0800 1088888  EN

    Pabrik Rembang Ditarget Dongkrak Pasar Jabar

    news / 7 August 2017

    [:id]Tarik ulur pembangunan pabrik semen di Rembang hingga ke ranah meja hijau cukup menyita perhatian manajemen Semen Indonesia. Namun demikian, perseroan memastikan kehadiran pabrik semen di Rembang dengan kapasitas tiga juta ton ditargetkan mampu mendongrak pangsa pasar peseroan di Jawa Barat (Jabar) hingga 30 persen.

    “Pabrik yang siap beroperasi nanti diharapkan dapat menyuplai pasar Jabar sebesar 800.000 ton. Meski saat ini kami masih kelebihan produksi, tetapi pada 2021 kapasitas produksi saat ini akan habis,” kata Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Agung Wiharto.

    Apalagi, selama ini perusahaan semen asing cukup gencar untuk masuk ke pasar Indonesia. Total pemain semen di Indonesia 17 perusahaan dengan kapasitas produksi 106 juta ton pada 2017. Dari angka tersebut, kapasitas produksi semen lokal (Semen Indonesia, Semen Bosowa, dan Semen Merah Putin) hanya mencapai 47 juta ton. Sedangkan sisanya merupakan pemain asing, agresivitas pemain asing terdorong oleh besarnya jumlah penduduk Indonesia.

    ”Tetapi, konsumsi semen per kapita kita masih minim. Dengan demikian, kami memiliki peluang tumbuh yang cukup besar,” papar Agung.

    Konsumsi semen di Indonesia baru mencapai 260 kilogram per kapita per tahun. Angka itu jauh tertinggal dibanding Malaysia dengan konsumsi 600 kilogram per kapita per tahun. Sedangkan konsumsi semen di India maupun China masing-masing telah mencapai 2.000 kilogram per kapita per tahun.

    “Makanya, pemain semen terbesar di dunia berbondong-bondong untuk masuk ke Indonesia,” ujar Agung.

    Saat ini, pemain terbesar semen di dunia, yakni Lafarge masuk dengan nama PT Lafarge-Holcim dengan kapasitas produksi 14 juta ton. Kemudian, pemain terbesar kedua dunia secara global, yakni Conch, resmi masuk ke Indonesia tahun ini dengan kapasitas produksi mencapai 1,5 juta ton di Manokwari dan berencana membangun di Manado dan telah memiliki produksi empat juta ton.

    Sementara itu, pemain semen terbesar ketiga dunia, yakni China National Building Material (CNBM) memang belum memiliki pabrik di Indonesia. Namun, CNBM telah memiliki izin lokasi di Grobogan dan Wonogiri. Terakhir, pemain terbesar keempat semen global adalah Heidelberg yang cukup lama masuk di Indonesia dengan nama Indocement dengan kapasitas produksi 25,9 juta ton.

    Kata Agung Wiharto, perseroan terus berupaya menggenjot kapasitas produksi perseroan hingga 2021 untuk mengamankan pangsa pasar.

    “Hingga 2021, perseroan berencana meningkatkan kapasitas produksi di angka 41 juta ton hingga 42 juta ton,”ungkapnya.

    Level produksi tersebut dapat tercapai jika pabrik Rembang beroperasi penuh pada tahun depan. Ada pula pabrik Pidie di Aceh yang akan beroperasi pada 2020 dan pabrik di Kupang beroperasi pada 2021.”

    Jika kebutuhan semen tumbuh sekitar 5 hingga 6 persen per tahun, kami masih bisa bertahan. Tetapi, jika tumbuh cukup agresif hingga 10 persen, kami harus mencari cara lain untuk meningkatkan kapasitas produksi,” papar dia. (*/znl)[:]

    Facebook Comments