0800 1088888  EN

    SMI Komitmen Urus Paten UKM Mitra Binaan

    news / 16 February 2016

    2857fa0c2a408dee87828f9e81fdaf57

    Pembajakan masih menjadi momok serius bagi pelaku Usaha Kecil
    Menengah. Begitu mudah produk-produk orisinil yang dihasilkan
    ditiru, dijiplak dan bahkan diakui pihak lain. Perlindungan terhadap
    paten atau hak cipta dan merek di kalangan ini masih cukup lemah.
    Semen Indonesia memberi jawaban untuk itu.

    Semen Indonesia melalui program CSR sukses mengurus paten pada lima pelaku UKM yang menjadi mitra binaan. Kelima pelaku UKM yang telah mengantongi sertifikat paten dan merek tersebut adalah Lyena Craft (Bangkalan), Athaya Batik (Bangkalan), Natania Art Batik (Lasem Rembang), Melati Mekar Mandiri (Tuban) dan Kerajinan Tas dan Sepatu R&D (Lamongan). Semen Indonesia, melalui Program Kemitraan, mengurus dari awal, sampai kelima pelaku usaha kecil tersebut mengantongi sertifikat paten. “Semua kita yang urus. Sampai sertifikat ada di tangan,” terang Kabiro Kemitraan Semen Indonesia, Febriwan. Apa yang dilakukan ini, terang Febriwan, bagian dari langkah perusahaan dalam memberikan layanan penuh (one stop service) pada UKM mitra binaan. Dimana tak sekedar didampingi dan dilepas saat sudah mulai mentas. Tetapi terus berlanjut sampai pada perlindungan produk lewat paten ini. “Selama ini yang menjadi momok bagi industri skala kecil ini kan urusan seperti ini (paten). Ketiadaan informasi dan akses membuat jarang yang mengurusnya. Padahal, ini menyangkut orisinilitas karya dan produk. Karena itu, kami hadir memberikan solusi untuk itu,” ujarnya. Kelima mitra binaan ini memang miliki produk unik dengan orisinilitas tinggi. Sebut misal, Lyena Craft. Usaha yang dimiliki dan dikelola Herlina (33 thn) ini cukup unik. Ibu satu anak ini mampu memberi nilai tambah daun pohon Agel di Bangkalan Madura dan mengubahnya menjadi produk bernilai jual. Serat pohon Agel ini dikreasikan sedemikian rupa menjadi tas, tatakan gelas, kotak tisu dan bermacam kerajinan tangan lainnya. Hebatnya, untuk semua usaha ini, Herlina merekrut para eks pengungsi Sambas. “Produk seperti ini kan harus kita lindungi. Kalau tidak, nanti ada saja yang begitu mudah main klaim dan menjadikan itu produknya,” tandas Febriwan. Produk-produk UKM selama ini memang rawan pembajakan. Apalagi, jika produk itu sampai dipasarkan ke luar negeri. “Karenanya, untuk sementara ini kita proteksi lewat pengurusan paten pada beberapa produk yang dikirim ke luar negeri. Seperti batik misalnya. Jangan sampai nanti diklaim oleh negeri tetangga. Itu yang kita hindari,” tambahnya. Butuh waktu lebih dari setahun sebelum sertifikat itu keluar dari Depkumham pada September 2015. Saat ini, lanjut Febriwan, pihaknya masih terus menginventarisir produk-produk mitra binaan lainnya yang bisa dinaikkan level untuk diurus sertifikat. “Program ini terus berjalan. Hanya saja, kami memang harus selektif dengan mempertimbangkan banyak hal. Khususnya dalam orisinilitas produk,” tandasnya. Terpisah, Herlina menyampaikan terima kasih atas bantuan dan kepedulian yang diberikan Semen Indonesia. Kini, dia tak lagi dihinggapi rasa was-was produknya akan ditiru pihak lain. Bekal sertifikat di tangan membuatnya makin lebih percaya diri untuk mengembangkan usaha yang digeluti sejak tahun 2000 lalu. Produk Herlina yang berada di bawah payung Lyena Craft sudah menjamah ke beberapa negara. Diantaranya, Hongkong, China, Jepang da Amerika Serikat. “Tahun ini, dengan bekal paten di tangan, saya bertekad untuk bisa menembus pasar Eropa,” yakinnya. (ram/bwo)

    Facebook Comments

    Leave a reply