0800 1088888  EN

    Semen indonesia Resmi Miliki Lembaga Sertifikasi Profesi

    news / 14 October 2015

    d6b10eeb419ebe2f5f88986ce2fb9d82

    Tradisi sebagai pionir kembali diukir Semen Indonesia. Ini seiring dengan pemberian sertifikat lisensi pada Lembaga Sertifikasi Profesi (LPS) Semen Indonesia oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) di Balai Kartini Jakarta, Selasa (13/10). Ini dituangkan BNSP melalui Surat Keputusan KEP.709/BNSP/ VIII/2015. LSP SMI Group dinilai miliki semua persyaratan untuk menjalankan fungsi sertifikasi profesi seperti yang diamanatkan undang-undang. “Untuk perusahaan (semen), Semen Indonesia merupakan yang pertama kali miliki Lembaga Sertifikasi Profesi tersendiri,” terang Sumarna S. Abdurahman saat menyerahkan piagam lisensi pada Dirut SMI Ir Suparni.

    Hadir dalam launching ini, Ketua Asosiasi Semen Indonesia Widodo Santoso, jajaran direksi Semen Indonesia diantaranya Direktur SDM dan Hukum Gatot Kustyadji, Direktur Produksi dan Litbang Johan Samudra, Direktur Komersial Amat Pria Darma, Direktur Pengembangan Perusahaan dan Strategi Bisnis Rizkan Chandra, Dirut Semen Gresik Sunardi Prionomurti, Dirut Semen Padang Benny Wendri, Dirut Semen Tonasa Andi Unggul Attas dan para asesor dari SMI Group.

    Selain pemberian sertifikat lisensi, era baru di lingkungan SMI Group ini juga ditandai dengan pemakaian jaket kepada perwakilan asesor oleh Gatot Kustyadji kepada tiga orang perwakilan dari Gresik, Padang dan Tonasa. Dilanjut pemberian sertifikat oleh dirut SMI Ir Suparni. Dengan didapatkannya lisensi dari BNSP ini, maka LPS SMI berwenang melakukan asesmen dan menerbitkan sertifikasi kompetensi sesuai pedoman BNSP kepada seluruh karyawan SMI Group, Anak Perusahaan, Vendor, perusahaan penyalur dan pemangku kepentingan lain yang termasuk dalam mata rantai bisnis perseroan.

    “Muara dari semua ini adalah peningkatan nilai tambah (value) dari perusahaan. Dimana kita miliki SDM yang kompeten dan professional. Dengan begitu, semua proses produksi, maupun proses bisnis yang ada bisa terukur dan terprediksi sejak awal. Tak hanya proses tapi juga hasilnya,” tandas Ir Suparni.

    BNSP sendiri memberi acungan jempol atas apa yang dilakukan SMI Group ini. Menurut Sumarna, pendirian ini sejalan dengan upaya lembaga yang dipimpinnya untuk mempercepat pemberian lembaga lisensi di tanah air. Saat ini, sudah tercatat 220 lembaga yang telah kantongi lisensi dan akhir tahun nanti, jumlahnya ditarget sebanyak 270 lembaga dengan personel yang tersertifikasi sebanyak 131 ribu orang. BNSP, ujar Sumarna, memang sengaja menggenjot pendirian lembaga sertifikasi.

    Ini tak lepas dari Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah di depan mata. Era perdagangan bebas di tingkat Asean ini bakal resmi berlaku pada 31 Desember 2015 mendatang. Liberalisasi ini akan merambah pada 12 lini profesi yakni 7 di bidang produksi dan 5 di sektor jasa. “Dari Blueprint ASEAN, industri semen sebetulnya tak masuk tahun ini. Baru (berlaku) nanti pada 2020 bersama industri perbankan. Tapi, langkah antisipatif seperti ini patut dilakukan. Pasalnya, bukan tak mungkin setelah ini akan mulai ada rembesan tenaga kerja asing ke Indonesia. Nah, kalau kita tak siap, bisa-bisa nanti teman-teman tergagap,” tambah Sumarna.

    Semen Indonesia memang sengaja bergerak lebih awal dalam urusan ini. Menurut Ir Suparni, langkah antisipatif ini tak semata dimaksud untuk menghadapi MEA. Tapi ini bagian dari langkah perusahaan untuk terus menerus meningkatkan nilai tambah guna menghadapi perubahan dan persaingan yang begitu cepat. “Sekarang ini, satu hal yang dihadapi semua lini kehidupan adalah perubahan yang terjadi begitu masif dan cepat. Dulu, bapak-bapak barangkali bisa mengagumi suara emas Titik Sandhora hingga bertahun-tahun. Tapi, saat ini, seorang penyanyi bisa bertahan setahun saja sudah cukup bagus. Karena apa? Itu semua karena perubahan yang begitu cepat,” ujarnya.

    Di dunia bisnis, perubahan menjadi sangat sadis. Beberapa perusahaan hebat di masa lalu, lenyap tak berbekas akibat gagal menghadapi perubahan. “Saya tak perlu sebut merek. Tapi, saya kira kita tahu semua, bagaimana sebuah perusahaan handphone yang dulu begitu terkenal sekarang nyaris gulung tikar. Dan, banyak lagi cerita-cerita kelam perusahaan raksasa dunia yang digilas oleh perubahan,” ujarnya.

    Semen Indonesia, sudah pasti tak ingin bernasib sama, dimana bakal menjadi cerita di masa datang. Untuk itu, perusahaan terus menerus memberi perhatian penuh pada peningkatan human capital seluruh karyawan. “Apa yang kita lakukan hari ini adalah bagian dari itu. Kita bisa milikiLembaga Sertifikasi Sendiri untukmemastikan human capital yang ada benar-benar kompeten dan profesional,” tandasnya.

    Kepala Departemen Center of Dynamic Learning Guntoro didapuk menjadi ketua LSP SMI. Saat ini, jumlah asesor yang telah dimiliki Semen Indonesia sebanyak 34 orang yang terdistribusi Semen Indonesia (16 asesor), Semen Padang (7 asesor) dan Semen Tonasa (11 asesor).

    Menurut Guntoro, untuk pengembangan ke depan, ada tiga fase yang akan dijalani LSP SMI. Tahun ini, yakni fase build yang ditandai berdirinya LSP SMI. Fase kedua terbentang 2016-2017 yang disebut sebagai fase develop. Dimana pada fase ini, ujar Guntoro, pihaknya telah mempunyai 50 skema kompetensi, 40 asesor, 1000 peserta. Dan, pada 2017 naik jadi 100 skema, 80 asesor dan 1500 peserta. “Jika tugas ini tuntas, berikutnya kita akan dorong agar karyawan SMI Grup bisa dapatkan sertifikasi profesi pada tingkat nasional dan regional,” terangnya.

    Dari sisi perusahaan, tambah Guntoro, LSP bisa memastikan karyawannya kompeten atau tidak. Sebab kalau tidak dilakukan setifikasi, tidak akan pernah tahu. Hipotesisnya, kalau karyawannya kompeten, kinerjanya baik, maka perusahaanya akan baik juga.

    “Jadi LSP SMI Grup ini merupakan kepanjangan tangan resmi BNSP. Sebab mereka tidak mampu melakukan sertifikasi sendiri,” ujarnya.(ram/znl)

    Facebook Comments

    Leave a reply