0800 1088888  EN

    Resertifikasi ISO 9000 dan Kembali ke Positioning Awal

    news / 21 March 2018

    [:id]Resmi menjadi ketua SMIF per 20 Februari 2018, Guntoro sudah mengantongi sejumlah gagasan anyar. Kendati begitu SMIF tidak akan bergeser dari fungsi utamanya untuk memperkuat corporate branding. Apa saja rencana baru untuk lembaga yang sebelumnya bernama Semen Gresik Foundation (SGF) tersebut? Berikut petikan wawancara dengan Guntoro.

    Pernah membayangkan bakal diberi tanggung jawab memimpin SMIF?

    Enggak, tapi sebelumnya sudah sempat diberitahu mungkin akan di-develop ke yayasan. Makanya terus ada reorganisasi. Saya baru resmi di sini tanggal 20 Februari 2018.

    Tiga bulan pertama, apa yang hendak Anda lakukan?

    Secara administratif, kalau kita ngomong pendidikan, kita mau benchmark ke Muhammadiyah. Mereka sudah kelihatan kualitas maupun branding-nya. Visi kita ke depan, pendidikan di bawah naungan SMIF bisa sekuat Muhammadiyah. Ya kalau tidak bisa nomor satu, nomor dua nggak apa-apalah.

    Kalau soal branding, yang pertama harus dilakukan adalah meningkatkan kualitas. Kalau mau turun yang lebih detail, adalah jaminan mutu kualitas. Dan yang lebih sempit lagi adalah sistem jaminan mutu.

    Maka, quick wins yang akan kita lakukan adalah resertifikasi tentang jaminan mutu atau ISO 9000. Kan sudah beberapa tahun terakhir SMIF  tidak di-surveillance oleh eksternal auditor. Karena itu perlu resertifikasi lagi sehinga jaminan mutu sistem kita ini ada stempelnya. Jadi ISO 9000 akan kita sertifikasi lagi.

    Yang lain menyangkut  PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru). Kan ini sekolah-sekolah mulai menerima siswa baru, mulai PAUD sampai SMA/K. Kita harus adu strategi untuk mengejar pagu. Sebab kalau itu tidak tercapai kita bisa defisit. Setelah itu barulah kita mikir branding tadi.

    Secara umum, SMIF ini mau dibawa ke mana?

    Saya ingin kembali ke positioning awal saat didirikan, yaitu untuk reputation management. Jelasnya membantu korporasi dalam rangka corproate branding. Artinya aktivitass SMIF diharapkan bisa meningkatkan citra SMI sebagai korporasi. Itu misi utama saya dan pengurus lainnya.

    Selain itu, kalau selama ini kami banyak bergerak di pendidikan formal, mulai PAUD sampai perguruan tinggi, nanti pendidikan non formal akan jadi program tambahan. Selama ini yang non formal itu kan belum tergarap maksimal.

    Pendidikan non formal seperti apa?

    Ya yang non ijazah, artinya pengembangan kepemudaan, juga entrepreneurship. Itu sebenarnya salah satu misi didirikannya SMIF. Kemarin sudah dirintis oleh pengurs sebelumnya, ada buncop (kebun percobaan) dan bundik (kebun pendidikan), itu sebenarnya sudah mengarah ke pendidkan non formal.

    Hanya, pendidikan non formal ini belum dikelola, karena kemarin kita fokus ke pendidikan formal. Ini mungkin yang jadi salah satu fokus saya. Pendidikan non formal lain, yang berkaitan dengan  kepemudaaan, misalnya kita di sini punya CiLSI (Cipta Laras Semen Indonesia), lembaga psikologi dan konseling.

    Selama ini mereka menangani tes psikologi untuk promosi karyawan anak usaha. Nah, itu bisa dikembangkan menjadi salah satu penyelenggara pendidikan non formal kepemudaan dengan konsep outbound training. Jadi nanti dikelola oleh CiLSI, dengan memanfaatkan bumi perkemahan sebagai lahan outdoor outbound-nya.

    Apakah perlu membentuk lembaga baru?

    Oh tidak perlu, CiLSI saja kita kembangkan areanya menjadi penyelenggara outbound.  Ke dalam, nanti bisa menangani outbound siswa sekolah di lingkungan SMIF. Khususnya untuk pengembangan kepemimpinan dan soft competency. Kalau mau dikerjasamakan dengan  anak-anak usaha yang lain juga bisa.

    Core competency dan corporate culture itu biasanya juga diperkuat dengan outbound.  Kalau kita pakai lembaga luar yang profesional, ya memang lebih komprehentsif tapi mahal, karena tempatnya di area rafting dan sebagainya. Tapi kalau kita ngomong lesson learned atau pendidikannya, kan yang penting di brief-nya. (lin/bwo)

    smile.semenindonesia.com[:]

    Facebook Comments