi Banding warga sekitar Pabrik Rembang dan Gresik ke Jogja dan Jateng. Kunjungan ini diikuti sekitar 120 peserta yang berasal dari 10 desa sekitar pabrik Rembang dan desa sekitar kantor pusat Semen Indonesia di Gresik. Mereka terdiri dari Kepala Desa, Tokoh Masyarakat dan penggerak PKK di desa sekitar.

    Desa sekitar pabrik Rembang yang ambil bagian dalam kegiatan ini yakni Tegaldowo, Timbrangan, Pasucen, Kajar, Suntri, Dowa, Kadiwono, Mantingan, Bulu dan Kumendang. Desa-desa tersebut tersebar di dua kecamatan yakni Gunem dan Bulu. “Ini langkah awal. Ke depan, kita akan perluas kepesertaan,” terang Kabiro Bina Lingkungan SMI, Slamet Mugiarso selaku penanggungjawab kegiatan.

    Kegiatan diawali dengan kunjungan ke Desa Panggungharjo yang terletak di Kecamatan Sewon Kabupatan Bantul, Rabu (30/9). Desa ini cukup istimewa. Pasalnya, tahun 2014 lalu dinobatkan oleh Kementerian Dalam Negeri sebagai Desa Terbaik Nasional. Penghargaan ini, tak lepas dari kinerja desa yang dianggap mencerminkan semangat yang ada di UU Desa No 6 tahun 2014. “Prestasi ini kami bangun tidak dalam waktu sekejap. Butuh proses dan kerja keras semua untuk mewujudkannya dan menjadikan desa bisa seperti sekarang ini,” terang Wahyudi Anggora Hadi, Lurah Desa Panggungharjo.

    Dalam paparannya, lurah muda ini menunjuk sederet prestasi yang ditorehkan. Selain tingginya partisipasi warga, desa ini juga mencatatkan dana Pendapatan Asli Desa (PAD) sebesar Rp 1,4 miliar. Tahun ini, APBD yang telah diketok sebesar Rp 3,754 Miliar. Wow. Sebuah torehan fenomenal bagi organisasi seukuran desa. “Kunci dari semua ini adalah kepercayaan. Kami ingin tunjukkan pada warga sekitar bahwa Pemerintahan Desa telah berubah. Karena itu, ayo semua bergerak bersama, menjadikan desa lebih maju dan makmur. Alhamdulillah, ajakan kami ini bersambut,” ungkapnya.

    Puluhan peserta studi banding terlihat antusias dengan paparan ini. Bahkan, semua terlecut untuk bisa ‘mengubah nasib’ seperti yang dilakukan desa Panggungharjo ini. “Jujur saja, ini membuat kami malu. Pasalnya, sumber daya yang dimiliki di sini tak jauh beda dengan desa kami. Tapi kenapa, hasil akhirnya bisa berbeda?” aku Ahmad Ridwan, Kepala Desa Kadiwono Rembang. “Sepulang dari sini, kami pasti akan berbuat sesuatu. Paling tidak kami akan menata tata administrasi pemerintahan desa,” tambahnya.

    Tekad yang sama juga dilontarkan Ny Wijayanti. Ketua Penggerak PKK Kecamatan Gunem ini mengaku ‘gatal’ pasca melihat paparan. “Rasanya sudah pingin cepet balik dan segera berbuat terbaik yang bisa dilakukan di sana,” ungkapnya. Hal yang sama juga disampaikan Ngadimin. Kepala Desa Kembangan Kebomas Gresik ini, mengaku sangat beruntung bisa ikut ambil bagian dalam studi banding seperti ini. “Kami sampaikan pada Semen Gresik yang sudi mengajak kami ke sini. Banyak ilmu yang bisa kami dapatkan. Tentu saja, sepulang dari sini, kami miliki bekal tekad dan harapan menjadi lebih baik,” tandasnya.

    Wahjudi Heru menyambut baik antusiasme ini. Menurutnya, desa sekitar Pabrik Rembang dan Gresik harusnya bisa lebih baik dibanding Panggungharjo. “Kita miliki Pabrik Besar yakni Semen Indonesia. Harusnya kita bisa lebih baik dibanding sini. Kuncinya adalah tekad dan kemauan keras untuk maju,” tegasnya.

    Selain ke Panggungharjo, rombongan studi banding juga mengunjungi Kawasan Pusat Pelayanan Agribisnis Petani (PPAP) yang terletak di Desa Soropadan Kecamatan Pringsurat Temanggung Jawa Tengah. Di sini, peserta mendapat tambahan wawasan tentang budi daya tanama agribisnis. (ram/bwo)

    MELIHAT MERAH PUTIH DI PANGGUNGHARJO

    Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) miliki cara tersendiri mengapresiasi kehebatan desa Panggungharjo. Komisi yang ditakuti para koruptor ini menuangkan dalam sebuah film pendek berdurasi 10 menit. Judulnya ‘Melihat Merah Putih di Panggungharjo’. Isinya, sebuah wajah keseharian desa yang natural, transparan, hangat dan jauh dari praktek koruptif.

    Bukan tanpa maksud bila KPK memberi judul seperti itu. Ada keinginan besar dari lembaga anti rasuah ini menjadikan desa berpenduduk 22 ribu jiwa ini sebagai sumber inspirasi tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan dan accountable. Di tengah banyaknya pesimisme akan praktek kotor dan koluptif yang membelanggu birokrasi pemerintahan, masih ada harapan dan optimisme seperti yang terlihat di Panggungharjo. “Ini memang menjadi harapan, sumber inspirasi besar di negeri ini. Bahwa, masih ada Merah Putih seperti yang terlihat di Panggungharjo,” tukas Valentino Sudaryanto, Dirjen Otoda Kemendagri seperti yang dicuplik di film pendek KPK ini.

    Film pendek ini, membawa Panggungharjo dan sang lurah, Wahyudi Anggoro Hadi terbang tinggi. Tak hanya di pentas nasional tapi juga internasional. Alhasil, jumlah kunjungan pun mengalir. Pasca menyabet label Desa Terbaik Nasional pada 2014 dengan menyisihkan 72 ribu desa, tingkat kunjungan meningkat tajam. Tahun ini, jumlah kunjungan tercatat sebanyak 132 tamu. “Sebagian besar termotivasi rasa penasaran. Dan, tugas kami di sini menjadi provokator agar semua bisa terlecut untuk lebih baik,” aku Wahyudi.

    Kepercayaan disebut apoteker alumni UGM ini menjadi modal utama dalam menggerakkan perubahan. Pasca terpilih pada 2012 lalu, Wahyudi memang langsung bergerak cepat, mewujudkan janji kampanye nya akan sebuah pemerintahan desa yang bersih. Ini dibuktikan langsung dengan keteguhan menjaga diri dari iming-iming gratifikasi. Di Panggungharjo, godaan seperti ini saban hari berseliweran. Apalagi, secara geografis, Panggungharjo berkarakter semikota yang dikelilingi komplek perumahan.

    “Kami di sini, sekuat diri menahan godaan seperti ini. Kalaupun akhirnya harus kami terima, semua kami catatkan di bendahara desa sebagai bantuan pihak ketiga. Termasuk smartphone yang saya pakai ini. Juga pemberian dari pengusaha yang kebetulan miliki usaha di desa ini,” bebernya.

    Dana bantuan pihak ketiga ini yang juga dikelola untuk menggerakkan beberapa program unggulan. Seperti pemberian Kartu Sehat bagi 1000 kepala keluarga untuk bisa berobat secara gratis dengan ditanggung desa. Selain itu, ada juga kartu pintar dimana program andalannya satu rumah satu sarjana. Desa menanggung semua biaya pendidikan dengan sharing fifty-fifty bersama pihak Bumi Putera.

    “Kami juga miliki kartu KIA. Ini untuk memastikan ibu-ibu hamil bisa bersalin secara gratis,” tandasnya. (ram/bwo)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply