0800 1088888  EN

    MENUJU WORLD CALSS ENGINEERING COMPANY – POTONG KOMPAS DENGAN STRATEGI ATM

    news / 1 April 2015

    Pelan tapi pasti, misi jangka panjang PT Semen Indonesia (Persero) Tbk menuju World Class Engineering Company terus di wujudkan. Dalam hal ini Direktorat Engineering & Project punya peran serta tanggng jawab mengelola dua pilar Semen Indonesia Center Of Engineering Champs (SICC), yaitu Center of Engineering (CoE) dan Semen Indonesia Technical and Consultancy Services (SITCS).

    Ketua SITCS Durain parmanoan menerangkan, ada lima ruang lingkup pekerjaan yang akan di garap lembaganya. Yakni Engineering services, Project (construction) management, project services : project control, QA, dan risk management, plant operation and maintenance (O&M), serta pusat pelatihan dan jasa konsultasi.

    “Kita punya beberapa parameter dan criteria sampai sejauh mana kemampuan kita baru di sebut World class. Saat ini untuk peralatan-peralatan utama kita masih membeli dari luar negeri,” tutur Durain usai Raker SICC di Gedung Utama SMI, belum lama ini.

    Untuk sampai ke sana, sambungnya manajemen perlu mendefinisikan langkah-langkah yang akan di ambil. Misalnya, tahun 2015 ini diharapkan engineer-engineer SMI sudah mampu mengintegrasikan mesin-mesin yang ada di pasar.Mereka paham karateristiknya untuk kemudian merakit peralatan tersebut menjadi pabrik semen terintegrasi. “ Jadi ada produk A produk B, mesin A,B dan C, bisa kita kombinasikan dengan kemampuan mengengineering sehingga jadi pabrik terintegrasi,” paparnya.

    Kemampuan-kemampuan seperti itu harus dikuasai lebih dulu sebelum benar-benar menjadi World Class Engineering Company di 2024. Durain mengatakan, tahun 2024 di harapkan SMI sudah mampunyai equipment utama yang di desain sendiri. Kemampuan itu bisa di pelajari dari sekarang dengan cara memelototi equipment yang dibuat perusahaan lain.

    “Kita tidak bisa memulai dari nol, langkahnya akan panjang sekali. Kita bisa lakukan ATM (aman, tiru, modifikasi), baru kita kembangkan,” jabar mantan Kepala Departemen Litbang dan Jaminan Kualitas Semen Padang ini. Perusahaan-perusahaan maju juga tidak mulai dari nol. Mereka membeli lisensi, mempelajari, kemudian mengembangkan.

    Sebab, Kalau mulai dari nol, setidaknya butuh waktu 30 tahun untuk menjadi perusahaan mapan. Menurut Durain, SMI tidak mungkin melakukan itu. “ini sudah 2015, Cuma ada waktu sekitar 10 tahun lagi sampai 2024,” ujar dia. salah satunya jalan, SMI mesti menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan mapan kelas dunia tersebut.

    Ketika membeli equipment dari mereka, sebut pria kelahiran Simasom, Padang Sidempuan, Sumut ini, Dalam perjanjian di atur harus ada transfer knowledge sampai tahap tertentu. Saat ini SMI sudah mengikat kerjasama dengan FLSmidsth A/S Denmark, sebuah perusahaan manufaktur peralatan dan engineering terbaik di dunia untuk pabrik semen.

    “Kuncinya adalah, seperti apa SDM engineering itu bisa dipenuhi. Karena kalau bukan orang atau kita sendiri, kita didik tiga tahun dan sudah pinter, bisa saja nanti lari mencari kesejahteraan yang lebih bagus. Nah, ini kan harus di-maintain,” terangnya. Durain melanjutkan, saat ini dengan software yang sudah canggih, orang tidak perlu melihat peralatan secara fisik.

    Kalau dia sudah terlatih sebagai engineering berpengalaman, tool pada software sudah bisa menjelaskan semuanya. Setelah itu baru dilihat di lapangan. Soal kerjasama dengan FLSmidtsh A/S Denmark, jelas Durain, pihaknya sudah membuat program-program. Tinggal kurikulumnya yang belum disusun. Nantinya para engineer dari SMI bisa belajar ke sana.

    Kemampuan tenaga ahli SMI dalam mengerjakan sebuah proyek sudah terbukti Rata-rata proyek sudah pengembangkan usaha sudah swakelola, misalnya pabrik Semen Rembang. “Kita kontraktor utamanya, Jadi hanya beli peralatannya, lalu kita ‘Jahit’. Karena peralatan-peralatan iu tidak berasal dari satu perusahaan,” katanya lagi.

    Ini jauh lebih maju ketimbang beberapa tahun lalu. Dulu, beber Durain, kita membangun pabrik dengan cara turn key. “Anda beli peralatan dari saya, Anda duduk manis. Setelah selesai kunci diserahkan, dan Anda tinggal operasikan pabriknya. Sekarang yang seperti itu sudah tidak kita jalankan,” tukasnya.

    Sejak 1996 SMI hanya membeli peralatan-peralatan utama, lalu dirakit hingga jadi pabrik. itu dilakukan dengan menggandeng kontraktor lokal, tapi pengawasannya tetap di tangani insinyur-insinyur SMI. Cuma, karena belum fokus ke sana, porsi pekerjaan engineering itu pasang-surut. “Tahun 1996 porsinya 40 persen, periode berikutnya jadi 60 persen, tapi kadang kembali lagi ke 40 persen. kenapa bisa? karena kita belum define akan menuju peusahaan engineering yang kuat,” tegasnya.

    SMI, imbuh Durain, baru fokus menjadi perusahaan pembuat dan penjual semen. Ke depan fokus itu mesti diluaskan. Satu sisi SMI harus menjaga kemampuannya sebagai market leader semen di lingkup nasional dan regional, Pada sisi yang lain juag punya kemampuan engineering serta manajemen proyek kelas dunia.

    Menurut Durain, SDM dan sistem tata kelola yang dibuat manajemen SMI sebenarnya sudah cukup. Tapi karena belum fokus ke sana, jumlah itu kadang jadi terbatas. “Misalnya ketika proyek Rembang dan Indarung (Padang) kita garap, kita sudah kehabisan SM karena tersedot ke sana,” jelas pria kelahiran 4 Desember 1968 ini.

    Bisa saja merekrut tiga atau empat tenaga ahli, atau membentuk tim khusus untuk menangani proyek. Tapi begitu proyek kelar mereka akan ke mana-mana. Alhasil kompetisi itu pun tidak langgeng. “ Karena orang-orang yang kita ajari sampai pinter itu pergi. Belum tentu pada proyek berikutnya mereka mau kita pakai lagi, karena mungkin sudah menggarap proyek yang lain,” paparnya.

    Kelak, kalau order proyek itu sudah kontinyu, para engineer itu tidak perlu dikeluarkan karena tenaganya terpakai terus. Kalau dulu tidak mungkin menahan orang karena proyeknya kadang ada kadang tidak. Durain menggambarkan, Pada 2025 sampai 2030 kapasitas produksi SMI harus menyentuh 50 juta ton per tahun.

    “Sekarang baru 30 juta per tahun, berarti 20 juta dalam jangka 10 tahun ini harus terus naik. Artinya tiap tahun harus ada proyek, itu perlu orang kan? Nah, sekarang sudah bisa kita mulai rekrut orang. Hitungannya sebelum proyek berikutnya mulai, kita ingin dapat proyek dari luar,” Jelas Durain seraya menambahkan, dengan begitu kompetisi tersebut terus melepat pada SMI.

    Di singgung soal target di 2015, Durain mengatakan SMI harus sudah punya standard pengelolaan proyek maupun pengelolaan engineering yang terintegrasi. Kalau dulu di setiap OpCO ada engineering dan project management, maka mulai 2015 di lakukan standarisasi.  Pengelolaan dilakukan dari sentral alias holding.

    Makanya sekarang engineering dan project managemet sudah tidak ada lagi di masing-masing OpCO. “Setiap OpCO itu kan punya kelebihan masing-masing, baik Tonasa, Padang, maupun Gresik. Semua itu  harus disatukan menjadi kerukunan atau sistem yang dibawa ke holding. Jadi tidak ada lagi istilah itu kemampuannya Padang, itu kemampuannya Tonasa. Yang ada adalah kemampuan holding. konsekuensinya, orang-orangnya juga harus banyak yang bergabung di holding, seperti saya,” beber Durain.

    Dengan hadirnya kompetisi baru ini, apakah SMI harus membentuk parusahaan baru juga? “ akan ada arah ke sana, Cuma untuk saat ini belum terpikirkan. Yang terang, sebagai ketua center of technical and consultancy services, yang harus melayani dan menjual jasa keluar, saya butuh orang marketing dan tenaga pendukung lainnya,” pungkas Durain. (lin)

    Facebook Comments

    Leave a reply