00 SMI Bukukan Ebitda Sebesar 4 Persen - Semen Indonesia

    0800 1088888  EN

    SMI Bukukan Ebitda Sebesar 4 Persen

    news / 13 January 2015

    Kondisi ekonomi global yang belum juga membaik di tahun 2014, membuat kinerja ekonomi tanah air mengalami perlambatan yang berdampak pada penurunan pertumbuhan penjualan semen. Selama tahun 2014 pertumbuhan industri semen nasional berada di kisaran 3,4% hingga 3,5%, jauh dari ekspektasi perusahaan di awal tahun yang diperkirakan sebesar 5,7%.

    Kondisi tersebut diperparah dengan adanya kenaikan tarif dasar listrik (TDL) PLN hingga 65% dan adanya kenaikan BBM subsidi yang semakin menambah tekanan biaya produksi selama rentang waktu tahun 2014. Meski demikian Plt Dirut PT Semen Indonesia (Persero)Tbk Ir Suparni menyatakan di tengah sulitnya kondisi tahun 2014, Semen Indonesia Group masih mampu membukukan kenaikan Ebitda sebesar 4% dan laba sebelum pajak sebesar 3%.

    “Kita patut berbangga di tengah sulitnya kondisi ekonomi global, Semen Indonesia masih mampu menaikan Ebitda dan laba sebelum pajak,”ungkapnya di tengah upacara HUT PT Semen Indonesia ke 2 di halaman kantor lama PT Semen Gresik, Rabu (7/1). Selain itu, PT Semen Indonesia berhasil mengendalikan kenaikan COGS sebesar 9,7% dan meningkatkan harga jual rata-rata sebesar 7%. Serta mempertahankan market leader untuk pasar domestik dengan penguasaan pasar sebesar 43,8%.

    Berbekal pengalaman dari perjalanan berat tahun 2014, PT Semen Indonesia (Persero)Tbk optimis dapat menapaki perjalanan baru di tahun 2015 dengan lebih baik. Meski berbagai pihak meyakini kondisi ekonomi tahun 2015 akan lebih berat dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dikatakannya utilisasi semua peralatan produksi saat ini telah mencapai titik maksimal, dan belum ada penambahan kapasitas yang signifikan. Sementara pasokan klinker mulai mengalami shortage. Hal tersebut memaksa perusahaan di tahun 2015 untuk melakukan pembelian klinker dari luar hingga 1 juta ton. Menurutnya kondisi tersebut
    akan terus berlangsung hingga pembangunan pabrik Rembang dan Indarung VI siap beroperasi pada akhir 2016.

    Untuk mengurangi shortage kapasitas tersebut menurut Plt Dirut Semen Indonesia, merger dan akuisisi menjadi solusi lantaran peningkatan kapasitas di dalam negeri cukup mengalami banyak kendala dan waktu lama. Namun ditambahkannya proses merger dan akuisisi harus tetap memperhatikan aspek investasi, strategi, marketing, operasional, keuangan.

    Menyikapi kondisi tersebut Semen Indonesia diharapkan dapat melakukan program dan strategi yang tepat dengan meminimalkan kesalahan atau zero error. Plt Dirut meminta program efisiensi melalui pengendalian biaya harus terus dilakukan dengan konsisten. Penguatan sinergi terutama dalam hal distribusi akan menjadi competitive advantage perusahaan untuk mengusai pasar.Sementara untuk mendapatkan operational excellence menurutnya perlu adanya penciptaan standar operasi produksi semen. (bwo)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply