0800 1088888  EN

    RENGKUH SUKSES BERKAT ALAT DAPUR

    news / 26 Juli 2016

    “Jujur saja, kalau melihat kondisi masa lalu, sulit percaya bila saya bisa sampai (sukses) seperti ini,” ujar Ikhwan Ali saat ditemui di workshopnya di Desa Pelemwatu Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik Jawa Timur. Kekayaan materi, dulu sesuatu yang sama sekali tak terbayang di benak tiga dari lima saudara ini, bisa dikata kini telah direngkuh. Bersama istri dan dua putrinya, Ikhwan Ali telah dapatkan semua yang diimpikan berkat kelancaran usaha yang digeluti. Merintis dari bawah, usaha peralatan dapur yang digeluti telah memberinya penghasilan antara Rp 75 juta – Rp 100 juta per bulan. “Alhamdulillah. Allah SWT maha pemurah, senantiasa mendengar dan mengabulkan doa hambanya,” ungkapnya. Adalah usaha produksi parut kelapa yang mengubah nasib Ikhwan Ali menjadi seperti sekarang ini. Usaha ini dirintis sejak tahun 1996 lalu ini, ada sedikit unsur terpaksa saat dijalani. Pasalnya, di tahun itu, dia menjadi korban PHK pabrik roti di kawasan Dinoyo Surabaya. Sempat limbung, Ikhwan Ali bergabung dalam usaha peralatan dapur di kawasan Darmo Permai Surabaya. “Setelah delapan bulan di sana, saya kemudian keluar dan memutuskan mandiri,” kisahnya. Kendati cukup ahli dalam pembuatan roti, dia mengesampingkan keahlian ini dari pilihan usaha yang akan digeluti. Alasannya sederhana, lifetime Roti yang cukup pendek. Paling lama tiga hari, jika tak laku sudah berjamur. “ Beda dengan besi. Sampai tiga tahun sekalipun tetap besi namanya. Tak akan berubah bentuk,” ujarnya membeber alasan pilihan bisnis yang digeluti. Awalnya, usaha kongsi ini dijalani bersama tiga rekannya dengan mempekerjakan empat karyawan. Seiring perjalanan waktu, perbedaan visi membuat kongsi ini pecah dan Ikhwan Ali jalan sendiri sampai kini. Kelincahan dalam membangun jaringan dan kesediaan memenuhi produk keinginan konsumen membuat usahanya ini berkembang pesat. Diversifikasi produk pun dilakukan. Tak hanya parut kelapa, usaha rumahan ini juga melayani pembuatan mesin cabut bulu ayam. Selain didrop di kawasan Kembang Jepun Surabaya, produk-produk ini juga dikirim langsung ke Sulawesi dan Kalimantan. Pemesanan mengalir deras. Ketepatan waktu pengerjaan dan kualitas produk yang terjaga menjadi salah satu keunggulan produk Ikhwan Ali ini. Bahkan, saat Indonesia diterpa krisis moneter, usaha Ikhwan Ali sama sekali tak terganggu. Malah, justru diuntungkan saat itu. Kenapa? Ini berkat kejelian melihat sesuatu. Tahu permintaan Parut Kelapa dan Cabut Bulu Ayam menurun, dia mulai cari celah dengan merakit mesin penyedot air yang biasa dipakai untuk tambang emas tradisional di Sulawesi dan Kalimantan. “Saya beli mesinnya di Solo, terus kita assembly dan lempar ke pasar. Laris manis kayak kacang goreng. Soalnya, harga lebih murah dibanding produk impor yang saat itu terkena imbas kenaikan Dolar,” kisahnya. Usahanya makin berkembang saat bergabung sebagai mitra binaan Semen Indonesia pada 2005. Jaringan menjadi luas. Diapun dapat pendampingan dalam pengelolaan keuangan usaha maupun kesempatan membangun relasi lewat berbagai pertemuan dan pameran. “Saya menjadi makin percaya diri dan termotivasi mengelola usaha ini,” akunya. Setelah lima tahun gabung, Ikhwan Ali merasa sudah cukup. Dia tak mau egois dengan memberi kesempatan pada UKM-UKM lain untuk bergabung menjadi mitra binaan. “Gantian. Apalagi, usaha juga semakin maju dan kuat. Kasihan yang lain kalau saya terus di sana,” papar usahawan protolan kelas satu STM ini. Ikhwan Ali tak pelit dalam berbagi sukses. Dia support karyawannya yang ingin merintis usaha sendiri. Alhasil, di dusun Pelemwatu, usaha peralatan dapur ini menjamur. Dari sekitar 2000 kepala keluarga lebih dari 70 persen menggeluti usaha ini. Toh, Ikhwan Ali tak risau hal itu akan menggerus pasar yang dirintis. Malah, usahanya justru makin berkembang. Kuncinya? Kejeliannya lakukan variasi produk. Seperti sekarang ini, saat yang lain ramai ramai produksi parut kelapa dan bulu ayam, Ikhwan Ali sudah memperlebar varian produk. Saat ini, selaian parut dan cabut bulu ayam, Ikhwan Ali bersama 80 karyawannya, memproduksi mesin molen, mesin prontok padi dan jagung, As ketinting untuk baling-baling perahu dan lainnya. “Yang terbaru mesin molen dan as ketinting. Ini juga memenuhi permintaan temanteman di lapangan. Untuk As Ketinting kita kirim ke Luwu Sulawesi dan Raja Ampat Papua. Saya dengar Semen Indonesia punya pabrik juga di Vietnam. Kalau ada kesempatan, produk saya juga bisa masuk. Di sana kan juga banyak sungai dan perahu,” harapnya. (*)

    Facebook Comments

    Leave a reply