0800 1088888  EN

    Jadi 104 Usaha Tahun Ini

    news / 11 March 2013

    Kendati tahun lalu gagal total, Menteri BUMN Dahlan Iskan tetap optimis dapat merealisasikan target penciutan (rightsizing) perusahaan pelat merah menjadi 104 BUMN tahun ini.

    “Kami selalu optimmis karena tidak ada alasan [program rightsizing BUMN] untuk tidak disetujui,” ujarnya kepada Bisnis, di Jakarta, Selasa (5/3), tanpa merinci bagaimana caranya merealisasikan target yang tertera dalam Masterplan Kementrian BUMN 2012-2014 itu.

    Penciutan BUMN merupakan reorganisasi sekaligus pemetaan kembali BUMN baik melalui merger, akusisi, divestasi, likuidasi, pembentukan induk (holding), maupun tetap berdiri sendiri. Progam ini ditunjukkan untuk  membuat organisasi bisnis lebih efektif dan efisien (ilustrasi) saat ini jumlah BUMN mencapai 141 perusahaan.

    Tahun lalu, ada 30 lebih perusahaan pelat merah yang masuk ke dalam progam penciutan, dengan target jumlah BUMN tinggal 114 BUMN. namun sampai 31 Desember 2012, tidak satupun jumlah BUMN yang berkurang.

    Beberapa jangkar seperti pembentukan perusahaan induk (holding) BUMN perkebunan, BUMN kehutanan, BUMN farmasi, yang semua target rampung 2012, juga tidak realisasi. Dari lima target penawaran saham perdana, hanya satu yang terealisasi, PT Waskita Karya Tbk.

    Dahlan mengungkapkan bahwa bulan ini Kementrian BUMN akan memulai proses merger BUMN bidang jasa survei, inpeksi, dan konsultasi, yakni PT Surveyor Indonesia dan  PT Suconfindo. Nama baru yang disiapkan untuk BUMN hasil merger itu adalah PT Surfindo (persero).

    Selain itu, dirinya juga sudah meminta manajemen PT Industri Telekomunikasi Indonesia dan pT Len Industri, keduanya BUMN bidang infrastruktur telekomunikasi, untuk segera melakukan konsolidasi sebagai langkah awal penggabungan dua perusahaan tersebut.

    Untuk tahun ini, lanjutnya, progam reorganisasi akan masuk ke level anak dan cucu usaha BUMN. pada tahap awal, Kementerian BUMN mulai mengkaji keberadaan anak dan cucu usaha 12 BUMN yang bergerak di Industri startegis.

    TIDAK SINKRON
    Secara terpisah, Deputi Bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis Kementrian BUMN Achiran Pandu Djajanto mengatakan progam penciutan BUMN tidak bisa berjalan semulus yang direncanakan karena terkendala terutama oleh peraturan yang tidak sinkron.

    Menurut dia, ketidaksinkronan itu secara langsung atau tidak langsung terkait dengan BUMN dan kebijakan sektoral dari berbagai instalansi. Akibatnya, prosedur untuk mendapatkan persetujuan restrukturisasi membutuhkan waktu relatif panjang.

    Untuk itu, jelasnya, perlu sosialisasi intensif untuk menyamakan presepsi rightsizing BUMN, koordinasi antarinstansi, dan penerbitan instruksi presiden tentang  perampingan BUMN, seprti diamat Inpres No.1/2012 tentang Percepatan Pelaksanaa Prioritas Pembangunan Nasional.

    Sementara itu, anggota Komisi VI DPR Ferarri Romawi meminta Menteri BUMN untuk bersikap konsisten dengan target rightsizing BUMN. pasalnya, semakin lama target itu diselesaikan, makin besar pula ongkos yang  mesti dikeluarkan.

    Mengomentari hal ini, Pandu mengungkapkan konsep holding BUMN perkebunan itu sedang difinalkan, pararel dengan proses regrouping BUMN farmasi, yakni PT Indoforma Tbk, PT Kimia Farma Tbk, dan PT Bio Farma.

    Untuk holding BUMN perkebunan akan dibentuk empat subholding bersdasarkan komoditas. “Kalau ini jadi satu, kapasitas pasarnya hampir Rp20 triliun. Holding itu juga bisa dapat pinjaman sekitar 1,5 kali dari total tersebut,” tuturnya.

    Facebook Comments

    Leave a reply