0800 1088888  EN

    Pasar Jatim Tumbuh 8 Persen, Semen Gresik Semakin Kokoh Tak Tertandingi

    news / 20 October 2014

    Kompetitor boleh saja datang dan mengepung pasar. Tetapi, Jawa Timur secara  tradisional masih menjadi pasar terbesar Semen Gresik. Di wilayah ini, dominasi produk Operational Corporate (OpCo) Semen Indonesia Grup ini makin kokoh tak tertandingi. Direktur Komersial Semen Gresik Aunur Rosyidi mengatakan penjualan Semen Gresik untuk area Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan Gresik menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Hingga September 2014 penjualan Semen Gresik area ini mencapa 1,17 juta ton atau meningkat 8 persen dibanding periode tahun yang sama yakni sebesar 1,08 juta ton.

    Aunur Rosyidi menambahkan bahwa peningkatan penjualan Semen Gresik terjadi di Sidoarjò yang mencapai 327.51 ribu ton atau naik 21 persen dibanding tahun lalu sebesar 270.43 ribu ton. Kenaikan itu dipicu meningkatnya geliat pembangunan perumahan yang sedang gencar-gencarnya. Sedangkan penjualan di Gresik sebesar 251.77 ribu ton, meningkat 15 persen dibanding tahun lalu sebesar 218.076. Penjualan di Mojokerto naik tipis di angka 162.756 dibanding tahun lalu 157.973 atau naik 3 persen. Sedangkan Surabaya penjuaIan Semen Gresik turun 3 persen menjadi 429.030 dibanding tahun lalu 439.005. “Secara keseluruhan sampai saat ini peningkatan penjualan di Jawa Timur periode Januari-Agustus mencapai 4,91 juta ton naik sebesar 9.7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4,54 juta. Jawa Timur merupakan penyerap semen tertinggi kedua di pulau Jawa setelah Jawa Barat sebesar 5.22 juta ton,” jetas Aunur.

    Kepala Biro Perencanaan Pemasaran Semen Indonesia (SMI) Suhandik menjelaskan, salah satu kunci sukses dan peningkatan pertumbuhan penjualan itu tak lepas dan upaya terus ‘memanjakan’ para pelanggan dengan berbagal cara. Tujuannya agar semen produk SMI tetap dipercaya konsumen. Dikatakan Suhandik, pencapaian branding produk Semen Indonesia Grup (Semen Gresik, Tonasa, dan Padang) ke benak masyarakat ini juga sebagai langkah antisipasi adanya persaingan dari kompetitor. Apalagi saat ini ada pemain asing yang sudah masuk ke Indonesia, maka mekanisme pasar yang akan berbicara.

    “Saat ini kan pemerintah sudah membuka pintu lebar-lebar ke pada investor asing untuk masuk ke negara ini. Tak ada jaminan kalau pemain asing itu tak mengganggu pasar kita. Tapi dengan upaya pendekatan ke pelanggan, intinya kita masih bisa dipercaya konsumen,” beber Suhandik.

    Masuknya semen asing ke negara ini juga diakui Suhandik masih ada pengaruhnya. Namun bagi Semen Indonesia, hal itu adalah sesuatu yang wajar. Apalagi saat ini sudah memasuki MEA 2015, hal itu tentu ada globalisasi gagasan dalam melakukan transaksi. Namun SMI tetap yakin jika pemerintah saat ini telah melakukan mekanisme untuk terus konsentrasi terhadap pertumbuhan perusahaan di dalam negeri.

    “MEA, AFTA itu tak bisa dihindari, itu jadi tantangan kita. Kita sebagai produsen harus terus care terhadap customer dan kualitas produk kita. Kita juga harus peka terhadap pembangunan di negara kita, saat demand kita meningkat maka kita harus semaksimal mungkin bisa meningkatkan kapasitas produksi semen,” tambah dia.

    Saat ini, market share SMI di Indonesia sebesar 44 perserì. ini tetap menjadikan PT SMI sebagai market leader nasional persemenan. Total produksi SMI sekitar 26 juta ton per tahun. Bahkan demand semen selama dua tahun ke depan akan tetap tumbuh pesat (7-10 persen) dibanding kemampuan pasokan. SMI pun masih yakin bahwa volumenya masih bisa diserap pasar. Sementara untuk Semen Gresik, sampai September tahun ini, market share-nya mencapai 76 persen di Jatim dan untuk Area I Indonesia sudah mencapai 88 persen.

    Pertumbuhan demand toko semakin bertambah tinggi. Kebutuhan untuk semen pun cukup besar, dan untuk memicu investasi, harus banyak toko. Saat ini, toko Semen Gresik se-Indonesia mencapai 25 ribu toko. Ini untuk mendukung konsumsi semen nasional per tahun yang mencapai 70 juta ton. Sementara Semen Gresik mampu memenuhi 26 juta ton per tahun.

    Suhandik juga menjelaskan, di era pemerintahan baru nantinya, terkait dengan pertumbuhan infrastruktur, butuh menyiapkan supply chain yang baik. Bahkan sudah ada pendekatan yang dilakukan perusahaan terhadap seluruh distributor di pulau Jawa, ibu kota negara, pihak swasta, pihak pemerintah (Pekerjaan Umum), REI, hingga kejasa konstruksi.

    “Apapun informasi yang akan digerakan pemerintah baru (Joko wi-JK, red), kita (Semen Indonesia, red) tak mau terlambat dibanding pesaing kita,” aku Suhandik. (war)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply