0800 1088888  EN

    Pecahkan Rekor, Packing Plant Mamuju Hanya Telan Biaya Rp. 68 M

    news / 24 September 2014

    Mamuju, salah satu Kabupaten di Sulawesi Barat menggoreskan catatan penting dalam perjalanan Semen Indonesia. Khususnya dalam pembangunan packing plant. lnilah packing plant termurah yang pernah dibangun di Indonesia. Total investasi yang dikucurkan untuk proyek ¡ni ‘hanya’ Rp 68 miliar. Jauh di bawah angka pasaran yang berkisar Rp l00 miliar sampai Rp 120 miliar.

    Kendati dana yang dibutuhkan cukup murah namun bukan berarti kualitas packing plant ini murahan. Kecanggihan teknologi dan fasilitas yang dimiliki tak kalah dengan yang bangunan sudah ada. Packing plant Mamuju miliki kapasitas 450 ribu ton semen per tahun. Fasilitas yang dimiliki diantaranya satu buah silo penyimpanan berkapasitas 4.000 ton. Dilengkapi juga dengan satu line rotaly packer berkapasitas 2.400 kantong/jam dan satu line curah dengan kapasitas 120 ton/jam. Dermaga yang tersedia bisa disandari kapal dengan kapasitas 8,000 DWT. “Ini memang biaya termurah yang kita keluarkan untuk sebuah packing plant. Jauh di bawah dari nilai ¡nvestasi yang biasa kita keluarkan selama ini,” terang Ahmed Veival, Ketua Project Management Semen Indonesia.

    Menurut pegawai eselon satu ini, ada sederet sebab yang membuat proyek Mamuju ini begitu hemat. Pilihan lokasi menjadi salah satu penyumbang terbesar yang mampu menggerus besarnya pengeluaran. Untuk Mamuju, terang Veival, biaya yang dibutuhkan buat pembebasan lahan seluas 8.000 m persegi sebesar Rp 1,5 miliar. Dengan luas yang sama, di daerah lain sedikitnya dibutuhkan dana Rp 2,5 M sampai Rp 3 miliar.

    Tak hanya lahan yang masih murah. Pilihan lokasi juga ciamik. Packing Plant Mamuju terletak di bibir pantai dengan kedalaman 8 meter. Kondisi ini memberi dampak besar pada pos anggaran pembangunan dermaga. Dan alokasi Rp 30 miliar yang biasa dibutuhkan untuk dermaga sandar kapal 8.000 DWT hanya dihabiskan tak sampai setengahnya atau hanya Rp 13 miliar. Kenapa bisa murah? Karena kedalaman laut di bibir pantai sudah cukup dalam sehingga tak perlu membangun belalai dermaga terlalu masuk ke dalam, Cukup? Belum. Desain Silo juga mampu menekan pengeluaran. Di Mamuju, pembangunan Silo hanya membutuhkan dana Rp 21 miliar hemat Rp 4 miliar dan yang biasa dibangun selama ini. “Semua ini merupakan buah dan kerja keras dan kecermatan dalam perencanaan serta feasibility study,” lanjut Veival.

    Kadep yang bertugas dalam pembangunan packing plant se Indonesia ini memastikan akan mengadopsi keberhasilan Mamuju ini dalam menyusun standarisasi desain pembangunan packing plant berikut. Seperti dalam pembangunan silo, desain bangunan packer hingga desain dermaganya. Salah satu yang saat ini sedang dimatangkan, lanjut Veival, adalah desain bangunan packer. Selama ini, bangunan ini dibangun lima tingkat dan terpisah dengan Silo.

    “Sedang kita matangkan untuk dijadikan dua tingkat dan menyatu dengan Silo. Tentunya akan menekan anggaran,” bebernya. Meski begitu, Veival mengingatkan bahwa apa yang terjadi di Mamuju tak serta merta bisa diterapkan di daerah lain. Soal lahan dan dermaga misalnya. Tentu saja, nilai di tiap daerah juga berbeda. Begitu juga dengan kedalaman lautnya. “Penentuan lokasi ini juga kan berkoreasi dengan strategi pemasaran kita. Bisa saja, nilainya berlipat-lipat dan itu tetap kita ambil karena pertimbangan strategi pemasaran,” urainya.

    Dengan beroperasinya pack¡ng plant Mamuju, total Semen Indonesia sudah miliki 24 Pabrik Pengemasan yang menyebar di seluruh Indonesia. Khusus untuk Kawasan Indonesia Timur, pack¡ng plant Mamuju ini memperkuat barisan packing plant yang sudah ada diantaranya di Biringkassi Pangkep, Makassar, Bitung, Palu, Ambon, Kendari dan Sorong.Direncanakan pada 2015, total packing plant yang akan beropera si mencapai 28 pabrik. (ram/znl)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply