0800 1088888  EN

    Mengenal Budaya Pidie, Tempat Pabrik Semen Indonesia Aceh

    news / 6 May 2016

    195ad0e12f360ca85d1ed556f70906ff

    Sebagai pendatang baru seiring rencana pembangunan pabrik Aceh di Kabupaten Pidie, selayaknya Semen Indonesia dapat beradaptasi dengan budaya lokal. Tentu harus mengenal karakteristik wilayah setempat untuk dapat berdaptasi dengan baik. Seperti kata pepatah ‘tak kenal maka tak sayang’.

    Kabupaten Pidie merupakan salah satu kabupaten di wilayah Provinsi Aceh, dengan pusat pemerintahan berada di kota Sigli. Mayoritas masyarakat kabupaten ini berada di perantauan untuk bekerja. Dari bandara Sultan Iskandar Muda, kabupaten dengan luas wilayah 3082,17 kilometer persegi ini dapat ditempuh menggunakan taksi ataupun kendaraan umum lain dengan waktu tempuh mencapai 2 jam.

    Berbeda dengan kondisi di Jawa, lamanya waktu tempuh ini bukan karena kepadatan jalan namun karena jarak tempuh yang memang jauh. Hal ini pula yang membuat biaya taksi cukup mahal, rata-rata tarif taksi untuk sampai kota Sigli dari bandara di patok Rp 600 ribu. Tarif ini jauh lebih mahal dibanding menggunakan bus atau mobil umum yang hanya Rp 50 ribu. Jalan berkelok akan mewarnai sepanjang perjalanan.

    Dari pusat pemerintahan di kota Sigli, wilayah Kecamatan Muara Tiga dan Kecamatan Batee yang menjadi lokasi pembangunan pabrik memiliki waktu tempuh sekitar 30 menit. Di dua kecamatan ini banyak sapi berkeliaran bebas di jalanan. Karena itu bagi pengguna jalan harus ekstra hati-hati dalam mengemudi lantaran tak jarang koloni sapi ini menutup jalan.

    Kecamatan Muara Tiga terdiri dari 18 desa sementara Kecamatan Batee memiliki 28 desa. Di wilayah ini selain hukum perundangan dan qanun syariah islam juga berlaku hukum adat. Tak sekedar tersirat, hukum adat disini telah tersurat dan tersusun dengan baik. Sementara sebagai pemilik adat yang bertugas untuk menyelesaikan perselisihan ditunjuk seorang tokoh yang dituakan yang menyandang gelar Imum Mukim. Imum Mukim membawahi beberapa desa dalam hal adat. Menyelesaikan perselisihan secara musyawarah hingga tak harus masuk ke ranah hukum perundangan atau pidana. Kecamatan Muara Tiga memiliki 3 Mukim, Mukim Laweung (7 desa), Mukim Cure (7 desa) dan Mukim Kale (4 desa). Keberadaan 3 mukim inilah yang disebut melatarbelakangi nama Kecamatan Muara Tiga.

    Sementara di Kecamatan Batee terdapat 8 Imum Mukim. Tengku Fahrurrozi yang merupakan Imum Mukim Laweung ditemui disela pelaksanaan zikir dan doa bersama persiapan pendirian pabrik Aceh, Kamis (21/4),menjelaskan beberapa hal yang perlu dipahami bagi para pendatang yang hendak masuk ke Pidie khususnya Kecamatan Muara Tiga. Secara garis besar kesantunan dalam bersikap dan bertutur menjadi poin yang harus dijalankan. Silaturahmi dengan tokoh masyarakat dan sikap ramah dengan wajah bersahabat akan membuat pendatang baru dapat diterima dengan cepat.

    “Yang penting itu kesantunan harus dijaga. Pria dan wanita tidak boleh saling bertamu diatas jam 10 malam. Orang sini logat bahasanya keras tapi sejatinya hatinya lembut,”jelasnya. Masyarakat setempat, lanjutnya, akan terlihat acuh saat pertama bertemu. Ini lantaran mereka ingin melihat tata karma dari sang pendatang. “Kalau orangnya ramah pasti dirangkul, namun kalau orangnya selalu cemberut akan tetap diacuhkan. Jaga kesantunan bicara (mulut) insya Allah akan disambut dengan baik,”tambahnya.

    Mayoritas warga di 2 kecamatan ini merupakan nelayan. Sementara sebagian kecil lainnya bertani dan beternak. Dari sisi budaya, nuansa religius islam cukup kental terasa. Zikir menjadi salah satu budaya islami yang cukup mengakar kuat di wilayah ini. Berbeda dengan daerah lain, disini zikir diiringi dengan gerakan-gerakan yang mirip tari saman. Gerakan ini dilakukan agar jamaah dapat lebih meyakini dan menghayati lantunan zikir.“Kami menyebutnya ‘lingiek’. Iringan gerak-gerik ini agar lebih menghayati dan menarik perhatian orang untuk turut melantunkan zikir,”kata Imum bertubuh tambun ini.

    Sementara dari bidang pendidikan, wilayah ini masih tergolong pas-pasan. Tak banyak yang mengenyam pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Imum yang akrab disapa Tengku ini berharap kehadiran Semen Indonesia Aceh dapat turut mengatrol perkembangan pendidikan setempat (bwo)

    Sumber : gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply