0800 1088888  EN

    PR Harus Luwes, Never Stop Learning, dan Mampu Rangkap Tugas

    komunitas, news / 23 March 2018

    [:id]Ada anggapan seorang public relation (PR) harus multitalenta dan bisa menjalani beberapa pekerjaan sekaligus dalam satu waktu. Tidak terlalu keliru, karena begitulah yang dialami para Icon PR berikut ini. Mereka adalah Yunita Virdianti (Pemkot Tangerang), Karlina Gusmarani (PPTTG LIPI), Akhmad Zulkifri (Len Industri), serta Sigit Wahono (Semen Indonesia).

    Empat sosok PR terbaik tahun 2017-208 versi Majalah PR Indonesia ini membagi pengalaman mereka dengan mahasiswa Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) di Auditorium Kampus B, Kamis (22/3). Yunita Virdianti berkisah, dalam keseharian dia kerap mengerjakan beberapa tugas secara bersamaan.

    “Antara nulis buku, bikin rilis, dan nerima tamu saya lakukan sekaligus. Pertama-tama memang repot, tapi kalau sudah biasa ya nggak apa-apa. Yang penting jangan anggap itu sebagai beban, tapi tantangan,” papar Yunita, Kasubbag Pelayanan Informasi, Humas dan Protokol Sekda Pemkot Tangerang.

    Hal sama dialami Karlina Gusmarani yang sehari-hari menjadi humas Pusat Pengembangan Teknologi Tepat Guna Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPTTG LIPI). Perempuan mungil ini mengakui, untuk menjadi PR mumpuni butuh jam terbang. Termasuk dalam meng-handle aneka pekerjaan. “Ya nerima wartawan, tukang foto, bahkan saya sering juga jadi MC,” terang dia.

    Di sebuah lembaga, baik pemerintah maupun swasta, PR atau humas merupakan ujung tombak. Dia berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan kepentingan tempatnya bekerja dengan seluruh stakeholder. Karena itu seorang PR dituntut harus luwes, menguasai masalah, dan tentu saja mempunyai kemampuan persuasif.

    “Komunikasi itu universal, contohnya saya yang berlatar belakang Teknik Kimia bisa terjun ke sini. Pemilihan tenaga humas di sebuah organisasi itu cukup kompleks, tidak bisa hanya dilihat dari latar belakang pendidikan. Kadang ada hal-hal lain yang dilihat untuk memutuskan seseorang cocok di humas,” jelas Sigit Wahono, Kabiro Corporate Activity Semen Indonesia.

    Dia menegaskan, seorang PR never stop learning, tentang apa saja. Sebab dia harus menampung seluruh informasi yang terjadi di perusahaan, sekecil apa pun. “Bahkan ikan mati di Telaga Ngipik pun selalu dikomunikasikan dengan saya. Kenapa, karena humas itu ujung tombak perusahaan. Ketika masyarakat ingin mengetahui informasi tentang perusahaan, maka yang dicari pasti humas,” ucapnya.

    Saking vitalnya tugas yang diemban, Sigit mengungkapkan seorang PR harus selalu meng-update informasi. Tidak melulu informasi di internal perusahaan, bahkan isu-isu politik juga perlu diikuti. “Bagi humas, yang nomor satu adalah kepentingan perusahaan. Apa pun kepentingan manajemen, walau kadang tidak sesuai dengan pendapat pribadi kita, itu wajib didukung,” beber Sigit dalam kegiatan bertajuk ‘Sharing Session Roadshow Icon PR Indonesia 2017-2018’ yang diikuti puluhan mahasiswa UISI ini.

    Akhmad Zulkifri, PR Executive PT Len Industri, punya pengalaman lain. Len Industri belum banyak dikenal orang. Maka itu, sampai sekarang pihaknya terus mensosialisasikan BUMN yang tergabung dalam Kelompok Industri Strategis atau National Defense and HighTech Industry (NDHI) itu.

    “Kami membuat kampanye ‘Karya Anak Bangsa’ untuk menyampaikan kepada masyarakat mengenai peran vital BUMN dalam membangun negeri, dalam hal ini peran vital Len. Banyak hal yang kita kira buatan asing, ternyata adalah karya anak bangsa sendiri,” kata dia.

    Beberapa karya Len adalah sistem persinyalan kereta api di 128 stasiun di seluruh Indonesia, termasuk kereta bandara dan kereta antar terminal (APMS) di Bandara Soekarno-Hatta.

    Selain itu, sebanyak 8 buah CMS Mandhala (Combat Management System) telah terpasang di KRI milik TNI dan 734 Manpack Radio VHF merek Len telah digunakan oleh Kementerian Pertahanan.

    Di luar itu, Len adalah produsen modul surya pertama dan terbesar di Indonesia. “Produk-produk anak bangsa bisa disaingkan dengan produk dunia. Tapi sayang masih jarang yang tahu tentang Len. Adalah tugas PR untuk mengkomunikasikan itu semua kepada masyarakat,” papar pria asal Jakarta ini.

    Pada kesempatan sama, Direktur Kerja sama Pemasaran dan Komunikasi UISI Hadi Cahyono mengaku senang kampusnya dikunjungi para PR terbaik di negeri ini. Sharing session ini besar manfaatnya bagi mahasiswa sebelum terjun langsung ke dunia kerja.

    “PR ini profesi yang sangat menantang. Karena apa, kalau sebuah perusahaan untung besar, PR-nya tidak pernah disebut. Tapi kalau lagi ada masalah, yang disuruh maju itu PR,” tukas Hadi. (lin/bwo/jko)[:]

    Facebook Comments