0800 1088888  EN

    SMI Harus Ciptakan Pasar Sendiri

    news / 3 August 2017

    [:id]Meningkatkan volume penjualan sudah menjadi tugas wajib bagi jajaran pemasaran. Tapi, ketika persaingan sudah menggila seperti sekarang, tak semestinya Semen Indonesia hanya bergantung pada pasar luar. Perusahaan mau tidak mau harus menciptakan pasarnya sendiri.

    Salah satu cara paling cerdas adalah dengan membentuk anak-anak usaha yang bergerak di bisnis hilir sehingga bisa menyerap semen produk SMI. “Pabrik semen sudah tidak bisa jalan sendiri. Artinya kita harus menciptakan pasar kita sendiri,” tegas Komisaris SMI Hambra yang dijumpai usai mengikuti halal bihalal keluarga besar SMI di Wisma A Yani, Gresik, Kamis (6/7), lalu.

    Sampai detik ini BUMN-BUMN yang bergerak di bidang properti masih jadi salah satu pasar utama. Karena itu Hambra agak menyesalkan kegagalan SMI ber-partner dengan Waskita Karya (WK). Apalagi anak perusahaan WK yang sempat dilirik SMI itu sekarang tumbuh semakin besar.

    Hambra melanjutkan, kalau perseroan mampu menciptakan pasar sendiri, dalam arti membuat produk turunan semen, itu merupakan captive market. Namun untuk mewujudkan hal ini tidak bisa dilakukan dengan pola pikir lama. “Orang yang sudah mapan itu mikirnya cuma semen dan semen.Mau dirombak seperti apa pun untuk melakukan yang seperti itu tetap berat,” terang sosok yang lahir di Ketapang, Maluku, 10 Oktober 1968 ini.

    Itu berarti, anak-anak usaha yang bergerak di bisnis turunan itu tidak boleh dipegang oleh orang SMI sendiri. Akan lebih baik bila perusahaan tersebut dikendalikan oleh orang di luar perseroan. “Yang terjadi selama ini kan tidak seperti itu. Kita bikin anak perusahaan, lalu orang kita ditaruh ke sana. Padahal selama ini mereka hanya dididik untuk memproduksi semen, lalu kita suruh bikin beton. Ya gak nyambung,” tegas dia. Kecuali ada proses persiapan yang cukup bagi karyawan yang hendak ditugaskan memimpin anak perusahaan tersebut. Apa yang dilakukan WK saat hendak mengambil proyek kereta cepat bisa dijadikan contoh. Karena tidak punya keahlian ke sana, perusahaan ini lantas mengirim puluhan karyawannya untuk sekolah ke luar negeri.

    SMI sekarang telah menancapkan tekad untuk masuk ke bisnis building material. Yang jadi pertanyaan, menurut Hambra, apakah perseroan sudah punya orang-orang profesional di bidang itu? “Karena itu saya bilang, saya ingin duduk dengan direktur SDM untuk melihat roadmap SDM kita ke depan seperti apa. Apakah sudah inline dengan roadmap pengembangan perusahaan ke depan,” tegas komisaris PT PGN LNG ini.

    Begitu pula dengan rencana masuk lebih dalam ke kawasan regional. Kata Hambra, SMI memang tidak bisa hanya menngandalkan pasar di dalam negeri. Namun semuanya mesti dipersiapkan dengan matang. “Pertahanan yang paling ampuh adalah menyerang, ini juga bisa kita terapkan di dunia bisnis. Kita tidak bisa hanya fokus menghadang serangan dariluar, lalu mengabaikan rencana pengembangan. Dua-duanya harus jalan,” ingat Hambra.

    Maka itu SMI lantas membentuk Semen Indonesia Internasional (SII). Lulusan S2 Hukum Bisnis, UGM, Jogjakarta, ini berpendapat, yang perlu dilakukan sekarang adalah mendorong SII bekerja profesional di kawasan regional, tanpa perlu memikirkan kondisi pasar domestik. Jadi, ketika manajemen SMI konsentrasi menghadapi serangan di dalam, SII menjadi pemain profesional yang getol melakukan invasi ke luar.

    “Sekarang kita tinggal nunggu. Vietnam sudah, lalu siap-siap ke Bangladesh. Sepanjang itu tidak menggerus kas perusahaan, lakukan saja. Kalau ini berhasil, saya makin optimistis dengan masa depan SMI,” katanya lagi. (lin/znl)

     [:]

    Facebook Comments