0800 1088888  EN

    Himpunan Keluarga Rembang Jabodetabek – Bantu Damaikan Warga Rembang Sekaligus Jadi Mediator ke SMI

    news / 11 September 2014

    Kisruh atau penolakan atas investasi di Kota Rembang, direspon warga Rembang yang berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Warga Rembang yang tergabung dalam Himpunan Keluarga Rembang (HKR) Jabodetabek, berkeinginan memajukan kota itu dengan menyambut investasi yang masuk, tak terkecuali investasi yang dilakukan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMI). (terkait : investasi semen indonesia)

    HKR Jabodetabek tak ingin Rembang hanya dikenal sebagai kota perdagangan dan jasa saja, tapi lebih dari itu. Mereka juga ingin melihat Rembang maju dengan berbagai industrinya. Dengan begitu, Rembang tak sekadar kota gersang dan kering, tapi Rembang maju sepeti kota-kota lainnya di Indonesia.

    Dewan Penasihat HKR Jabodetabek, Laksamana Madya (Purn) Sugoto dan Tri Pitoyo, pihaknya jengah dengan kabar pemberitaan di media yang mengabarkan masuknya investasi di kota itu, justru membuat warganya saling gontok, saling bermusuhan. Mereka ingin, penerimaan investasi yang masuk di bumi RA Kartini tersebut, berjalan damai dan saling menguntungkan.

    Seperti yang terjadi di Desa Tegaldowo, Gunem, Rembang. Investasi yang dilakukan SMI yang masuk di kawasan itu, sampai saat ini masih terjadi pro dan kontra. Guna menghilangkan pro dan kontra tersebut, HKR Jabodetabek pun merasa wajib untuk turun ke lapangan. Tujuannya untuk menginventarisir apa yang menjadi keinginan atau kebutuhan dua kubu, yang pro dan yang kontra. (terkait : Warga Ring I Pabrik Rembang)

    Sehingga dua hal itu bisa dibicarakan dan dicarikan solusinya dengan baik agar saling menguntungkan. Bahkan hasil dari inventarisir masalah itu, akan disodorkan ke SMI sebagai kajian menyelesaikan masalah yang ada. “Kita jenuh juga membaca pemberitaan jika di tanah kelahiran kami masih terjadi ‘permusuhan’ antar warga. Kita inginkan semua ini ada solusinya agar masalah itu bisa hilang, dan warga bisa hidup dengan damai lagi. Dari pertemuan kita dengan warga yang kontra investasi, kita mendapat masukan jika adanya pembangunan itu, justru membuat warga sudah tak saling sapa. Bagi kami, ini hanya masalah komunikasi saja. Sebab investasi itu bukan sumber dari permusuhan yang ada. Karena itu kami mendatangi dua kubu warga, baik yang pro dan yang kontra,” aku Tri Pitoyo, mantan pemain sepakbola Indonesia Muda yang menjadi cikal bakal berdirinya Persatuan Sepakbola Indonesia Rembang (PSIR), bersama 12 pengurus dan anggota HKR Jabodetabek.

    Dari inventarisir HKR Jabodetabek, kata Tri Pitoyo, hanya ada 10 persen yang menolak investasi itu. Bagi HKR Jabodetabek, hal ini tak bisa dibiarkan, karena jika
    berlarut, bisa saja yang 10 persen itu jadi 50 persen. Karena itu, bagi HKR Jabodetabek, hal yang paling pas saat ini adalah mengakomodir warga di dua kubu. Yakni bisa dengan cara mendirikan koperasi untuk membantu warga setempat. Misalnya dengan bagi hasil, memberi bibit pertanian atau kerjasama peternakan.

    “Kalau warga butuh modal kerja untuk pertanian, peternakan atau apapun, bisa melalui koperasi itu. Sehingga dengan kesibukan yang ada, warga juga bisa menikmati hasilnya. Dengan begitu, warga yang kontra juga bisa diajak kerjasama dan merasakan manfaat dari adanya investasi yang ditanamkan Semen Indonesia di Rembang, khususnya di Kecamatan Gunem. Lagi pula, Semen Indonesia sudah mengantongi 35 izin untuk menjalankan investasinya, jadi mau tidak mau, investasi demi kernajuan warga itu pasti berjalan,” tandas Tri Pitoyo.

    Tri Pitoyo, dihadapan warga kontra investasi, berjanji akan mengusahakan pertemuan antara warga dengan SMI. Sebab, semua hal itu bisa dibicarakan baik-baik untuk mendapat solusi yang saling menguntungkan. Sementara pada pertemuan dengan warga yang pro investasi, HKR Jabodetabek juga menjelaskan berbagai keinginan warga tersebut. (war/znl)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply