0800 1088888  EN

    Gatot Kustyadji – RI HARUS KREATIF DAN INOVATIF KELOLA SDA

    news / 21 April 2015

    b90e5b97614d30dee06b058ddf50af7d

    Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) adalah modal utama utuk membangun sebuah bangsa. Keduannya harus menjadi kombinasi selaras guna mempercepat proses pembangunan. Pengelola SDA secara salah tidak saja membawa kerugian  dari sisi ekonomi, tapi juga berpotensi merusak lingkungan.

    Karena itu, ke depan, SDA Indonesia yang berlimpah harus di kelola dengan kreatif dan inovatif. “Itu yang jadi keunggulan kita di masa depan,” tegas Direktur SDM dan hukum PT Semen Indonesia (Persero) Tbk,. Gatot Kustyadji saat menjadi dosen tamu pada kuliah umum Wawasan Teknolgi dan Komunikasi Ilmiah di Graha ITS, Sabtu (11/4).

    Dikatakan Gatot, Bangsa kita di karuniai SDA melimpah, baik yang bisa diperbarui tau tidak. Kalau semua itu di eksplorasi dan di eksploitasi sebagai bahan baku saja, Maka nilainya tidak akan maksimal. Selain itu, nilai ekonomisnya sangat sensitive terhadap krisis global. Misalnya, sebut Gatot “BBM, yang harganya naik-turun. Gara-gara BBM ini pertamina sampai rugi Rp 2 Triliun. hanya dalam waktu dua bulan, Padahal seumur-umur Pertamina ini tidak pernah merugi.”

    Pengelolaan SDA dengan kreatif dan inovatif bisa melipatgandakan nilai tambah sebuah komoditas. Misalnya buah Kelapa, bisa di olah menjadi beraneka produk seperti minyak kelapa, biodesel, kecap, cuka dapur, nata de coco, briket arang, sampai matras. Begitu pula bijih besi yang nilai tambahnya meningkat sampai 26  kali setelah di olah, atau bijih nikel yang melonjak 400 kali lipat.

    Menurut Gatot, ITS bisa berperan penting  dalam memaksimalkan nilai tamba SDA. “Paling tidak ada empat hal yang bisa di lakukan ITS, yaitu sebagai lembaga pendidikan unggulan dalam penguasaan teknologi SDA,  mulai hulu sampai hilir. lalu, sebagai desaineer dan pelopor terciptanya ketahanan masyarakat dalam pengelolaan SDA,” papar Gatot di hadapan ribuan mahasiswa yang mengikuti kuliah umum tersebut.

    Semen Indonesia (SMI) sendiri, sebagai perusahaan pelat merah dan market leader industry semen tanah air, Mengelola SDA untuk mendapatkan nilai tambah seoptimal mungkin. Hasilnya untuk mencukupi kebutuhan seen nasional, sementara kelebihannya dijualkeluar negeri. Beberapa Negara yang telah dan akan menjadi sasaran penetrasi SMI adalah Malaysia, Filiphina, Thailand, Bangladesh, Myanmar serta Vietnam.

    “SMI harus terus tumbuh agartetap unggul dan menjadi pemenang di Asia tenggara. Saat ini kita sudah ada di Vietnam, dan nanti akan menyusul di Negara-negara lainnya,” ujar lulusan teknik Kimia ITS ini.

    Menjawab pertanyaan mahasiswa tentang pembangunan pabrik semen Rembang yang masih memicu pro-kontra, Gatot mangatakan maslah itu harus dilihat secara integral. Dari sisi regulasi, proyek Rembang sudah tidak ada masalah. “ Seluruh dokumentasi sebagai syarat di lakukanya pembangunan pabrik sudah lengkap. Kalau tidak salah ada 35 jenis izin, termasuk amdal. Untuk konsesi Lahan, dari 1.500 hektare yang kita dapat, dengan berbagai pertimbangan akhirnya hanya kita manfaatkan 500 hektare,” terangnya.

    Lalu, dari segi lingkungan,pabrik Rembang bakal mengganggu cadangan air bawah tanah terlalu berlebihan. pihaknya menjamin hal itu tidak  akan terjadi. Gatot juga tidak sepakat bila pabrik semen dikatakan merusak lahan produktif. “ Semua tanaman relative tidak bisa tumbuh diatas batu kapur  yang jadi lahan baku semen. Kalau Semen Indonesia di tuding merebut lahan pertanian warga juga tidak betul, wong yang kita pakai itu lahan milik perhutani,” katanya lagi

    Bahkan, imbuh Gatot, perusahaan memersilahkan petani yang ingin menggarap lahan yang belum atau bekas reklamasi. “Silahkan ditanami dulu kalau mau. soal kesejahteraan warga Rembang jangan lupa, salah satu izin yang kita dapat itu mensyaratkan perusahaan harus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Ada jaminan mulltipler effect, baru izinya keluar,” tutur peraih gelar doctor bidag SDM dari Universitas Brawijaya ini.

    Akhirnya, dalam kuliah umum yang menghadirkan Patdono Suwignjo, dose Teknik Industri ITS  yang kini jadi sekretaris Jenderal Pendidikan Tinggi (Sekjen Dikti) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaaan (Kemendikbud) sebagai pembicara kedua tersebut, Gtaot optimistis Indonesia akan jadi Negara hebat dengan berbagai kelebihannya.

    “SDA kita melimpah dengan segala variasinya, semua ada di sini. Semua akan terkelola lebih maksimal ketika Indonesia menerima bonus demografi nanti, yaitu ketika julah penduduk di dominasi tenaga muda potensial,” akata Gatot. Tak kalah penting, pengelolaan SDA harus mengikuti prinsip Triple bottom line, yaitu profit, people dan planet.

    “Kinerja keuangan terus tumbuh, lalu mengendalikan dampak negatif  lingkungan, dan terakhir mamaksimalkan dampak positif bagi masyarakat,” jelas Gatot menutup kuliah umumnya.

    Facebook Comments

    Leave a reply