0800 1088888  EN

    Dirjen Industri Manufaktur Kunjungi Pabrik Tuban

    news / 20 May 2014

    DIRJEN BASIS INDUSTRI MANUFAKTUR-DEPRIN kecil

    PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMI) yang menjadi market leader pasar semen nasional, mendapatkan apresiasi dalam bentuk kunjungan dari  Dirjen Basis Industri Manufaktur Departemen Perindustrian Harjanto. Kamis (8/5) lalu, Dirjen bersama Direktur Industri Kimia Hilir Toeti Rahajoe serta Ketua Asosiasi Semen Indonesia Widodo Santoso, berkesempatan melihat langsung kondisi SMI di Pabrik Tuban.

    Tamu dari Jakarta itu, diterima Direktur Produksi SMI Ir Suparni, beserta jajaran produksi Pabrik Tuban. Dalam pertemuan itu, para tamu mendapat masukan soal produksi. Mulai dari kapasitas produksi, ketersediaan semen, serta kondisi-kondisi terkini dalam proses produksi.

    Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso memberi gambaran, saat ini kebutuhan semen di Indonesia berada di kisaran 61 juta ton. Sementara kapasitas terpasang produksi semen dalam negeri, hampir mencapai 69 juta ton. Dari gambaran itu,  tidak akan terjadi shortage atau krisis semen, lantaran  masih ada selisih aman 5,5 juta ton.  Dia memperkirakan, tahun 2015 kebutuhan itu akan mencapai 78 juta. “Dengan kenaikan permintaan 10 persen per tahunnya, maka di tahun 2016 kebutuhan semen akan naik antara 88 hingga 89 juta ton, untuk pasar nasional,” katanya.

    Menyinggung soal kebijakan kenaikan tarif dasar listrik (TDL), khusus industri, Dirjen sangat memahami jika hal itu memberatkan. Namun dia berjanji, dampak kenaikan tersebut akan menjadi bahan laporan ke Kementrian Perindustrian. Dirjen memahami, bahwa kebijakan itu akan berpengaruh pada kenaikan biaya produksi.

    SMI sendiri juga sudah mengantisipasi kebijakan tersebut. Untuk menekan kenaikan biaya listrik, SMI berencana akan membangun WHRPG (Waste Heat Recovery Power Generation) system, dengan memanfaatkan panas gas buang pembakaran produksi menjadi power listrik. Melaui inovasi tersebut, akan diperoleh sekitar 28 Mega-Watt. “Selain mampu menyuplai kebutuhan listrik pabrik hingga 18 persen dari kebutuhan yang ada,  inivasi tersebut juga mengurangi karbon gas CO2,” ujar Suparni.

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply