0800 1088888  EN

    Pembangunan pabrik Rembang dan Indarung VI – Strategi Semen Indonesia Pertahankan Market Leader

    news / 7 Mei 2014

    PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMI), kini tengah mengembangkan proyek Indarung VI di Padang. Rencana pengembangan itu, sebagai salah satu strategi mempertahankan posisinya sebagai market leader di industri semen nasional. Strategi itu, juga berkait dengan pengembangan proyek di Rembang degan kapasitas produksi 3 juta ton per tahun. Dua proyek tersebut, bernilai investasi Rp. 7 triluin.

    Guna merealisasikan proyek Indarung VI, SMI tengah mengupayakan pinjaman antara Rp 2 triliun hingga Rp 3 triliun. Pembicaraan dengan pebankan dalam begeri, juga sudah dilakukan. Diharapkan, pinjaman itu bisa terealisasi tahun depan. “Penarikannya baru bisa dilakukan tahun depan,” ujar Dirut SMI Dwi Soetjipto, kepada wartawan di sela acara Kartini Award di Grand Cirt Surabaya, Sabtu (26/4).

    Sebelumnya, SMI melalui PT Semen Gresik (SG) sebagai salah satu anak usaha, mendapat fasilitas non cash loan senilai Rp 1.4 triluin dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Fasilitas berjangka waktu 42 bulan itu, akan digunakan untuk kelancaran pabrik Rembang.

    Dirut memaparkan, fasilitas non cash loan Rp 1,4 triliun itu, untuk sementara masih belum dipakai. Untuk pengembangan proyek di Rembang, SMI masih memiliki dana internal. Gambarannya, ending capital tahun 2013 lalu masih mencapati Rp 4,2 triliun. “Itu yang bisa kita pakai. Sementara yang Rp 1,4 triliun itu belum tentu kita pakai sekarang dan sifatnya hanya untuk cadangan,” ujarnya.

    Tahun ini Semen Indonesia menargetkan kapasitas produksi sebesar 31,8 juta ton. Sampai tahun 2017, target tersebut meningkat hingga 40 juta ton. Pemenuhan target tersebut akan ditunjang dengan beroperasinya Pabrik Rembang dan Indarung VI yang masing-masing berkapasitas 3 juta ton.

    Sebagai holding, perseroan memiliki fasilitas pendukung yang memadai dalam pendistribusian semen. Diantaranya, cement mill sebanyak 22 unit, packing plant 23 unit, serta 11 pelabuhan khusus yaitu di Belwan, Teluk Bayur, Tuban, Gresik, Biringkasi, Dumai, Ciwandan, Banyuwangi, Sorong dan dua pelabukan di Vietnam.

    Disinggung soal persaingan pasar, Dirut memaparkan, beberapa tahun ke depan peta persaingan kian ketat. Ini karena banyak pabrik pemain baru yang menambah kapasitas.

    “Karena itu, kita masih harus hati-hati jika bicara soal kenaikan harga. Kami juga tidak mau kehilangan market”.

    Diakui, di kuartal pertama tahun ini, demand masih rendah karena kendala cuaca. Jika semula asumsi kenaikan itu enam persen, karena kendala tadi kenaikan itu hanya terealisasi 3,5 persen. Memasuki Maret, tren itu kembali naik dengan pertumbuhan 8,5 persen. Tetapi April, tren itu kembali menurun karena aktivitas Pemilu. “Ini karena tukang-tukang (pekerja konstruksi) banyak yang harus pulang kampung.”

    Dari berbagai sektor, properti diakui masih dominan. Jika diprosentase, sektor itu masih mampu memberikan kontribusi hingga 78 persen. Setelah itu, disusul infrastruktur.

    Dirut tetep optimis, meski persaingan ke depan akan ketat, SMI harus tetap menjadi leader dengan meningkatkan data saing. Mulai dari kapasitas produksi yang sangat memadai, serta harus menjadi perusahaan yang paling efisien.

    “Packing plant misalnya, kami sudah memiliki di 22 tempat. Begitu juga dengan brand image.”

    Yang juga penting, pasar bebas ASEAN di tahun 2015 mendatang, juga menjadi momentum SMI untuk tidak sekedar mengamankan pasar dalam negeri, tetapi juga di luar negeri

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply