0800 1088888  EN

    Semen Indonesia Jalani Audit Eksternal ISO 9001 dan 14001

    Investor, news / 27 April 2018

    [:id]

    PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. menjalani eksternal audit untuk sertifikasi ISO 9001:2015 dan ISO 14001:2015  di ruang Flamboyan, Gedung Utama Semen Indonesia, lantai 1, Rabu (25/04) dan Kamis (25/04). ISO 9001 berorientasi pada layanan pelanggan serta standar manajemen mutu, sedangkan ISO 14001 tentang manajemen lingkungan.

    Direktur SDM dan Hukum SMI Agung Yunanto dalam sambutannya mengatakan, audit adalah upaya membanguncompetitiveness perusahaan secara berkelanjutan. “Kami ingin meyakinkan bahwa sistem manajemen di Semen Indonesia adalah yang terbaik di Indonesia. Terkhusus pada industri semen,” tegasnya.

    Agung megurai, agar mempunyai daya saing berkelanjutan itu dilakukan tiga pendekatan, yaitu winning people danwinning system. Sertifikasi ISO 9001 dan 14001 adalah upaya meraih winning system. Nanti juga akan ada penerapan OHSAS 18001 atau telah diganti dengan ISO 45001:2018 tentang K3. “Diharapkan SMI sebagai holding bisa menjadi semacam panutan dalam penerapan sistem manajemen untuk anak-anak perusahaan. Bahkan, menjadi sistem manajemen terbaik di Indonesia, khususnya terkait industri semen,” sambungnya.

     Sistem manajemen yang akan diaudit meliputi management of business development, research an development, manufacturing, supply chain, marketing, serta  for cement and building material.

    Sementara Wakil Manajemen Semen Indonesia (SMI) Her Arsa Pambudi, dalam kesempatan ini menyampaikan profil perusahaan secara umum. Dalam audit internal sebelumnya, Her Arsa menandaskan bahwa mengantongi sertifikat ISO 9001 dan ISO 14001 adalah satu keharusan. “Kalau sampai gagal, kita termasuk orang-orang yang celaka,” tandasnya.

    Adapun auditor Pantja Nugraha dari PT Surabaya Teknika Cipta Konsultan menerangkan bahwa audit eksternal melewati dua stage. “Stage pertama berupa pemeriksaan dokumen sesuai yang disyaratkan dalam standar ISO. Selama dua hari ini akan kita lihat, apakah skop sudah sesuai, atau malah bisa dipersempit atau diperluas. Akan dilihat seberapa jauh kepatuhan dokumen terhadap standar yang disyaratkan,” terangnya.

    Pantja menyambung, jika ada ketidaksesuaian antara dokumen dan standar yang disyaratkan ISO, maka menjadi criticalyang berpeluang menjadi temuan mayor. Jika tidak critical menjadi temuan minor. Dalam hal ini perusahaan diberi kesempatan melakukan perbaikan sebelum memasuki stage dua, yang akan digelar sekitar tiga bulan mendatang.

    “Dalam tiga bulan sebelum memasuki stage dua, akan dilakukan verifikasi. Baik secara inside, artinya kami datang ke SMI, atau secara outside yaitu SMI yang datang ke kantor kami. Jika ditemukan banyak temuan minor, masih bisa direkomendasikan untuk mendapatkan sertifikat ISO. Namun, jika ada satu saja temuan mayor saat stage dua nanti, maka rekomendasi belum bisa diberikan,” tandas dia. (ros/jok/znl)

    [:]

    Facebook Comments