0800 1088888  EN

    Semen Indonesia Siapkan Strategi Kenaikan TDL

    news / 11 June 2014

    Wacana kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang akan dilakukan pemerintah, berpengaruh bagi sektor industri. Kenaikan ini akan berimbas pada harga jual produk. Termasuk produk PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMI). Meski begitu, kenaikan harga itu pemberlakuannya akan tetap mempertimbangkan kondisi di lapangan, mulai dari daya beli masyarakat hingga kondisi pasar. Rencana kenaikan harga jual, baru diterapkan SMI tiga bulan setelah TDL itu benar-benar diberlakukan.

    Menjawab pertanyaan wartawan di sela acara Gathering Beasiswa Semen Indonesia 2014 di Convention Center Jalan Basuki Rahmat, Selasa (3/6), Direktur Keuangan SMI Ahyanizzaman memberi gambaran, penggunaan listrik di SMI mencapai sekitar 20 persen dari ongkos produksiya. “Tinggal dikalikan, kalau cost kita 20 persen dari total cost yang 100 persen itu, dikalikan kenaikan listrik yang sekian persen, akan akan ketemu prosentasenya.”

    Secara policy perusahaan, kebijakan kenaikan harga itu memang belum dilakukan. “Tapi secara bisnis, kan tidak bisa begitu. Kita tetap melihat dinamika pasar. Kalau memang dinamka itu menghendaki permintaan tinggi, kadang-kadang harga juga naik. Dengan asumsi pasokannya cukup bagus. Insya Allah pasokan kita cukup bagus.”

    Sebelumnya, Dirut SMI Dwi Soetjipto di sela acara Kartini Award di Grand City Surabaya, Sabtu (26/4), kepada wartawan juga pernah menyinggung soal kenaikan TDL itu. Menyikapi kenaikan itu, SMI akan melakukan efisiensi. Dalam hitungan kasar, kenaikan TDL yang naik antara 60 hingga 65 persen, maka hal itu akan menjadi beban kenaikan total biaya produksi antara 10 hingga 11 persen. Beban kenaikan biaya produksi itu, diasumsikan jika semua produksi menggunakan listrik dari PLN. Dampaknya, akan menjadi 6 persen dari total cost.

    Melalui langkah efisiensi serta utilisasi peralatan, SMI mempoyeksikan total cost akibat kenaikan listrik itu hanya berkisar antara 3 hingga 4 persen. “Ini karena di Semen Indonesia, sebagian memiliki pembangkit tenaga listrik sendiri. Di Tonasa misalnya, kami memiliki pembangkit berkapasitas total 120 megawatt.

    Sementara di Padang, kami juga memiliki 15 megawatt,” ujar Dirut. Sebagai industri dengan pemakai listrik terbesar, diakuinya, kenaikan TDL itu memang menjadi tantangan bagi para pemain semen. “Kalau ketentuannya seperti itu, ya harus kita hadapi. Pilihannya, apakah akan tereduksi marginnya, ataukah melakukan upaya efisiensi.”

    Soal utilisasi peralatan, Dwi juga mengungkapkan, akan melakukan beberapa upgrading yang dilakukan. Misalnya, beberapa waktu lalu SMI telah menyelesaikan proyek grinding plant di Tuban. Proyek yang sama juga akan diselesaikan di Dumai dalam tahun ini.

    “Kalau dua proyek itu sudah berjalan, itu akan bisa menekan total cost menjadi sekitar 3 persen.” Upaya lainnya, adalah penggunaan energi alternatif. Salah satunya, penggunaan energi panas buang yang diubah menjadi energi listrik, yang diharapkan bisa direalisasikan dalam tahun ini.

    “Dengan berbagai cara itu, maka kenaikan biaya listrik diharapkan total cost-nya tidak lebih tiga persen.” Disinggung soal strategi penjualan terutama soal harga, Dwi menyatakan, strategi harga juga bergantung dan harus dilihat dari sisi persaingan di pasar. “Tahun-tahun depan, banyak pabrik dari pemain baru yang menambah kapasitas. Karena itu, kita masih harus hati-hati jika bicara soal kenaikan harga. Kami juga tidak mau kehilangan market.”

    Dwi juga optimistis untuk tidak melakukan revisi target melalui beberapa langkah antisipasi yang akan dilakukan, meski persaingan juga kian marak. Di tahun ini, target pertumbuhan kinerja harus di atas 10 persen.

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply