0800 1088888  EN

    (English) SMI Raih Sertifikat CER-CDM Project dari UNFCCC

    news, penghargaan-2017 / 19 January 2017

    [:en]TEKAN EMISI GAS BUANG, SEMEN INDONESIA KANTONGI RP 10,2 M DARI PEMERINTAH SWEDIA.

    Tahun 2016 meninggalkan kenangan manis bagi Semen Indonesia. Proyek Clean Development Mechanism (CDM) yang digagas sejak beberapa tahun terakhir membuahkan hasil. Ini seiring dengan diterbitkannya Certified Emission Reduction (CER) oleh United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) pada 12 Desember 2016. UNFCCC merupakan badan dunia bentukan PBB yang mengurus isu lingkungan dan perubahan iklim. Sebagai tindaklanjut, Senin (16/1), Direktur Utama Semen Indonesia Rizkan Chandra melakukan penyerahan secara simbolis CER kepada Duta Besar Swedia Johanna Brismar Skoog di Kantor Semen Indonesia, Jakarta. Penyerahan sertifikat tersebut disaksikan oleh Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwihanjono, Staf Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim Rachmat Witoelar, Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno, serta perwakilan dari Swedish Energy Agency (SEA) dan Sindicatum Carbon Capital. Sertifikat ini diberikan atas kerja nyata Semen Indonesia dalam mengurangi emisi gas buang dan penggunaan bahan substitusi batubara dengan biomass di Pabrik Tuban. Nah, keberhasilan ini mendapat pengakuan dari UNFCCC lewat sertifikat CER. Dalam program CDM, sertifikat itu tak semata berarti pengakuan. Tetapi sekaligus menjadi bukti transaksi jual beli karena mencantumkan berapa ton emisi gas buang yang mampu dikurangi Pabrik Tuban. Di sertifikat itu tertera, pada periode 25 Februari 2012 – 29 Februari 2016, jumlah emisi yang mampu ditekan seba-nyak 213.717 ton CO2 equivalen (lihat di: https:// cdm.unfccc.int/Issuance/cers_iss. html). Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Rizkan Chandra menjelaskan melalui upaya penurunan emisi gas buang yang terintegrasi dan diterapkan di seluruh pabrik, Semen Indonesia pada 2015 telah berhasil menurunkan emisi sekitar 12,7 persen dari baseline 2009, dan ditargetkan turun 22 persen pada 2020. “Kontribusi ini jauh lebih tinggi ditetapkan pada Peraturan Menteri Perindustrian tentang peta panduan pengurangan emisi CO2 industri di Indonesia sebesar 2 persen pada 2015 dan 3 persen pada 2020,” ujarnya. Rizkan menerangkan emisi gas buang CO2 di pabrik semen terdapat dalam tiga sumber yakni dari proses kalsinasi bahan baku, penggunaan bahan bakar fosil dan batubara, serta pemakaian energi listrik di pabrik. “Untuk hal pertama, target perseroan adalah mengurangi persentase dari klinker dalam produksi semen sehingga mengurangi emisi CO2, dengan cara penggunaan material adiktif substitusi. Kami menjadi produsen semen pertama yang memproduksi slag di Cigading, Banten, dan terbukti mampu menurunkan klinker hingga 30 persen. Kedua, dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil untuk mengurangi CO2 di pabrik Tuban, melalui proyek CDM yang ditandai dengan diterbitkannya sertifikat UNFCCC,” paparnya. Selain itu, lanjut dia, Semen Indonesia memanfaatkan gas buang sebagai sumber energi dengan membangun waste heat recovery power generator (WHRPG) di pabrik Indarung sebesar 8 megawatt pada 2014, yang menghasilkan penghematan operasional sebesar Rp 33 miliar per tahun, dan mengurangi emisi CO2 sebesar 42 ribu ton per tahun. “Ini yang pertama dilakukan pabrik semen di Indonesia,” ucapnya. Semen Indonesia juga sedang membuat fasilitas WHRPG serupa di Tuban, dengan kapasitas 30 MW dan berkontribusi terhadap penghematan biaya operasional sebesar Rp 120 miliar per tahun, serta mengurangi emisi CO2 sebesar 122 ribu ton per tahun. “Di masa mendatang, seluruh pabrik di Semen Indonesia Group, akan menggunakan WHRPG sebagai komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan yang lebih baik,” ujarnya. Sejak 2009, menurut Rizkan, Semen Indonesia dibantu konsultan ahli di bidang CDM yakni Sindicatum Carbon Capital telah merintis pengurangan emisi gas buang yang berkelanjutan. Pada Mei 2015, dilakukan penandatangan Emission Reduction Purchase Agreement (ERPA) antara Semen Indonesia dan Negara Swedia untuk periode enam tahun yakni 2013-2018. Berdasarkan ERPA, jumlah CER yang telah diperjualbelikan tahap pertama sebesar 193.536 ton CO2 equivalen. Issuance CER ini oleh UNFCCC telah dikirimkan ke Semen Indonesia sebagai penjual dan Negara Swedia (Swedish Energy Agency) sebagai pembeli. Kenapa Swedia? Sebagai info, negara-negara di dunia telah sepakat untuk mengurangi perubahan lingkungan yang disebabkan efek rumah kaca lewat CDM. Dalam mekanisme ini diatur, negara-negara industri yang tidak mampu mengendalikan emisi gas buang diharuskan memberi apresiasi atau membeli pada negara-negara atau perusahaan yang mampu mengurangi emisi gas buang pada proses produksinya. Semen Indonesia, berdasarkan Emission Reduction Purchase Agreement (ERPA) telah mengikat kerja sama dengan Pemerintah Swedia dalam Proyek CDM ini. Dalam kesepakatan yang ditanda tangani pada 6 Mei 2015 ini, jumlah CER yang diperjualbelikan untuk Issuance CER tahap pertama sebesar 193.536 tonCO2eq dengan periode monitoring Januari 2013 – Februari 2016. Harga CER yang telah disepakati sebesar 3,75 EURO per CER nya dengan durasi kontrak jual beli selama enam tahun mulai 2013 -2018. Pendapatan yang diperoleh Semen Indonesia dari Negara Swedia atas penjualan CER tersebut sebesar 725.760 EURO atau sekitar Rp 10,2 miliar. Duta Besar Swedia Johanna Brismar Skoog menilai CDM menjadi kunci yang penting dalam upaya untuk mengatasi perubahan iklim yang makin terasa secara global. Dia mencontohkan peningkatan suhu serta sejumlah bencana alam terjadi akibat perubahan iklim. “Pemerintah Swedia terus berkolaborasi dengan negara-negara di dunia untuk mengatasi perubahan iklim. “Kami hanya negara kecil, dan berpengaruh tidak luas bagi lingkungan global, makanya kami berinisiatif untuk keluar dan mendukung negara lain,” tuturnya. Sejak 1999, lanjut dia, pemerintah Swedia aktif mendukung berbagai inisiatif dan menginisiasi 9 kumpulan dana internasional dan memfasilitas 130 project yang bernilai sekitar US$ 300 juta. “Dalam upaya penanggulangan perubahan iklim dibutuhkan contoh yang benar, dan Semen Indonesia adalah contoh itu. CER bisa memberikan contoh substitusi bahan bakar fosil dengan alternatif yang ramah lingkungan. Biomasa yang sebenarnya dianggap sebagai sampah dan menimbulkan masalah bagi pemerintah Indonesia dapat berubah menjadi sumber energi. Pemerintah Swedia mengapresiasi CER Semen Indonesia dan akan terus menjalin kerja sama,” paparnya. Bagaimana dengan sisa CER yang tidak dibeli Negara Swedia? “Sisa issuance CER sebesar 20.181 ton CO2eq akan ditawarkan ke negara lain yang berminat untuk membeli dengan harga yang menarik,” terang Rahadi Mahardika, salah satu penanggungjawab proyek ini. Untuk diketahui, CER adalah satuan jumlah emisi gas rumah kaca (CO2) yang bisa diturunkan melalui pemanfaatan biomass sebagai bahan bakar alternatif dan dikonversikan menjadi sebuah kredit (1 CER = 1 tonCO2eq). Jumlah CER ini diperoleh dari pemakaian biomass sebagai bahan bakar alternatif untuk mensubstitusi batubara di Pabrik Tuban#1 dan Tuban#3 mulai Januari 2013 hingga Februari 2016. Jumlah biomass yang dipakai selama 4 tahun sebesar 275.778 ton. Jenis biomass yang terdaftar dalam PDD adalah sekam padi dan cocopeat. Sekam padi di suplai dari 4 Kabupaten terdekat dengan Pabrik, yaitu Kabupaten Tuban, Lamongan, Rembang, Jombang dan Kecamatan Cepu. Sedangkan cocopeat disuplai dari Kabupaten Banyuwangi. Dengan diperolehnya CER tersebut maka langkah Perseroan turut serta dalam pengendalian emisi lingkungan dan pencegahan pemanasan global telah diakui oleh dunia internasional. Perseroan mampu menurunkan emisi CO2 yang diakibatkan oleh pemakaian batubara. Reduksi emisi CO2 secara langsung akan mengurangi emisi gas rumah kaca (GHG) yang dapat menyebabkan efek pemanasan global. Selain bermanfaat di bidang lingkungan, proyek CDM juga berkontribusi terhadap pengembangan masyarakat sosial. Hal ini terbukti dengan terbentuknya banyak vendor pensuplai sekam, dimana mereka bisa membuka lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat sekitar. Hingga saat ini vendor yang menjadi transporter penyuplai sekam sebanyak 11 vendor. Selain itu juga membuka lowongan pekerjaan untuk tenaga bongkar sekam di storage. Jumlah tenaga untuk membongkar sekam padi dari karung sekitar 20 – 30 orang yang berasal dari Desa ring 1. JALAN PANJANG Proyek CDM ini melalui jalan panjang hingga bisa menuai keberhasilan seperti sekarang. Proyek dimulai pada tahun 2009 diawali dengan pembuatan PDD (Project Design Document). PDD adalah dokumen rencana proyek CDM yang diperlukan untuk mendapatkan persetujuan dari DNA (Otoritas nasional yang secara resmi menangani persetujuan negara tuan rumah dari suatu proyek CDM). Dalam pembuatan PDD, Semen Indonesia merekrut konsultan ahli CDM yaitu SCC (Sindicatum Carbon Capital). Pengerjaan PDD ini juga dibarengi dengan pembangunan fasilitas transport biomass Pabrik Tuban 3 dengan kapasitas 20 ton/jam. Setelah PDD jadi maka pada tahun 2010 proyek CDM di registrasikan ke DNPI (Dewan Nasional Perubahan Iklim) Republik Indonesia yang merupakan otoritas nasional yang secara resmi menangani persetujuan CDM di tanah air. Setelah DNPI menyetujui, maka tahapan selanjutnya adalah mendaftarkan proyek ini ke Dewan Perubahan Iklim dunia yaitu UNFCCC. Setelah menunggu sekitar 6 bulan, maka pada tanggal 25 Februari 2011 proyek CDM mendapat persetujuan dari UNFCCC (United Framework on Climate Change Convention), dengan nama partial substitution of fossil fuels with biomass at Semen Gresik cement plant in Tuban (no register : 3726). Untuk melihat bukti registrasi CDM Project – Semen Indonesia dapat dilihat di http://cdm.unfccc.int/Projects/DB/ ERM-CVS1274361514.11/view. Seiring terjadinya krisis ekonomi dunia yang melanda Negara – Negara Eropa maka terjadi penurunan harga CER sampai di bawah 1 EURO per CER nya. Padahal di awal CDM berdiri, harga CER bisa mencapai 10 – 15 EURO. Akibat dari penurunan CER ini maka CDM Project tidak menarik lagi bagi Negara-negara berkembang. Sehingga dari tahun 2011 hingga 2014 CDM Semen Indonesia mengalami kevakuman. Namun Perseroan tidak patah arang dan tetap semangat, hingga pada tanggal 1 Mei 2014 ada tawaran dari Negara Swedia melalui Swedish Energy Agency untuk membeli CER Semen Indonesia dengan harga yang cukup menarik. Setelah melalui negosiasi yang cukup panjang maka pada tanggal 6 Mei 2015 dilakukan Penandatanganan perjanjian jual beli emisi atau disebut ERPA (Emission Reduction Purchase Agreement) antara Semen Indonesia dengan Swedia (melalui Swedish Energy Agency). Berdasarkan ERPA kontrak kerjasama jual beli dilakukan selama 6 tahun, mulai tahun 2013 hingga 2018 dengan harga CER sebesar 3,75 EURO per CER nya. Kemudian pada tanggal 30 – 31 Mei 2016 dilaksanakan verifikasi eksternal untuk issuance CER yang dilakukan oleh DOE (Designated of Entity). Verifikator yang melakukan audit adalah EPIC-Sustainability, Bangalore, entitas yang ditunjuk sebagai DOE oleh UNFCCC. Berdasarkan hasil verifikasi terdapat temuan-temuan minor yang harus di closing oleh pihak Semen Indonesia paling lama 3 bulan. Sekitar bulan Agustus, temuan tersebut bisa disclosing 100 persen, sehingga pada bulan September 2016 DOE bisa melaporkan hasil verifikasi ke UNFCCC. Akhirnya pada tanggal 12 Desember 2016 UNFCCC melakukan issuance CER (penerbitan sertifikasi karbon) dengan Jumlah sebesar 193.536 ton CO2eq. Pada tanggal 22 Desember 2016 proses pembelian CER oleh Swedia telah dilakukan dan Semen Indonesia memperoleh pendapatan sebesar Rp 10,2 miliar. Inilah tonggak sejarah keberhasilan CDM Project Semen Indonesia. (ram/rhd/andryanto)[:]

    Facebook Comments