0800 1088888  EN

    Peringati Hari Pendidikan, Semen Indonesia Berbagi Ilmu di PBNU

    news / 6 May 2014

    DSC01538

    Melalui kegiatan road to campus dalam rangka sharing knowledge guna mendorong sinergi antara perusahaan dengan perguruan tinggi dalam peningkatan kualitas pendidikan di perguruan tinggi serta sosialisasi keberadaan perusahaan, telah dilaksanakan bedah buku Road To Semen Indonesia di Unhas, Unair, ITS dan Unand. Rupanya tidak hanya pihak perguruan tinggi yang ingin mendapatkan sharing knowledge tersebut.  Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Pusat Pemberdayaan dan Transformasi Masyarakat (PESAT) Foundation bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional, mengundang Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang merupakan penulis buku Road To Semen Indonesia untuk membedah buku tersebut di kantor PBNU pada hari Jum’at 2 Mei 2013. Tujuan acara tersebut dalam rangka pencerahan bagi kalangan nahdliyin tentang pentingnya keberadaan industri, khususnya BUMN dalam rangka peningkatan perekonomian Indonesia dan partisipasinya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada acara tersebut dihadiri oleh Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj dan jajaran pengurusnya. Sedangkan sebagai pembahas adalah KH Hasyim Muzadi (mantan Ketua Umum PBNU/Sekjen International Conference of Islamic Scholars), Prof. Dr Rahadi Ramelan (Mantan Menteri Perindustrian/Kepala Bulog), DR. H. As’ad Said Ali (Wakil Ketua Umum PBNU), Dr. Ahmad Kholis Hamzah (Pakar Ekonomi UNAIR) dan Muhammad Baqir (Jurnalis Harian Kompas).

    Pada sambutannya, Ahmad Millah Hasan selaku Ketua Pelaksana/Direktur PESAT Foundation mengatakan “PESAT merupakan lembaga yang dibentuk untuk mewadahi para intelektual muda NU yang belum seluruhnya tertampung di lembaga struktural NU”. “Anak-anak muda NU memiliki semangat yang tinggi dengan ide-ide perubahan yang dimiliki perlu diberikan tempat agar dapat berkontribusi bagi pembangunan bangsa”,  ujar Ahmad.

    Sedangkan Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj pada sambutannya bangga dengan lahirnya Semen Indonesia yang mampu menyatukan Semen Padang, Semen Gresik dan Semen Tonasa melalui sinergi yang telah dilaksanakan. “Kami mengapresiasi langkah yang diambil Pak Dwi dalam menyatukan tiga perusahaan semen terhitung cepat dan penuh konsekuensi. Kita semua jadi bangga, sudah barang tentu beliau memiliki kemampuan yang luar biasa dalam hal merealisasikan ide-idenya,” kata Said.  “Namun, pertumbuhan ekonomi belum diikuti dengan pemerataan, bahkan kekayaan hanya dikuasai oleh segelintir orang, sehingga pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup tanpa adanya pemerataan”, ujar Said.

    KH Hasyim Muzadi juga menyoroti pembangunan yang pesat namun tidak diiringi pemerataan dan ekonomi hanya dikuasai oleh sedikit golongan  saja. “Yang paling menyedihkan pemerataan jauh dari yang kita harapkan, terutama di sektor ekonomi” tuturnya. Ketidakadilan dikatakan dapat menghancurkan tatanan kehidupan sosial dan membuat negara ini mengalami kemunduran. “Keadilan itu harus merata di semua bidang. Kelemahan inilah yang membuat kita mundur,” kata Hasyim. Penting bagi umat Islam untuk menatap masa depan, dan menerapkan sosio justiceyang hampir setiap Jum’at kita dengar sebagai materi yang selalu dibawakan oleh khotib. Sudah saatnya Islam di Indonesia bicara tentang pabrik, tenaga kerja dan lainnya. Karena tanpa social justice maka tidak akan ada social welfare.

    Sebagai pembahas kedua, Rahadi Ramelan menyatakan mengetahui betul konflik di Semen Padang karena saat itu masih menjadi Menteri. Penugasan Pak Dwi di Semen Padang sangat tepat, karena memang disitu paling krusial. Terkait Visi kedepan PT Semen Indonesia dan setelah penyatuan 3 BUMN semen yang masing-masing memiliki branding sendiri-sendiri, maka pertanyaannya adalah “Apa strategi yang akan diterapkan oleh Pak Dwi untuk branding PT Semen Indonesia dengan berbagai kultur yang ada, yakni Jawa, Sulawesi, Sumatera, dan Vietnam. Multikultur bisnis dinilai penting di era globalisasi. Nilai budaya bahkan sangat menentukan keberhasilan perusahaan, “ kata Rahadi.

    Ada yang menarik dari paparan pembahas Muhammad Baqir, sosok yang saat konflik di Semen Padang bertugas sebagai koordinator Kompas di Medan yang membawahi Sumatera Barat. “Untuk mengetahui akar masalah di Semen Padang, saya menugaskan salah satu staf sebulan penuh untuk memantau demo-demo penolakan RUPSLB 2003. Tanah ulayat adalah akar persoalan dan harus diantisipasi agar dimasa depan tidak menjadi pemicu tuntutan serupa”, kata Baqir. Saat ini banyak perubahan manajemen di BUMN dengan berbagai strategi yang menjadi ciri khas masing-masing Dirutnya. Sebagai contoh strategi terhadap Serikat Pekerja ternyata berbeda-beda, seperti di PELNI, Kereta Api, Pelindo II. Ketiga BUMN tersebut berkembang pesat dengan berbagai strategi yang dibawa oleh Dirutnya. “Namun dari ketiga contoh BUMN tersebut, strategi yang dibawa oleh Pak Dwi lebih baik, karena Pak Dwi meletakkan serikat pekerja sebagai mitra dan beliau mau mendengar,” ujar Baqir.

    Baqir melanjutkan bahwa untuk memperkuat seluruh BUMN dimasa mendatang, terobosan dibidang SDM juga harus diperhatikan. Sulitnya birokrasi mendukung program pemerintah, maka Pemerintah saat ini sudah  membuka kesempatan masuk Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja untuk posisi yang tinggi. Tidak semua BUMN siap berlari saat ini, sehingga butuh SDM yang sudah siap untuk berlari.

    Sedangkan Ahmad Kholis Hamzah mengatakan sudah saatnya Semen Indonesia untuk high profile agar dunia tahu. Sosialisasi harus semakin digencarkan dengan memperkuat kinerja PR perusahaan. Sebagai perusahaan global, maka Semen Indonesia juga membutuhkan Global Corporate yang dibangun sejalan dengan global talent dibidang SDM.

    Facebook Comments

    Leave a reply