0800 1088888  EN

    Semen Indonesia Serius Garap Pasar Indonesia Timur

    news / 25 September 2014

    Kawasan Indonesia Timur bakal mendapat perhatian lebih dari Semen Indonesia. Kawasan ini menjadi salah satu bidikan upaya pengembangan pemasaran dan peningkatan pendapatan pemasaran. Dìrektur Utama Semen Indonesia Dwì Soetjipto mengungkapkan pilihan untuk berekspansi ke Indonesia timur dilandasi fakta cukup besarnya cadangan bahan baku dan potensi pasar semen yang menjanjikan.

    “Kami akan serius menggarap pasar di sana. Potensinya masih sangat besar. Termasuk cadangan bahan bakunya juga,” terangnya. Terkait dengan pasar semen di Indonesia timur yang sebelum sebanding dengan wilayah barat, tidak menyurutkan Semen Indonesia untuk berekspansi ke wilayah Papua, khususnya ke Sorong atau Jayapura.”Kamì sekarang sudah punya packing plant di Sorong, itu bisa díkembangkan pabrik kalau memang memenuhi persyaratan,” tuturnya.

    Untuk mendirikan pabrik, kata Dwi Soetjipto, hal utama yang harus diperhatikan adalah ketersediaan bahan baku (raw materials) di sekitar pabrik yang harus terjamin dalam beberapa puluh tahun. Selain itu, juga harus didukung dengan kekuatan pasar yang memadai dan tidak jauh dari pabrik.

    “Saya pikir ¡ni perlu dikaji, dan diperkirakan untuk Papua dan Sorong bisa dilakukan. Dan tidak kalah penting para konsumen tidak jauh, karena bisa menimbulkan ongkos transportasi yang memicu barga jual tinggi,” paparnya. Problem ini memang dialami kawasan ini, Harga juga semen di sana membumbung naik akibat beban ongkos tnansportasi. Sebagai perbandingan, di Jawa harga semen berkisar Rp 60 ribu. Naik menjadi Rp 79 ribu saat berada di kawasan sekitar pelabuhan. Hanya saja, harga jualnya menjadi berlipat-lipat saat masuk ke wilayah Papua. Harganya tembus Rp 1 juta per sak. Ini semua karena ongkos tnansportasi yang begitu tinggi, sebab diangkut dengan pesawat,” ujar penerima Pena Emas dan PWI ini.

    Secara keseluruhan, permintaan semen di Indonesia dengan hitungan per kapita tergolong masih kecil atau sekitar 232 kg/kapita. Masih jauh dibawah China sebesar 1.611 kg/kapita, begitupun dibanding Singapura dan Malaysia yang masing masing tingkat konsumsi 1.115 dan 623 kg/kapita. Demikian halnya dibawah Vietnam dan Thailand yang masing masing per kapitas mengonsumsi semen 513 kg dan 487 kg selama setahun.

    Berdasarkan data Semen Indonesia, sampai akhir tahun ¡ni diproyeksikan tingkat kapasitas produksi semen sebesar 71,5 juta ton. Kapasitas ¡ni mencakup Semen Indonesia Grup (Semen Padang, Semen Gresik, Semen Tonasa) mampu memproduksi 29,5 juta ton, Holcim Indonesia 12,1 juta ton, serta sisanya produsen semen lainnya seperti Semen Andalas , Semen Baturaja, Semen Bosowa, Semen Kupang dan lainnya.

    Sementara ¡tu, Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso mengaku bahwa industri semen nasional mampu memproduksi semen sebesar 85 juta sampai dengan 90 juta ton per tahun pada 2016. Hal itu seiring dengan peningkatan kapasitas produksi pabrik semen yang ada di Indonesia.

    “Peningkatan kapasitas produksi ini sejalan dengan maraknya investasi pabrik semen. Pertumbuhan ekspor semen sangat tergantung kepada realisasi proyek infrastruktur di dalam negeri,” kata Widodo di Jakarta. Jika pembangunan infrastruktur dan properti terus meningkat, menurut Widodo, alokasi ekspor tidak akan besar. Beberapa negara tujuan ekspor produsen semen adalah Bangladesh, India, Sri Lanka, Afrika, dan Timur Tengah.

    “Kalau pembangunan infrastruktur tetap seperti sekarang, dan kapasitas produksi 85 juta ton pada 2016, ekspor bisa 10 juta ton hingga 15 juta ton,” paparnya. Prioritas utama produsen semen nasional, lanjut Widodo, tetap memenuhi kebutuhan domestik bukan ekspor. Apabila permintaan di dalam negeni tidak dipenuhi, maka semen buatan Vietnam, Thailand, dan Malaysia siap masuk. “Untuk meningkatkan kualitas produksi lokal sekaligus menahan serbuan impor, pemerintah telah memberlakukan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib semen,” ujarnya.

    Widodo menambahkan, permintaan semen di dalam negeri terbanyak berasal dan properti, porsinya mencapai 70% sampai dengan 75%. Proyek infrastruktur berkontribusi sekitar 25% hingga 30% dan total kebutuhan. “Kendati porsinya besar, tetapi pengaruh perlambatan sektor properti tidak dirasakan signifikan terhadap penjualan semen. Pada 2016 banyak pabrik semen baru yang beroperasi, misalnya di Jawa Tengah ada dua, Jawa Barat dan Banten ada tiga, dan Kalimantan satu,” tuturnya.

    Namun begitu, dengan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang telah ditetapkan secara bertahap oleh pemerintah juga akan meningkatkan biaya produksi. “Biaya produksi naik bertahap. Kenaikan Juli dan September naiknya sekitar 1,5%,” ucapnya. Listnik bukanlah sumber energi yang berkontribusi besar terhadap struktur ongkos produksi semen. Adapun energi lain yang lebih mahal ialah batu bara. Porsi listrik hanya sekitar 8% – 10% dalam biaya produksi. Jika digabung dengan batu bara porsinya mencapal 35%. Peraturan Menteri ESDM No. 9/2014 mengamanatkan penyesùaian tarif listrik untuk empat golongan pelanggan listrik non subsidi mulal 1 Mei 2014. Mereka adalah rumah tangga besar (R3) dengan daya 6.600 VA ke atas, bisnis menengah (B2) 6.600-200.000 VA, bisnis besar (B3) di atas 200 kVA, dan kantor pemerintah (Pl) 6.600-200.000 VA.
    Penmen ESDM No. 19/2014 menetapkan mulai JuIl 2014 diberlakukan tarif listrik hingga keekonomian secara bertahap untuk enam golongan pelanggan. Mereka adalah rumah tangga Rl (1.300 VA), rumah tangga Rl (2.200 VA), rumah tangga R2 (3.500-5.500 VA), industri 13 nonterbuka, penerangan jalan umum P3, dan pemerintah P2 (di atas 200 kVA). Di tengah berbagal tantangan ekonomi, imbuh Widodo, industri semen tetap diproyeksikan tumbuh 5% pada tahun ini terhadap 2013. ASI mencatat khusus sepanjang Januar – Agustus 2014 sudah tercapai pertumbuhan 3%. (*)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply