0800 1088888  EN

    Jempolmu Harimaumu, Mari Bicara Baik.

    komunitas, news / 12 April 2018

    [:id]Puluhan pegiat media sosial (medsos) dari berbagai daerah di Jateng dan Jatim mendapat pencerahan saat mengikuti workshop yang digelar Semen Indonesia di kafe Teras Kota, Rembang, Jateng, Selasa (10/4). Benang merah dari sharing session itu adalah, bermedia sosial harus hati-hati dan selalu mengedepankan check and recheck.

    Medsos ibarat pedang bermata dua, dalam arti bisa bermanfaat bagi penggunanya, sekaligus bisa mengundang malapetaka bila disalahgunakan. “Kalau dulu ada istilah mulutmu harimaumu, mungkin sekarang ini berubah jadi jempolmu harimaumu. Kenapa? Karena kalau kita sembarang memposting sesuatu, dan kelak terbukti hoax atau merugikan pihak lain, ada konsekuensi hukum yang menunggu kita,” ingat Dede Budhyarto, pemilik sejumlah akun medsos yang postingannya kerap jadi trending topik.

    Kang Dede–demikian panggilan akrabnya—mengakui, medsos membuat penggunanya jadi pintar. Mereka tidak akan ketinggalan isu-isu termutakhir, entah politik, ekonomi, dunia hiburan, sampai berita-berita yang remeh-temeh. Era keterbukaan membuat informasi berseliweran tanpa kontrol.

    “Justru ini yang bisa mengundang bahaya, kalau kita tidak punya kemampuan memfilter. Asal lihat berita menarik langsung disebarkan, tanpa menelisik lebih dulu itu berita hoax atau bukan. Seakan akan kalau posting paling cepat itu jadi juara,” sambung empunya akun twitter @Kangdede78 ini. Menurut Kang Dede, medsos punya daya rusak luar biasa. Karena itu dia berpesan kepada para peserta workshop yang antara lain berasal dari Rembang, Tuban, Gresik, Semarang, Pati, serta Surabaya tersebut agar bijak dalam bermedsos.

    ebagai pegiat medsos dengan puluhan ribu followers, Kang Dede pun sangat hati-hati mengunggah konten. Dia tidak akan menaikkan isu sebelum melakukan verifikasi. Termasuk polemik menyangkut pembangunan pabrik semen di Kabupaten Rembang, Jateng, yang memicu pro dan kontra. “Saya turun sendiri ke lapangan, berdialog langsung dengan warga ring satu dan bertanya apakah keberadaan pabrik semen ini ada manfaatnya, atau malah merugikan? Ketika mereka menjawab banyak manfaatnya, ya itulah yang saya informasikan ke masyarakat,” tegasnya.

    Jelas, postingan tersebut memanen ‘serangan’ dari pihak-pihak yang kontra dengan pembangunan pabrik semen. Tapi Kang Dede bergeming dengan keyakinannya. Bagi dia, kebenaran harus diperjuangkan. Sebab, kebenaran yang tidak pernah diungkapkan akan kalah oleh kebohongan yang disampaikan berulang-ulang. “Karena itu jangan takut menyampaikan fakta. Yakinlah bahwa kebenaranan akan menemukan jalannya sendiri,” beber koordinator tim medsos pemenangan Jokowi pada pilpres 2014 ini.

    Soal manfaat keberadaan pabrik semen di Rembang, Ahmad Humam mengamini pendapat Kang Dede. Pegiat medsos satu ini memang getol mempromosikan potensi Rembang. Pasalnya, dari 15 kabupaten/kota di Jateng yang masuk zona merah kemiskinan, Kabupaten Rembang berada di peringkat lima. “Saya dengar, pabrik Semen Indonesia belum berdiri di sini, dana CSR yang digelontorkan sudah mencapai Rp 12 miliar. Terus terang belum ada perusahaan yang punya kepedulian seperti itu selama ini,” tegasnya.

    Sebab itulah, bila ada yang berkomentar miring tentang pabrik semen Rembang, Humam selalu menyilakan yang bersangkutan datang langsung ke Rembang. Jangan hanya mendengar atau melihat berita negatif dari medsos sudah langsung percaya. “Banyak yang tanya soal pabrik semen, saya suruh datang langsung ke Rembang. Silakan lihat sendiri faktanya,” ujarnya.

    Pada kesempatan sama, Kabiro Corporate Activity Semen Indonesia Sigit Wahono menandaskan, dari waktu ke waktu pengguna medsos terus bertambah. Di Indonesia saja terdapat 132 juta pengguna internet, dan 40 persennya penggila internet. Sedangkan di industri media massa, medsos menjadi kekuatan nomor tiga setelah televisi dan media luar ruang. “Tidak tertutup kemungkinan beberapa tahun kedepan akan jadi nomor satu,” cetusnya.

    Sayang, perkembangan medsos yang cepat itu tidak selalu digunakan untuk hal-hal positif, misalnya berbagai informasi. Masih ada pihak-pihak yang memanfaatkan medsos untuk tujuan-tujuan tertentu. “Dengan diskusi ini, semoga ke depan kita makin arif dalam menggunakan medsos. Terutama soal isu-isu yang terjadi Rembang,” terang dia dalam worskhop yang mengusung tema ‘Mari Bicara Baik, dari Rembang untuk Indonesia’ itu.

    Usai berdiskusi selama tiga jam, para peserta diajak mengunjungi sejumlah UKM mitra binaan Semen Indonesia, antara lain peternak kambing etawa, pembuat rengginang teri serta kopi lelet, juga peternak sapi potong. (lin/znl)[:]

    Facebook Comments