0800 1088888  EN

    Ribuan Jemaah Hadiri Salat Eid di Halaman Wisma Achmad Yani

    news / 21 June 2018

    [:id]Ribuan jemaah mengikuti salat eid yang digelar Semen Indonesia (SMI) di halaman Wisma Achmad Yani, Jumat (15/06). Selain di halaman Wisma Achmad Yani, salat ied juga digelar di Lapangan Tenis Perumahan Dinas Tubanan. Ustadz Rofi Munawar dari Lamongan bertindak sebagai imam dan khatib salat ied di Wisma Achmad Yani, sementara di Lapangan Tenis Perumdin Tubanan bertindak sebagai imam adalah ustadz Mahbub Ichsan dan khatib ustaz DR M Arfan Muammar MPdI dari Gresik.

    Dalam khotbahnya, Rofi menyebut bahwa semua ibadah sejatinya adalah untuk kepentingan manusia sendiri. Hal tersebut akan mendorong manusia menjadi hamba yang rendah hati di hadapan Allah SWT. “Bulan Ramadan kemarin, kita semua berbuat baik. Maka, sebaiknya di luar bulan Ramadan, kita tetap menjaga berbuat baik. Ada pesan penting, setelah Ramadan, jangan sekali-kali terjadi demoralisasi. Satu hal yang penting, yaitu kita harus memperkokoh akhlaq untuk memasuki hari-mari setelah Ramadan,” kata dia.

    Caranya, kita menaati seluruh perintahnya, dan menjauhi semua larangannya. Rofi menyitir ayat dari surat Al A’raf ayat 162-163, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah tuhan seru sekalian alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah aku diperintahkan. Sesungguhnya aku termasuk orang yang menyerahkan diri.”

    Kata Rofi, ada poin penting, yaitu umumya manusia melaksanakan perintah Allah, tapi di sisi lain, manusia juga melanggar larangannya. Dia mengingatkan, banyak orang-orang yang salat, menutup aurat, tapi mereka juga melanggar ibadah sosial. “Dalam ayat itu, jelas bahwa semua hanya untuk Allah SWT. Dengan semangat Ramadan yang telah kita lalui, harus terus kita perkuat, karena di sana nanti, kita akan merasakan indahnya iman, dan nanti kita diwafatkan khusnul khatimah,” tandas dia, diselingi takbir.

    Dia juga menyebut tentang tangggung jawab moral. “Dalam Ramadan kemarin, ada aturan-aturan yang bisa membatalkan puasa Ramadan kita, bukan dalam arti lapar dan dahaganya. Allah melarang kita berkata kufur, dilarang berkata fitnah, melakaukan ghibah. Setelah Ramadan ini, kita harus mempertahankannya. Kita sekarang dalam situasi di mana media sosial sangat luar biasa dan begitu banyak konflik horizontal terjadi. Itu akibat tidak bisa menjaga lisan dan perkataan. Selalu memroduksi kalimat kemarahan dan tidak benar,” tutur dia.

    Di dalam masyarakat, kata Rofi, juga dihadapkan pada persaingan yang tidak sehat. Persaingan itu memunculkan dosa-dosa dari lisan, perilaku. “Apakah itu dilakukan oleh kita, oknum pemimpin, atau rakyatnya. Itu seakan sudah terbiasa. Tidak ada lagi kejujuran dari mulutnya,” beber dia. “Padahal, kata, perbuatan itu sangat bergantung kepada keimanannya,” tambah dia, lalu dia menyitir hadist, “barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, berkatalah benar atau diam.”

    Dia mengingatkan, dalam Ramadan telah diajarkan tentang tanggung jawab sosial. Dalam hal ini adalah zakat, infaq, dan sedekah, serta tutur sapa yang baik. Usai Ramadan ini, banyak even penting di negara Indonesia, Rofi mengajak jemaah salat eid untuk menjaga diri, dan tetap mengedepankan akhlaqul karimah. (ros)[:]

    Facebook Comments