0800 1088888  EN

    Semen Indonesia Ekspansi ke Bangladesh, Bukan Jago Kandang

    news / 22 October 2014

    PT Semen Indonesia (Persero) Tbk terus berupaya memperkuat posisi di pasar regional. Setelah mengibarkan Merah Putih di Vietnam sejak 2013 lalu lewat akuisisi Thang Long Cement Joint Stock Company (TLCC), langkah terbaru Perseroan yakni masuk ke pasar Bangladesh. Langkah ini dirancang berbarengan dengan perluasan wilayah di Vietnam.

    Proses akuisisi direncanakan akan selesai pada tahun depan dengan total investasi hingga mencapai USD 50 juta. Menurut Direktur Pengembangan Usaha dan Strategi Bisnis Johan Samudra, Semen Indonesia akan membeli penggilingan semen di Bangladesh dengan nilal USD 50 juta. Sementara itu untuk di Vietnam perusahan tengah melakukan pendekatan dengan perusahaan yang ada di negara tersebut.

    “Kita masih terus matangkan persiapannya. Insya Allah tahun depan kita sudah bisa mengibarkan Merah Putih di sana” terang Johan Samudra yang mewakili Direktur Utama Semen Indonesia Dwi Soetjipto sebagal pembicara pada Forum 16 th Asia Cement Trade Summit yang digelar di Jakarta, 13 Oktober lalu.

    Dengan adanya proses akuisisi ini, terang Johan, Semen Indonesia akan mengembangkan kemampuan produksinya yang saat ini baru 1 juta ton pertahun sampai
    mencapai 3 juta ton per tahun tergantung kepada perkembangan pasar domestik di sana. Pendanaan proyek tersebut diperoleh dari dana internal perusahaan sendiri.

    Selain itu juga tengah melakukan pendekatan untuk memperoleh dana segar dan beberapa bank. Semen indonesia memang intens memperkuat pasar regional. ini bagian dan strategi pengembangan bisnis perseroan guna menjadi perusahaan persemenanan terkemuka di Asia Tenggara pada 2030.

    Peluang bersaing di pasar Asean sendiri sangat terbuka. Dari 10 negara yang tergabung di Asosiasi ini, empat negara sejauh ini masih alami shortage. Yakni Myanmar, Laos, Kamboja dan Singapura. Tiga negara alami surplus yakni Thailand, Malaysia dan Philipina. Untuk Indonesia berimbang antara kebutuhan dan pasokan.

    Di Myanmar, dari kebutuhan sebesar 7 juta ton baru mampu ditopang industri semen di negara itu sebanyak 2,2 juta ton. Kamboja dan kebutuhan 3 juta ton baru bisa dipenuhi 1 juta ton. Begitu juga dengan kondisi yang ada di Laos. Dan kebutuhan sebanyak 2,4 juta ton baru tertutupi industri semen setempat sebesar 1,5 juta ton.

    Singapura menjadi negara dengan defisit kebutuhan semen tertinggi. Dari kebutuhan 5 juta ton per tahun negara ini harus mampu memproduksi 0,2 juta ton. Sisanya didatangkan dan luar. Khusus untuk Vietnam, kendati alami surplus pasokan namun potensinya masih cukup besar. Sebagai informasi, di negara Paman Ho ini, dan kebutuhan sebanyak 46 juta ton, kemampuan produksi yang dihasilkan ber limpah yakni bisa sampai 75 juta ton. Anak usaha Semen Indonesia yakni TLCC menyumbang produksi sebanyak 2,4 juta ton. “Peluang di sana masih cukup besar. Karenanya, kita akan perluas wilayah di sana,” beber Johan.

    Keberadaan Vietnam ini memang cukup strategis bagi Semen Indonesia dalam bersaing di pasar regional. Lewat TLC, Semen Indonesia mulai mampu mengekspor produk semen ke negara sekitar. Salah satunya Singapura. Di SMI, produk TLCC mampu diterima dengan hangat dibuktikan dengan pasokan sebanyak 50 ribu ton perbulan. Keberhasilan ini patut diapresiasi tersendiri, pasalnya, Singapura selama ini dikenal menerapkan standar tinggi daam pemakaian Semen pada kegiatan konstruksi di negeri Singa ini. Selain itu TLCC juga mengirim klinker ke Bangladesh hampir sebanyak 200 ribu ton pertahun. Difasilitasi pihak ketiga, produk TLCC ikut mewarnai pembangunan di negara tersebut.

    SEMEN PAPUA
    Di dalam negeri, Semen Indonesia juga terus meningkatkan penetrasi. Mampu menguasai market share 44 persen, Semen Indonesia tak ingin terlena. Beberapa Iangkah penambahan produksi lewat pendirian pabrik baru dilakukan. Salah satunya Pabrik Rembang yang ditarget mampu menghasilkan produksi 3 juta ton.

    Selain itu, Perseroan juga tengah mempersiapkan pembangunan pabrik semen di Papua.  Menurut Dirut SMI Dwi Soetjipto diharapkan, pada 2015 mendatang, pembangunan pabrik bisa dimulai. “Itu kita persiapkan, kita harap kan dalam waktu dekat selesai, ini masalah desain pabrik supaya investasinya tidak terlalu besar di sana,” kata Dwi di Jakarta, akhir pekan ini.

    Pabrik yang dibangun, direncanakan memakan lahan seluas 500 hektare. Pabrik tersebut memiliki kapasitas 1 juta ton per tahun. “Mengenai investasinya, sekitar
    Rp 1,8 triliun. Dananya nanti dari perbankan dan kas. Kita harapkan tahun depan sudah bisa dimulai (dibangun),” kata Dwi.

    Adapun alasan pemilihan Papua, kata Dwi, selain untuk menjaring pasar Papua, juga untuk menekan biaya pengiriman. Sehingga, nantinya terjadi efisiensi dan mendorong pendapatan perseroan. “Kita mendekati pasar Indonesia bagian Timur, selama ini kan dipasok dan Barat dan Tengah, dengan mendekati pasar, maka ongkos Iogistiknya bisa kita efisienkan,” tutur Dwi. (ram/bwo/znl)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply