0800 1088888  EN

    Kinerja semua Unit Bagus, Dukung Supply Chain yang Handal

    news / 22 March 2018

    [:id]Kinerja bagus di semua unit, akan mendukung supply chain yang handal. Hal ini muncul dalam Pelatihan Supply Chain Management (SCM) di Ruang Accountability, Gedung Utama Semen Indonesia, lantai 4, Rabu (21/03/2018).

    Apapun produk, yang paling terpenting melihat end user. Semen Indonesia bukan pemain tunggal, tapi ada kompetitor, harus membangun satu competitiveness. Value dari competitiveness ini sebenarnya nyawanya strategi, salah satunya adalah produk yang berkualitas tinggi, bahkan unik. Dia melihat, Semen Indonesia sudah di titik maturity, tentunya, perlu upaya bagaimana memperpanjang umur produk.

    “Jika satu competitiveness kita hampir terduplikasi kompetitor, harga juga bersaing, maka switching cost bisa jadi mendekati angka zero. Ini bahaya. Sebab, customer bisa beralih dengan sangat gampang,” kata Adi Djoko Guritno, dosen pasca sarjana Universitas Gadjah Mada.

    “Dalam konteks supply chain ada dua, yaitu business to business (B to B), dan business to customer (B to C). Di Semen Indonesia kan terbanyak B to B, jadi apapun persoalannya, pesan saya kalau akan menganalisis, entah itu strategi, entah mendevelop supply chain, adalah bentuk bisnis. Jadi proses bisnis nanti dulu. Putuskan dulu B to B atau B to C, atau keduanya yang akan kita garap,” katanya.

    Untuk itu, perlu supply chain yang bagus. Meski dikatakan supply chain itu mudah, yaitu rantai urut-urutan. Adi menggambarkan, jika rantai ditarik, mana yang akan putus? Tentu unit yang paling lemah. Artinya, di dalam semua unit harus punya standar kinerja yang mendukung supply chain bagus. Jika tidak, unit terlemah yang akan jadi masalah.

     

    Kata Adi, ada 7 prinsip dalam SCM, yaitu: segmentasi customer. Jika diketahui karakter konsumen, akan mampu membangun services sesuai yang diinginkan. Kata dia, ini cara efektif.

    Kedua, sesuaikan distributor. Distributor kadang hanya sampai batas kota provinsi, dan perlu sub distributor untuk bisa mencapai kota kabupaten. Secara berkala, perlu dilakukan komparasi harga antara distributor dan pihak luar. Kata Adi, ambangnya adalah angka 7 persen, atau sesuai yang ditetapkan direksi.

    “Misalnya, bagian supply chain harus mengomparasikan antara Silog sebagai distributor semen, dengan pihak luar. Jika lebih dari 7 persen, ada baiknya dibicarakan lagi untuk memakai jasa dari luar. Karena ini tidak efisien. Kenapa? Karena dia dapat ‘makan’ dari bapaknya sendiri. Itu yang saya khawatirkan, kalau kita membangun bisnis itu menggunakan vertical diversivication. Jangan-jangan, ini dihidupi dengan cara tidak efisien, sehingga nantinya tidak kompetitif. Monggo “dipenggalih”, ujar dia.

    “Pekerjaan supply chain ini, ujung-ujungnya akan dibandingkan dengan perusahaan lain. Jika semakin lama, semakin mahal dan tidak komptetitif,   akan kena sendiri, wong ini bisnis,” tambah dia.

    Ketiga, dengarkan sinyal pasar. Produk baru bisa diterima pasar apa tidak? Adi mengatakan perlunya memisahkan barang fast moving dan slow moving. Produk fast moving seperti semen harus ada di ujung chain, sedangkan produk slow moving di distributor utama atau dekat pabrik.

    “Semestinya, usai pelatihan ini, mempunyai sensitivitas terhadap masing-masing produk. Benarkah produk ini harus saya kirim secepatnya ke ujung distributor, kalau gak laku berapa risikonya?” tandas dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM ini. “Kelima, sumber trategis. Ke-enam, dukungan mengembangkan strategi, dan ketujuh, mengukur kinerja,” tambah dia.

    Adapun problem supply cain, antara lain integrasi vertikal yaitu kolaborasi dan keterbukaan data antar bagian, memonitor inventaris yang balance, membuat shipping plan (rencana pemngiriman) optimal, dan akurasi forcasting. (ros)[:]

    Facebook Comments