0800 1088888  EN

    Manfaatkan Lahan Bekas Tambang Tanah Liat Jadi Keramba Ikan

    Artikel / 15 Agustus 2019

    Kegiatan penambangan sering meninggalkan lahan dengan kondisi marginal. Karena itu pengelolaan lahan bekas tambang seringkali menjadi perhatian banyak kalangan khususnya aktivis peduli lingkungan. Hal ini untuk memastikan kondisi lingkungan tetap terjaga pascapenambangan.

    Pengelolaan dan pemanfaatan lahan bekas tambang yang terstruktur dan terencana sejatinya dapat meminimalisir dampak negatif pascapenambangan. Hal inilah yang selalu menjadi komitmen Semen Indonesia dalam menjalankan operasional penambangan. Baik penambangan batu kapur maupun tanah liat yang merupakan bahan dasar utama pembuatan semen.

    Bagi Semen Indonesia pengelolaan lahan pascatambang tersebut sejalan dengan kebijakan jangka panjang perusahaan yaitu Triple Bottom Line (Profit, Planet and People). Bagaimana meningkatkan pertumbuhan profit, memberdayakan people serta menciptakan planet yang bersih dan sehat. Itu artinya, setiap kebijakan perseroan senantiasa mengutamakan komitmen untuk menjadi perusahaan semen terdepan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

    Taman Kehati Ala Semen Indonesia Group

    Bukti nyata dari komitmen tersebut terlihat dari pengelolaan pascatambang tanah liat di wilayah operasional perusahaan. Di Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Semen Tonasa mengubah lahan bekas tambang tanah liat menjadi Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati). Taman ini dimanfaatkan untuk pemberdayaan masyarakat sekitar perusahaan melalui budidaya ikan nila dengan sistem keramba.

    Pelaksanaan program corporate social responsibility (CSR) perusahaan ini bekerja sama dengan forum desa lingkar ring 1. Taman Kehati adalah lahan bekas tambang tanah liat yang direklamasi untuk penghijauan (konservasi), sebagai bentuk tanggung jawab moril  perusahaan dalam merestorasi lingkungan. Tak cukup sampai di situ, manajemen Semen Tonasa lantas menggulirkan program pemberdayaan masyarakat melalui budidaya ikan nila dengan sistem keramba. Program dengan anggaran Rp 12,5 juta itu dikerjakan selama enam hari, dan pertengahan Mei 2019 keramba ikan di Taman Kehati mulai beroperasi.

    Program serupa juga telah dilaksanakan di Tuban, Jawa Timur, memanfaatkan lahan bekas tambang tanah liat di Desa Tlogowaru, Kecamatan Merakurak. Lahan seluas 8 hektare disulap menjadi embung raksasa yang dimanfaatkan warga sekitar untuk budidaya ikan nila dengan sistem keramba. Launching Program Pengembangan Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Masyarakat Terpadu (PPLHPMT) itu ditandai dengan tebar 50 ribu benih ikan nila, September 2015 lalu.

    Selain untuk budidaya ikan, embung di Tuban juga dimanfaatkan untuk mengairi sawah di sekitar perusahaan. Berkat irigasi yang lancar para petani bisa panen tiga kali dalam setahun, dari semula cuma sekali setahun.

    Sementara di Padang, Sumbar, manajemen Semen Padang bekerja sama dengan Universitas Bung Hatta Padang melakukan konservasi ikan bilih di luar habitat aslinya. Ikan bilih merupakan ikan endemik yang hanya hidup di Danau Singkarak. Di awal 2018, sebanyak 400 ekor ikan bilih dipindahkan dari habitat asalnya ke sungai dan kolam di Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati), Semen Padang, di Indarung, Padang.

    Upaya itu dilakukan untuk menyelamatkan populasi bilih yang terus menyusut karena dikonsumsi. Hasil penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa kondisi alam di Taman Kehati Indarung tidak jauh berbeda dengan daerah Sumpu, Singkarak. (irw/lin/bwo)

    Facebook Comments

    Leave a reply