0800 1088888  EN

    Faisal Basri Dorong SMI Tingkatkan Diversifikasi Produk

    news / 10 October 2018

    Industri semen nasional sedang menghadapi fase berat, di mana persaingan merebut pasar diwarnai dengan perang harga yang merugikan semua pemain. Semen Indonesia perlu merancang strategi cerdas agar tidak terus larut dalam kompetisi yang tidak sehat tersebut.

    Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan, SMI harus menggiatkan upaya diversifkasi produk agar bisa menjangkau pasar lebih banyak lagi.  Dia mencontohkan, pertumbuhan penduduk di perkotaan begitu cepat dan inilah yang harus diimbangi dengan produk-produk baru berbasis semen.

    “Proyek infrastruktur harus cepat, tidak boleh menimbulkan kemacetan terlalu lama. Tentunya butuh semen yang cepat kering,” kata Faisal dalam Leader Cafe yang berlangsung di Ruang Synergi, Gedung Utama SMI lantai 4, Gresik, Jumat (5/10).

    Di masa depan, menurut Faisal, setiap jenis bangunan akan membutuhkan semen yang berbeda-beda. Dia pernah masuk ke lorong proyek MRT di Jakarta, dan ternyata semen yang digunakan beda dengan yang dipakai untuk pengerasan jalan. “Ilustrasinya seperti itulah. Jadi mungkin itu yang bisa dilakukan untuk menghadapi persaingan ini,” lanjut dosen pascasarjana FE UI Jakarta ini.

    Dari sisi pemerintah, oversupply yang berlarut-larut mestinya disikapi dengan kebijakan moratorium pabrik semen sampai waktu tertentu. Kapan berakhirnya moratorium harus dihitung dengan cermat untuk mencegah terjadinyashorted.

    Faisal pun menyoroti kasus predatory pricing yang diduga dilakukan perusahaan asal China. Kata dia, kasus tersebut sejatinya bisa diadukan ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). “Kalau terbukti hukumannya berat, dendanya besar sekali. Selama ini belum pernah ada kasus predatory pricing yang masuk ke KPPU, karena pembuktiannya lebih sulit,” tutur Faisal dalam kegiatan yang diikuti ratusan peserta itu, termasuk Direktur Pemasaran dan Supply Chain SMI Adi Munandir, Direktur Enjiniring dan Proyek Tri Abdisatrijo, serta Dirut Semen Gresik Mukhamad Saifudin.

    Di mata mantan ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas ini, masuknya pabrikan semen China ke Indonesia tidak bisa dianggap sebagai bisnis biasa. “Perusahaan semen China punya stamina besar, dan tujuan mereka jangka panjang adalah menguasai perekonomian satu negara lewat sinergi dengan proyek-proyek mereka,” bebernya.

    Karena itu, bagi perusahan asing tadi, rugi di depan tidak masalah. Sebab ada dimensi geopolitik dan geostrategis yang diperjuangkan. Kasus serupa telah menimbulkan masalah di beberapa negara, misalnya Sri Lanka, Bangladesh, Maldives dan beberapa negara Afrika. “Bahwa yang melakukan kolaborasi ini melanggar hukum dan bisa dipenjara. Jadi jangan mentang-mentang dia paling murah dan punya pabrik. Ayolah, kita punya kedaulatan untuk mengatur dalam konteks fairness,” tandasnya.

    Dalam leader cafe kali ini Faisal Basri lebih banyak mengupas kondisi ekonomi makro dan tren industri terkait produk semen. Salah satu yang dia soroti adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Selain faktor eksternal, hal itu juga disebabkan angka impor Indonesia yang lebih ketimbang ekspor. “Melemahnya rupiah membuat kemampuan kita untuk memprodukis juga ikut melemah,” jelas dia. (lin/znl/bwo)

    Facebook Comments

    Leave a reply