0800 1088888  EN

    Proyek WHRPG Pabrik Tuban – Mengurangi Emisi, Mendulang Energi

    news / 22 Oktober 2014

    Han ini, Rabu (22/10) dilaksanakan Ground Breaking pembangunan Proyek Pembangkit Listrik Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) di Pabrik Tuban. Pembangkit listrik yang memanfaatkan panas gas buang sisa pembakaran itu ditarget rampung pada akhir 2016 mendatang.

    SebuIan ini, Bambang Tridoso dan timnya yang tergabung dalam Proyek Peningkatan Kapasitas Pabrik Tuban (P2KPT) dibikin pulang larut malam. Makin dekatnya pelaksanaan Ground Breaking proyek WHRPG menjadi penyebabnya. Sebagal orang yang paling bertanggungjawab dalam proyek ini, Bambang harus memastikan detil semua persiapan dan pembangunan proyek. Apalagi WHRPG bakal menjadi proyek vital andaIan perusahaan. “Sebenarnya sejak jauh hari sudah kita terus monitoring dan persiapkan. Hanya saja, sebulan ini lebih intens,” terang Bambang yang juga membawahi 11 proyek lain yang terkait peningkatan kapasitas di Pabrik Tuban I—IV.

    Diterangkannya, selain ground breaking, sekaligus dibarengkan dengan syukuran selesainya up grading cooler Pabrik Tuban Il. Dimana, sistem cooler di Tuban lI diganti dari tipe lama yakni cooler CFG menjadi cross bar cooler. Teknologi yang lebih cepat dalam proses pendinginan sekaligus miliki life time yang lebih lama. Proyek up grading ini dikerjakan selama sebulan, berbarengan dengan overhaul yang dimulai 11 Agustus sampai 10 September lalu. Sebetulnya, Pelaksanan tie-in Cross Bar cooler direncanakan 45 hari tetapi tim proyek bisa menyelesaikan dalam waktu 37 han fire to fire. Diharapkan Kiln Tuban 2 bisa naik kapasitas produksi clicnker menjadi 9000 tpd.

    Selain jajaran Direksi Semen Indonesia, acara ini juga dihadiri Duta Besar Jepang Mr Yasuaki Tanizaki. Bagi sang dubes, acara ini juga menjadi kado tersendiri baginya karena pada 20 Oktober lalu berulang tahun yang ke-63. Proyek ini memang buah kerjasama dengan Pemerintah Jepang. Khususnya dalam realisasi Protokol Kyoto yang diratifikasi Indonesia ke dalam undang-undang perubahan iklim. Ditargetkan, emisi gas rumah kaca untuk industri semen mencapai 12 persen pada 2020 atau 744 kilogram/ton semen dan sebelumnya 852 kilogram/ton semen. Bagi pabrik šemen baru, emisi gas Karbondioksida (C02) menjadi 667 kilogram/ton semen. Di proyek WHRPG Tuban, pengurangan emisi gas buang C02 yang dihasilkan nanti cukup besar yakni 122,358 ton CO2 emisi per tahun.

    Di setiap industri semen, gas buang ini tak bisa dielakkan. Ini adalah gas panas sisa tungku pembakaran yang dikeluarkan lewat pre heater dan cooler. Batas baku mutu gas buang yang ditolelir ofeh aturan adalah sekitar 80 mg/normal meter kubik. Semua pabrik milik Semen Indonesia, sejatinya sudah jauh di bawah angka itu. Ini berkat pemanfaatan sebagian gas buang itu untuk proses produksi raw mill. Meski begitu, kondisi ini tak lantas membuat perseron berdiam diri berinovasi. Apalagi, ada teknologi yang memungkinkan untuk mengubah exit gass itu menjadi energi listrik.

    Gayung bersambut. Komitmen ini ditangkap Pemerintah Jepang yang diwujudkan dalam dukungan teknologi dan skema bantuan pembiayaan meialui Joint Crediting Mechanism (JCM) subsidy. Dimana, Jepang memberi kan subsidi sebesar 1,06 milyar yen dan total nilai main equipment yang senilai 2,7 milyar yen. Proyek ini sendiri menelan dana sebesar Rp 638 miliar. Dengan begitu, emisi mampu dikurangi, energy listrik pun didapat.

    Secara sederhana, energi listrik yang dihasilkan bisa dijelaskan sebagai berikut. Gas buang yang dihasilkan dari tungku pembakar Pabrik Tuban I sampai IV ditangkap lewat delapan boiler. Exit gas dan pre heater dinamakan SP Boiler dan AQC Boiler untuk menangkap gas buang dan cooler. Selanjutnya, delapan boiler ini menghasilkan tenaga uap atau panas sebesar 400 derajat celcius.

    Cukup untuk menggerakkan turbin dan menghidupkan generator. “Cara kerjanya kurang lebih sama seperti PLTU. Hanya saja, kita tak pakai batu bara atau BBM untuk hasilkan tenaga panas ìtu/’ pungkasnya. (ram/znl)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply