0800 1088888  EN

    Masyarakat Penolak Semen Rembang Kunjungi Tuban

    news / 21 July 2014

    Bayangan dampak buruk masyarakat Rembang khususnya masyarakat Kecamatan Tegaldowo tentang pabrik semen, seakan terhapus. Sebanyak 60 warga perwakilan Tegaldowo yang menolak pembangunan pabrik, Senin (7/7) mendatangi Pabrik Tuban. Di sana, mereka melihat secara langsung, terutama kekhawatiran mereka soal cadangan air, debu dan hilangnya mata pencaharian, yang umumnya petani.

    Dengan menaiki satu bus penuh rombongan masyarakat Rembang dipersilakan masuk ke area dalam pabrik sesuai keinginan mereka, seperti surat yang sebelumnya telah dilayangkan kepada perusahaan melalui Biro Bina Lingkungan. Di sana, rombongan melihat secara langsung area waduk penampungan air pabrik di Tlogowaru.

    Selain masuk ke area pabrik, rombongan berkunjung ke Balai Desa Temandang untuk melakukan tanya jawab dengan Kepala Desa Temandang yang didampingi Dinas BP2KP Kecamatan Merakurak, Kabiro Humas dan CSR serta jajaran Biro Bina Lingkungan. Meski serius, acara tanya jawab itu berlangsung hangat. Dalam pertemuan itu, ada titik temu wacana, serta koreksi bagi masyarakat maupun perusahaan untuk menjadi lebih baik di masa mendatang.

    EMISINYA TERENDAH 

    Corporate Secretary SMI Agung Wiharto, mengakui, masih ada penolakan sebagian masyarakat atas proyek Rembang. “Namun ini tantangan bagi kami untuk terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat, ” ujarnya kepada wartawan di sela acara buka bersama di Sutos, Minggu (12/7).

    Yang jelas, selain studi kelayakan, untuk pendirian pabrik itu, perusahaan telah memenuhi 35 jenis perizinan, termasuk Amdal dan hal-hal lain yang berkaitan soal
    lingkungan. Yang istimewa, dibanding pabrik semen lainnya, Pabrik di Rembang peralatannya jauh lebih canggih dan sangat ramah lingkungan. Emisinya, hanya 30 mg/Nm3. Ukuran itu, sangat kecil dibanding pabrik-pabrik semen lainnya, termasuk Tuban, “Yang jelas, kami tetap mengoptimalkan indsutri berbasis
    lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.”

    Soal tenaga kerja misalnya. Agung memberi gambaran, 70 persen akan memakai vendor lokal. “Selain itu, kami akan mempekerjakan 40 ribu orang pada tahap pra konstruksi.” Begitu juga soal lingkungan. Penggunaan air misalnya, Pabrik di Rembang hanya mengandalkan air tadah hujan, bukan air tanah, untuk proses pendinginan mesin produksi. Hal tersebut, sesuai dengan konsep triple bottom line, yakni profit, people, dan planet, seperti yang telah digariskan perusahaan.

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply