0800 1088888  EN

    Momentum Bangun Pabrik Baru, Pasar Asia Timur Dijajaki

    news / 7 Agustus 2014

    Ekonom INDEF Aviliani SE memberi gambaran, meski ekonomi ke depan diprediksi suram, namun prospek menuju pertumbuhan yang tinggi, masih akan terjadi.

    Wanita kelahiran Malang 53 tahun lalu itu, optimistis, kebutuhan semen akan tetap meningkat, karena infrastruktur masih mendominasi, selain pesatnya properti. Sepakat dengan Komisaris PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMI) Mahendra Siregar soal hilirisasi industri semen, Aviliani menyatakan, pembuatan pabrik semen baru, adalah saat yang tepat dalam kondisi saat ini.

    “Tentunya dengan tetap menggarap pasar domestik. Pasar ekspor yang mengarah pada Asia Timur yang harus dijajaki,” ujarnya dalam Seminar Economic Outlook 2015 dan Rapat Kerja Semester 11/2014 Semen Indonesia Group, Juli lalu.

    Yang tak kalah penting , lanjut dia, perubahan untuk kemajuan dunia usaha di Indonesia juga tergantung dengan pemimpin baru bangsa ini. Apakah pemimpin ini berani melakukan perubahan untuk Indonesia agar dunia usaha di Indonesia tetap aman dan maju.

    Secara umum, Aviliani memaparkan, ekonomi dunia cenderung akan tumbuh di bawah negara emerging, dan sumber pertumbuhan ke depan didukung negara emerging.

    “Hal ini karena beberapa faktor yang mempengaruhinya. Diantaranya adalah kondisi ekonomi global versus Indonesia. Seperti faktor demografi. Bahwa negara maju, sebanyak 70 persen penduduknya usia lanjut. Sementara Indonesia 70 persen usia produktif antara 14-64 tahun.”

    Selain itu, penduduk Indonesia ini, 40 persennya merupakan penduduk di Asia (ASIAN Economic Community, red). “Dengan begitu, AEC itu adalah Indonesia dan itu harus bisa diambil atau ditangkap peluangnya,” jelas Aviliani.

    Selain itu, utang terhadap GDP rata-rata di atas 60 persen. Sedangkan Indonesia utang terhadap DGP rata-rata 30 persen. Begitu juga dengan defisit anggaran negara maju yang double digit. Sedangkan Indonesia defisit anggaran negara maksimal 3 persen. Belum lagi masalah penerimaan pajak negara maju
    mengalami penurunan. Sementara penerimaan pajak Indonesia seharusnya meningkat.

    “Ada masalah nasional yang harus d hadapi Indonesia. Yakni deflsit neraca perdagangan, defisit neraca jasa, defisit neraca pembayaran, utang luar negeri swasta yang meningkat, fluktuasi nilai tukar yang masih akan terjadi, suku bunga tinggi masih akan terjadi di tahun 2014, serta tingkat inflasi yang turun namun bila tidak dijaga, berpotensi meningkat,” kata Aviliani, (war)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply