0800 1088888  EN

    Efisiensi Bukan Akhir Ikhtiar

    news / 27 Juli 2016

    Efisiensi yang selama ini digadang-gadang menjadi kunci penting memenangkan persaingan, ternyata bukan segalanya. Modal efisiensi saja, tidak cukup kuat untuk bisa menjadikan Semen Indonesia sebagai pemenang di tengah ketatnya persaingan industri semen saat ini. “Efisensi saja tak cukup. Itu hanya satu di antara sederet modal yang kita miliki untuk memastikan menjadi pemenang,” tandas Direktur Utama Semen Indonesia Rizkan Chandar dalam wawancara khusus dengan tim Gapura, awal pekan lalu. “Efisiensi memang penting, Ya! Tetapi itu menjadi dasar bagi tahapan langkah selanjutnya. Jadi nggak boleh berhenti di efisiensi terus kita berharap bisa menangkan persaingan,” tandasnya lebih lanjut. Karenanya, orang nomor satu di Semen Indonesia ini, mengajak seluruh stakeholder perseroan untuk mengubah paradigma; bahwa efisiensi bukanlah akhir dari ikhtiar dalam memenangkan persaingan yang sangat ketat saat ini. “Saya tidak mengatakan efisiensi itu tidak penting. Kebalik. Itu sangat penting untuk modal kita bersaing. Tetapi, jangan sampai berpikir bahwa itu segalanya. Kita, kalau sudah lakukan efisiensi terus bisa juara. Nggak begitu. Ada lagi. Banyak yang harus kita kerjakan untuk melengkapi efisiensi tersebut,” tegasnya. Dirut berdarah Madura ini mencontohkan apa yang terjadi di Nokia. Perusahaan ponsel asal Finlandia ini tak pernah mengira akan bernasib mengenaskan seperti sekarang. Sepuluh tahun lalu, pondasi perusahaan cukup kokoh. Tetapi, perubahan yang menghantam membuat jalan perusahaan seperti roller coaster. Laju perusahaan terjun bebas, from hero zero. Disaat krisis menghantam, ingat Rizkan, Nokia juga lakukan efisensi yang super ketat. Langkah itu diyakini akan mampu menyelamatkan perusahaan di tengah gempuran hebat dari para kompetitor. “Nokia juga cukup percaya diri, konsumen tak akan beralih. Kenapa? Karena harga yang ditawarkan murah. Harga bagi mereka cukup kuat untuk mengikat loyalitas customer dibanding tawaran fitur-fitur yang diberikan pesaing,” urainya. Tetapi keyakinan tersebut ternyata menembus angin. Fitur-fitur kenyamanan ternyata mampu menggaet para pengguna ponsel untuk berpaling dari Nokia. Harga menjadi tak relevan asal mereka merasa nyaman dan terpuaskan. “Jadilah nasib Nokia seperti yang kita tahu saat ini. Yang mereka salah antisipasi adalah datangnya perubahan yang begitu cepat. Mereka gagal adaptif dengan perubahan itu. Jika fitur yang ditawarkan sama, maka harga akan menjadi penentu. Tetapi jika tidak, konsumen rela bayar lebih mahal asal nyaman dan terpuaskan. Jadi itulah kunci bisnis, seberapa kuat kita mampu memenuhi kebutuhan yang diinginkan konsumen,” tegasnya. Dalam industri semen, lanjut Rizkan, polanya juga sama. Akhir dari sederet ikhtiar yang dilakukan, ujungnya adalah memenuhi kebutuhan konsumen. Siapapun akan mampu bertahan dan bisa menjadi pemenang bila memegang dan mempraktekkan prinsip tersebut. “Prinsip dasar bisnis atau industri apapun seperti itu. Jadi, kita terus menerus diminta untuk berubah, menyesuaikan kondisi sekeliling dalam upaya melayani dan memuaskan kebutuhan konsumen. Soal cara dan strateginya bagaimana, itu akan menjadi penentu apakah kita jadi pemenang atau pecundang,” tegasnya. Dirut juga menekankan kepada seluruh karyawan tidak mudah panik apalagi kalut dengan membaca situasi persaingan saat ini. Bahwa, persaingan saat ini makin ketat memang fakta yang tak bisa dielakkan. Rizkan mengibaratkan industri semen nasional saat ini seperti rumah besar dengan pintu lebar yang terbuka selama 24 jam. Siapapun boleh masuk dan lakukan apapun. Ini yang membuat kondisi menjadi sangat berat. Tetapi, ingatnya, dalam bisnis, situasi seperti ini akan dijumpai di belahan bumi manapun. Kalau di Indonesia keuntungan yang ditawarkan industri semen lebih besar dibanding yang lain, tentu investor akan berbondong-bondong masuk. Itu sudah menjadi sunnatullah. “Nggak bisa ditahan lagi. Dimanapun hukumnya seperti itu. Watak bisnis itu seperti itu,” ingatnya. Yang menjadi pembeda antara pemenang atau pecundang adalah respon yang diberikan. Bagi pecundang, imbuh Rizkan, yang muncul adala energi negatif. Memaki kondisi yang terjadi sambil menyalahkan sana sini. “Responnya negatif. Diam saja tak melakukan apa-apa. Pada akhirnya akan mati tergerus perubahan yang terjadi,” paparnya. Bagaimana respon pemenang? Segera tanggap melakukan definsi situasi. Seiring dengan itu, juga lakukan langkah antisipatif dan adaptif dengan perubahan yang ada. Watak pemenang tak memberi ruang sama sekali untuk mencaci ataupun menangisi kondisi yang terjadi. “Kondisi harus dihadapi dan menyadari bahwa kompetisi tak bisa dihindari tetapi harus dimenangi. Dan, saya tegaskan itulah respon yang harus dimiliki seluruh stakeholder Semen Indonesia,” pungkasnya. (ram/ znl/bwo)

    Facebook Comments

    Leave a reply