0800 1088888  EN

    Lewat PT. Semen Tonasa, Semen Indonesia Jajaki Bangun Pabrik di Papua

    news / 8 Oktober 2014

    Sebagai salah satu strategi  mempertahankan market leader di Indonesia Timur, PT Semen Tonasa kini tengah menjajaki pembangunan pabrik di Papua. Pembicaraan ke pemerintab daerah setempat, mulai dilakukan sebelum memasuki tahapan studi kelayakan. Kendala umum yang dihadapi di sana, adalah minimnya infrastruktur pendukung serta tingginya biaya transportasi, yang menyebabkan harga semen di beberapa wilayah Papua, sangat tinggi.

    Untuk memenuhi kebutuhan semen di sana, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMI), telah memiliki satu packing plant di Sorong, yang bahannya dipasok Semen Tonasa. Sementara ini, kebutuhan semen di wilayah itu masih sekitar 500 ribu ton per tahun. Dan jumlah itu, SMI melalui Semen Tonasa, mampu memasok 300 ribu ton per tahun.

    Meski demandnya tergolong kecil, namun Dirut Semen Tonasa Andi Unggul Attas optimistis, potensi pasarnya sangat besar. “Saya yakin, kebutuhan semen akan jauh meningkat jika pasokannya dan ketersediaan semen juga tinggi. Selama ini, pasokan semen di sana kecil karena kendala infrastruktur tadi yang menyebabkan pembengkakan cost di sektor distribusi,” ujarnya kepada wartawan yang tengah melakukan plant tour di Pabrik Tonasa, di Biring Ere, Pangkep, Sulawesi Selatan, Kamis (2/10). Dalam kalkulasi kasar, cost distribusi ini menempati urutan kedua setelah BBM, atau sekitar 15 hingga 17 persen dari total biaya produksi.

    Berapa besarnya investasi yang akan dibenamkan untuk pengembangan pabrik di Papua, Andi belum mengungkap. Namun sebagai gambaran, secara umum untuk membangun sebuah pabrik semen dibutuhkan dana sebesar Rp 3 triliun. Rencana pengembangan pabrik di propinsi paling timur di Indonesia itu, diambil karena beberapa potensi yang dimíliki Tonasa. Selain penguasaan market share hingga 40 persen di wiayah Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan kebutuhan 14 juta ton per tahun, Tonasa juga memiliki deposit bahan baku berlimpah seluas 1.000 kilometer bujur sangkar di Bukit Bulusaraung, Bantimurung, Pangkep, Sulsel. “Sebagai gambaran, kandungan bahan baku seluas itu cukup untuk memasok kebutuhan enam unit pabrik baru,” tambah Fajar Sidik, Kabiro Humas Semen Tonasa. Belum lagi, dengan potensi Tonasa yang kini telah memiliki dua unit power plant. Dengan begitu untuk kebutuhan produksi, Tonasa hampir tidak menggunakan listrik dan PLN, sekaligus efisien. Untuk kebutuhan produksi, hanya dibutuhkan 105 Megawatt.

    Sementara kapasitas power plant yang dimiliki, mampu memasok listnik hingga 120 megawatt. Dalam hal efisiensi, jika menggunakan listnik dan PLN, maka cost yang dikeluarkan sebesar Rp 1.300 per Kwh. Sementara dengan menggunakan power plant sendini, Tonasa hanya mengeluarkan Rp 600 per Kwh. Begitu juga dengan penggunaan bahan bakar alternatif. Tonasa juga memanfaatkan sekam padi sebagai bahan bakar aftematif di luar batubara. Untuk kebutuhan produksi, dibutuhkan sekitar 6 ribu ton bahan bakar per hari. Gambarannya, barga batu bara mencapai Rp 800 ribu per ton. Sementara sekam padi, hanya berharga Rp 300 nibu per ton. “Sehingga soal efisiensi, kami paling hemat dibanding yanglain,” tukas Fajar. (iru/war)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply