0800 1088888  EN

    Semen Indonesia Innovation Award 2014 Dibuka

    news / 23 Mei 2014

    Semen Indonesia Award on Innovation (SMI-AI) 2014, kembali digelar. Acara itu, Senin (20/5), dibuka Direktur SDM PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMI) Gatot Kustiyadji. Pembukaan acara di Gedung Pusat Penelitian Semen (PPS) itu, juga berbarengan dengan cara forum Knowledge Sharing ‘Tahu Isi’. Acara yang digelar sehari itu, dihadiri perwakilan unit kerja dari PT Semen Padang, PT Semen Tonasa, karyawan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang ada di Gresik, Tuban serta anak usaha.

    Acara SMI-AI 2014 dan Forum Knowledge Sharing ‘Tahu Isi’ itu, bertujuan membeberkan mekanisme tentang cara mengikuti dan penilaian SMI-AI. Karena itu, dewan inovasi yang baru dibentuk pada Januari 2014 yang melibatkan Biro Knowledge Management, membeberkan mekanismenya.

    Direktur SDM Gatot Kustiyadji sangat bangga dengan gebrakan inovasi yang sudah ditampilkan unit kerja di Semen Indonesia sejak 2009 lalu. Dia berharap, inovasi yang sudah dijalankan ini, ada proses berbagi keilmuan. Sehingga saat diterapkan, terus muncul multiplier effect dari hasil temuan itu. “Pengetahuan itu ada manajemennya, sehingga lebih baik sharing keilmuan daripada milik sendiri. Banggalah kalian dengan tergabung dalam dunia innovator ini,” katanya.

    Dia juga menegaskan, di tahun mendatang, persaingan usaha dan industri kian ketat. Terlebih kita akan menghadapi ASEAN Economic Community pada 2015, sehingga persaingan itu semakin berat. Bagi perusahaan yang terus melakukan inovasi yang tinggi, itulah yang bakal memimpin pasar. Karena itu Gatot menyarankan, agar unit kerja apapun di Semen Indonesia ini harus terus melakukan inovasi dan bisa dikerjakan. Sebab, semua itu akan bermuara pada efisiensi dan kualitas pekerjaan.

    Ketua Dewan Inovasi Semen Indonesia Indrarti menjelaskan, sejak 1983, inovasi di perusahaan sudah berjalan. Semula, inovasi ini berada dibawah naungan Gugus Kendali Mutu. Selanjutnya berkembang pada 1990 dengan menghadirkan program 5R serta sistem saran. Ini pun masih dikembangkan hingga 2008 melalui Tim Manajemen Menengah untuk proyek kendali mutu. Mulai 2009, lahirlah program inovasi yang berlangsung hingga kini.

    Gebrakan Semen Indonesia tak sampai berhenti saat inovasi itu dijalankan. Kini Dewan Inovasi juga menggagas mematenkan hasil inovasi yang dijalankan tersebut, sehingga ada nilai tambahnya. Namun untuk mengikuti inovasi yang dilombakan, maka inovasi yang dihasilkan itu harus easy, quality and benefit. Karena itu, inovasi yang dihasilkan harus mudah dijalankan, efisien, memiliki dan menghasilkan kualitas terbaik serta mampu mendatangkan benefit bagi perusahaan. Artinya, inovasi yang sudah dijalankan tak sia-sia.

    “Tahun ini, Innovation Award ini tak hanya melibatkan unit kerja Semen Indonesia di Gresik dan Tuban, tapi juga PT Semen Padang, PT Semen Tonasa, dan yang terbaru melibatkan unit kerja di Thanglong Cement. Kita akan memproteksi hasil inovasi ini dengan mematenkan hasil inovasi yang dihasilkan. Para juri akan melihat inovasi yang dihasilkan sejak awal sampai inovasi itu bekerja dengan baik,” tandas Indrarti.

    Sementara Guntoro, Departemen Center of Dynamic Learning Semen Indonesia mengatakan, hubungan inovasi dengan knowledge management itu berkaitan erat. Sebab, inovasi yang dihasilkan, ujung-ujungnya adalah produk perusahaan atau organization value. “Sudah tak bisa dipungkiri jika potensi inovasi yang sudah dijalankan di perusahaan ini, telah mampu menghasilkan efisiensi serta ekonomis.”

    Sementara untuk acara Forum Knowledge Sharing ‘Tahu Isi’ diisi seminar dengan pemateri Ahmad Rusdiansyah dari ITS. Dia menegaskan, inovasi harus selaras dan sesuai dengan target bisnis perusahaan. Yang terpenting, inovasi yang dijalankan di Semen Indonesia itu harus menjadi budaya inovasi. Hal ini bisa berjalan jika sudah ada sharing keilmuan dari inovasi tersebut.

    “Dua hal itu saling menunjang. Harus ada budaya inovasi dan budaya knowledge sharing. Inovasi yang baik adalah yang memiliki nilai tambah. Bahkan inovasi yang baik itu berasal dari tacit knowledge, bukan explicit knowledge,” tegas Ahmad Rusdiansyah.

    Facebook Comments

    Leave a reply