0800 1088888  EN

    Jika Terus Lakukan Efisiensi, SMI Masuk 2000 Perusahaan Terbaik Dunia

    news / 5 April 2016

    Sukses Semen Indonesia dalam melakukan sinergi perusahaan dan ekspansi di Asia Tenggara mengundang apresiasi dari Kementerian BUMN. Dalam road map sinergi BUMN yang diserahkan Kementerian BUMN ke DPR, Semen Indonesia dijadikan sebagai model sinergi BUMN dalam RPJMN pembentukan holding perusahaan.

    Hal tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Usaha Pertambangan Industri Strategis & Media, Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno saat memberikan pengarahan singkat di Ruang Pertemuan Lantai 7 Kantor Pusat Semen Gresik di Tuban, Kamis (10/3).

    Hadir dalam diskusi tersebut Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono, Direktur Utama Semen Indonesia Ir Suparni, serta jajaran direksi SMI dan Semen Gresik.

    Pemilihan Semen Indonesia sebagai model sinergi dan holdingisasi BUMN tersebut lantaran SMI dinilai berhasil dalam menjalankan langkah sinergi dalam menyatukan tiga entitas perusahaan BUMN persemenan. Tak hanya keberhasilan sinergi SMI yaang menjadi perhatian Kementerian BUMN, namun sukses SMI dalam melakukan langkah ekspansi di tingkat Asia Tenggara dengan mengakuisisi TLCC Vietnam juga menjadi harapan tersendiri bagi BUMN.

    Sejumlah keberhasilan tersebut membuat Semen Indonesia digadang-gadang bakal masuk dalam deretan 2000 perusahaan terbaik dunia versi Forbes pada tahun 2019 nanti. Hal ini menjadi bagian dari mimpi BUMN yang disusun dalam road map yang didasarkan pada visi BUMN sebagai agen pembangunan dan penciptaan nilai. Dalam road map Kementerian BUMN, kontribusi BUMN terhadap penerimaan negara ditargetkan bakal mencapai Rp 635 triliun, meningkat dibanding tahun 2015 sebesar Rp 211 triliun. “Selain peningkatan kontribusi pada penerimaan negara, tahun 2019 nanti kita mengharapkan ada 19 BUMN yang masuk dalam daftar 2000 perusahaan terbaik dunia dan salah satunya adalah Semen Indonesia,” bebernya.

    Karena itu, pihaknya berharap agar Semen Indonesia selalu optimistis dan terus melakukan efisiensi dalam mengembangkan usaha di tengah gempuran persaingan yang cukup ketat saat ini. Menurutnya, pada tahun 2030 kelak Indonesia diprediksi bakal masuk dalam 7 besar ekonomi dunia. Pada saat itu, lanjutnya, 135 juta penduduk Indonesia diprediksi bakal memiliki penghasilan yang cukup tinggi.

    Sehingga konsumsi semen juga bakal melonjak cukup tinggi. Untuk mewujudkan mimpi tersebut, sambungnya, Indonesia harus melakukan pemerataan pembangunan, memperbaiki ketahanan pangan dan energi, perbaikan dan penataan infrastruktur, perluasan akses layanan keuangan serta pembangunan SDM.

    Mendorong percepatan tersebut, pemerintah berharap BUMN dapat menjadi akselerator pembangunan dengan membantu pemerintah mengakselerasi proyek-proyek infrastruktur strategis. Harapan ini disematkan pada BUMN lantaran memiliki realisasi belanja modal yang jauh melebihi pemerintah. Semester pertama tahun 2015 lalu, realisasi belanja modal BUMN tercatat mencapai 37 persen. Sementara realisasi belanja modal pemerintah hanya berada dikisaran 11 persen. Agar akselerasi ini dapat berjalan cepat, mantan Dirut Industri Kapal Indonesia (IKI) ini meminta BUMN agar lebih fleksibel dan tidak menjadi birokrasi kedua.

    Pria yang telah malang melintang di sejumlah perusahaan BUMN ini lantas membeber beberapa poin penting dalam membangun dan membesarkan perusahaan. Menurutnya, ilmu dan keberuntungan hanya menjadi bagian dari faktor kesuksesan. Namun yang menjadi poin terpenting faktor kesuksesan adalah attitude atau sikap. “Hilangkan kepentingan pribadi dan bersyukurlah dengan cara bekerja. Ini adalah contoh attitude yang akan membawa perusahaan menjadi besar,”tandasnya.

    Tak hanya attitude, Sumberdaya Manusia (SDM) yang merupakan aset perusahaan harus didorong untuk memiliki moral loyalitas dan kinerja individu yang baik. Dijelaskannya, SDM dengan moral loyalitas baik namun memiliki kinerja individu yang kurang biasanya menempati porsi hingga 50 persen. SDM dengan klasifikasi ini menurutnya patut untuk ditumbuh kembangkan. Sementara SDM dengan moral loyalitas dan kinerja individu yang baik hanya memiliki porsi 10 persen dari total SDM dan harus dipertahankan dan dikembangkan.

    “Nah, SDM dengan moral loyalitas rendah dan kinerja individu rendah ini biasanya jumlahnya mencapai 30 persen. Sementara yang memiliki moral loyalitas rendah dengan kinerja individu baik mencapai 10 persen. Ini yang perlu diwaspadai,” tutupnya. (bwo/ram/lin/znl)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply