0800 1088888  EN

    Semen Gresik, Metamorfosis Menjadi Semen Indonesia

    news / 4 Februari 2013

    Setelah mengakuisisi perusahaan semen asal Vietnam, Thang Long Cement, SMGR berencana  mengakuisisi perusahaan semen dari Myanmar.

    Menandai posisinya sebagai holding dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) semen di Tanah Air, PT Semen Gresik Tbk berganti nama menjadi PT Semen Indonesia Tbk. Tak cuma menjadi induk perusahaan semen di dalam negeri. Perusahaan memulai langkah menjadi pemain regional dengan mengakuisisi industri sejenis di negeri Jiran.
    Kebahagiaan tampak terlihat di wajah Direktur Utama PT Semen Gresik Tbk (SMGR) Dwi Sutjipto akhir tahun lalu. Ketika ia  menandatangani  transaksi final antara perusahaan yang dipimpinnya dengan  CEO Geleximco (induk Thang Long Cement), Vu Van Tien di Vietnam. Disaksikan Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan, pembelian 70 persen saham perusahaan semen negeri Jiran itu pun dilaksanakan, dan menjadi milik BUMN Indonesia.

    SMGR membayar  US$ 335 juta untuk memperoleh kepemilikan mayoritas perusahaan semen yang berdiri sejak empat tahun lalu itu. Thang Long Cement dianggap prospektif karena dengan produksi sekitar 2 juta ton per tahun, baru memenuhi utilisasi 60-70 persen saja. Selama ini, perusahaan semen itu kurang  didukung pendanaan yang baik, sehingga tidak memiliki tenaga kerja yang andal.

    “Kami bisa sinergikan dan yakin bisa mengangkat perusahaan ini. Semen Gresik akan menempatkan lima wakilnya dari tujuh direksi,” tutur Dwi Sutjipto.

    Usai penandatanganan final pembelian perusahaan semen tersebut, Vu Van Tien mengatakan, rencana untuk membangun satu pabrik lain. Dengan dua pabrik, kapasitas produksi akan meningkat menjadi 6 juta ton per tahun.

    Dua hari berselang, usai akuisisi Thang Long Cement, SMGR membuat gebrakan besar. Berganti nama menjadi PT Semen Indonesia Persero Tbk.  Penggantian brand ini untuk memudahkan penyebutan nama karena sudah menjadi induk perusahaan semen di Indonesia.

    Menurut Dwi,  perubahan nama ini juga sejalan dengan proses restrukturisasi perseroan untuk menerapkan bentuk holding yang paling ideal sesuai dengan kajian konsultan independen. Sebab, perseroan memilih untuk membuat holding demi mendapat manfaat sinergi grup secara maksimal.

    Upaya pembentukan holding sudah dimulai sejak 1995, saat perseroan berperan sebagai operating holding. Kemudian pada tahun 2008 perseroan menerapkan functional holding yang meliputi bidang pemasaran, pengadaan, capital project, information and technology, human resource, dan internal audit serta sinergi di antara tiga perusahaan (Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa).

    Selanjutnya pada 2012 mulailah strategic holding diimplementasikan, sekaligus melakukan perubahan nama menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

    Nama Semen Indonesia dipilih karena dapat merefleksikan holding yang lebih besar dan melambangkan ke-Indonesia-an. Juga bisa memayungi anak-anak perusahaan persemenan yang terletak di geografi yang berbeda (Padang, Gresik, Tonasa) maupun rencana-rencana pengembangan pabrik ke depan.

    “Nama Semen Indonesia juga bisa meningkatkan kemampuan potensi pemasaran dan pemenangan persaingan,” tambah Dwi. Di tahun 2013 PT Semen Indonesia Tbk yang tetap menggunakan kode perdagangan SMGR di Bursa Efek Indonesia (BEI)  menginvestasikan dana sebesar US$ 500 juta – US$ 600 juta atau setara Rp 4,792 triliun hingga Rp 5,751 triliun.

    Investasi itu akan digunakan untuk mengembangkan perusahaan, baik di dalam maupun di luar negeri. Investasi ini akan diperoleh dari penerbitan obligasi berdenominasi rupiah dan dolar AS, kredit perbankan, dan modal internal.

    Pemain Regional
    Setelah mengakuisisi perusahaan semen asal Vietnam, Thang Long Cement, SMGR berencana  mengakuisisi perusahaan semen dari Myanmar sekaligus mendirikan pabrik baru. Untuk akuisisi itu, SMGR kabarnya menyiapkan US$ 200 juta.

    Rinciannya, US$ 150 juta dari penerbitan obligasi global dan sisanya kas internal. Pembelian perusahaan semen di mancanegara dilakukan untuk memperkuat posisi SMGR sebagai pemain regional.

    Selain itu, SMGR akan menggelontorkan US$ 300 juta-US$ 400 juta untuk investasi di dalam negeri. Dana pengembangan akan dialokasikan untuk membangun dua pabrik baru di Sumatera (SGG III) dan Jawa (SGG IV).

    Dwi menjelaskan, untuk membangun proyek SGG III dibutuhkan dana Rp 3,25 triliun. Nilai proyek SGG IV Rp 3,72 triliun Pembangunan pabrik itu diperkirakan memakan waktu tiga sampai empat tahun sehingga baru akan selesai 2015-2016.

    Saat ini produksi semen SMGR sekitar  23 juta ton per tahun. SMGR memproyeksikan produksinya akan meningkat 15-16 persen tahun ini. Peningkatan produksi ini diperoleh karena pabrik Tuban IV yang berkapasitas produksi 3 juta ton sudah mulai beroperasi tahun 2012 lalu.

    Selain itu, tahun 2013 pabrik Semen Tonasa V di Sulawesi yang berkapasitas 3 juta ton juga akan beroperasi. Di mata analis pasar modal, saham SMGR layak untuk dimasukkan ke dalam portofolio investasi investor. Dalam risetnya, Teguh Hartanto dari Bahana Securities menyebutkan, kekuatan SMGR sebagai produsen semen terbesar di Indonesia.

    Ada tiga langkah strategis yang telah dilakukan perusahaan. Pertama, berhasil menurunkan biaya produksi dengan penggunaan batubara yang lebih rendah kadar kalorinya. Kedua, melakukan efisiensi pada Semen Tonasa dan  Semen Padang yang berada di bawah satu payung. Ketiga, melakukan strategi akuisisi di saat yang tepat untuk mendukung pengembangan perusahaan.

    Teguh menyebut target price saham SMGR tahun ini sebesar Rp 17.600.Price earning ratio SMGR di posisi 17,5 kali dengan perkiraan pertumbuhan 20 persen. Angka tersebut berdasarkan perkiraan pendapatan SMGR yang akan naik menjadi Rp 23,7 triliun pada 2013, dari  perkiraan pendapatan sepanjang 2012 Rp 19,7 triliun.

    Sementara perkiraan laba bersih SMGR tahun 2013 masih menurut hasil riset Bahana Securities di angka Rp 7,3 triliun, atau naik dibanding perkiraan tahun 2012 Rp 4,8 triliun.

    Facebook Comments

    Leave a reply