0800 1088888  EN

    Jadi Pembicara, Direktur Utama Semen Indonesia Beberkan Hubungan SMI dengan Media

    news / 11 September 2014

    Langkah jitu memimpin BUMN persemenan dan melakukan pendekatan kepada jurnalis, kembali dibeber Dirut PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Dw Soetjipto. Ini dilakukan dalam The 2nd Workshop CSR dan PKBL yang digelar Serikat Perusahaan Pers (SPS) Rabu (3/9) hingga Jumat (5/9) di Novotel, Surabaya. Dirut yang didampingi Corporate Secretary SMI Agung Wiharto serta Dirut PT Semen Gresik Sunardi Priyonomufti, menjadi pembicara di hari kedua, dengan makalah berjudul “Manajemen Reputasi: Sebuah Pendekatan Strategic bagi Korporasi”.

    Menurutnya, hubungan PT SMI dengan media massa selama ini sangat baik. Ini karena korporasi selalu membangun image yang baik sehingga saat dibuktikan pun, kenyataannya ada. Misalnya terkait kepedulian perusahaan terhadap lingkungan sekitar pabrik, itu dapat dibuktikan dengan penghijauan dan penataan ulang yang sudah dilakukan.

    “Semen Indonesia saat ini sudah berkembang dan menjadi holding yang strategis. Bahkan di bisnis non-semen yang banyak dikembangkan perusahaan, tetap mendukung core business yang ada, Semen Indonesia selalu melihat ke depan dan tak memusingkan hal yang ke belakang. Artinya, Semen Indonesia selalu ingin maju dan berkembang,” tandas Dirut SMI.

    Untuk menciptakan image yang baik, maka SMI ke depan tetap meningkatkan daya saing baik horisontal maupun vertikal. Apalagi untuk memenuhi daya saing itu harus ada komponen terkait kapasitas dengan dukungan utilitas yang baik, cost, distribusi channel dan image. Hal itu semua juga untuk mendukung tercapainya reputation management.

    “Untuk membangun reputasi manejemen, di Semen Indonesia ada tiga pilar, yakni profit, people dan planet. Sementara hubungan antara media dengan korporasi itu ada gab. Dimana korporasi butuh media dan begitu juga sebaliknya, media butuh korporasi. Tentu kita harus mampu menghilangkan gab. Caranya? Tentu dengan personal relationship, respect each other (konfirmasi), issues confirmation sehingga bisa menghasilkan valuable news,” tandas Dirut SMI Dwi Soetjipto.

    Dijelaskan, saat menggabungkan seluruh perusahaan menjadi holding, pihaknya hanya berpikir seperti harus memainkan game apa? Sehingga setelah mampu menjalankannya, lalu harus ada trust, bekerja keras, membangun kinerja perusahaan untuk membangun reputasi korporasi. “Kinerja tidak optimal, karena sinergi tidak jalan. Orang tidak percaya saat holding ini dibentuk dan beranggapan kalau sinergi itu tak bisa jalan. Tapi saya tetap berusaha menjalankan sinergi tersebut hingga semua berjalan. Setelah strategi perusahaan didapat, lalu melakukan mapping perusahaan,”

    Yang perlu kita ingat, lanjut Dirut, leader itu untuk membawa perubahan. Sementara manager, hanya melaksanakan tugas seperti apa yang diharapkan untuk perusahaan. Agar itu tercapai maka dibutuhkan skill communications yang harus terus dilatih. “Kita harus mau susah kalau jadi leader, harus mau menjelaskan sesuatu ke anak buah dan bertanya kepada pimpinan. Saya juga menyampaikan visi kemana-mana, karena visi itu tidak bisa disampaikan hanya sekali saja. Dengan komunikasi itulah, sinergi bisa dijalankan,” bebernya,

    Dirut SMI menyarankan di forum itu, jika memajukan perusahaan tidak boleh mematok target berapa lama dijalankan, tapi harus terus jalan. Begitu juga dengan leader, tak boleh berhenti. Sebab kalau leader berhenti, maka perusahaan yang kacau. Sementara Agung Wiharto menerangkan kiat-kiatnya yang berhasil menggandeng media agar dekat dengan perusahaan. Sebab, antara media dan perusahaan atau korporasi, saling membutuhkan. “Kami lakukan pendekatan terhadap media dan saling terbuka untuk menjalin komunikasi. Bahkan kami juga sering memberikan informasi kepada media tentang kegiatan perusahaan. Dengan kedekatan itu, saat ada sesuatu di perusahaan dan informasi itu diberikan ke media, mereka justru jadi bersimpatik dan enggan memuat pemberitaannya, tandasnya. (war)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply