0800 1088888  EN

    Dari Rapat Kerja Perusahaan 2015 : Waktunya Efisiensi Minimalkan Kesalahan

    news / 15 January 2015

    8715c63cdc647050d8b78ef979e651a5

    Perjalanan berat PT Semen Indonesia (Persero)Tbk tahun 2014 lalu menjadi bekal dan pelajaran tersendiri bagi perseroan untuk melangkah di tahun 2015. Sejumlah catatan dari hasil evaluasi tersajikan dalam Rapat Kerja Perusahaan tahun 2015 di Gedung PPS Gresik, Kamis (8/1). Dari catatan kinerja tahun 2014 dikatakan Plt Dirut Semen Indonesia Ir Suparni, beberapa Key Performance Indicators (KPI) perusahaan tahun 2014 masih belum tercapai. Selain itu Ebitda margin sejumlah anak usaha mengalami trend penurunan.

    Hal tersebut dipengaruhi naiknya tarif dasar listrik (TDL) PLN yang cukup signifikan hingga 65% serta naiknya BBM subsidi di bulan November. Sementara utilisasi seluruh peralatan produksi telah mencapai titik maksimal. “Di pabrik Tuban biaya listrik meningkat dari Rp 72 milyar menjadi Rp 136 milyar,”ungkapnya.Ditambahkan Plt Dirut, dengan kondisi tersebut maksimalisasi produksi menjadi sangat penting dengan meminimalkan kesalahan atau zero error, baru kemudian mengoptimalkan biaya distribusi.

    Sementara Komisari Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Dr Mahendra Siregar menyatakan saat ini ekonomi global telah memasuki normalitas baru dengan
    trend pertumbuhan ekonomi yang lambat. Menurutnya kondisi tersebut akan berlangsung dalam rentang waktu yang cukup lama. Kondisi tersebut akan membuat pola demand dan supply ke depan mengalami perubahan. Jika pada tahun-tahun sebelumnya permintaan selalu lebih tinggi dari pasokan atau produksi, ke depan kondisi tersebut akan berbalik dengan jumlah pasokan produksi lebih tinggi dari pada permintaan. “Selamat datang di era kelebihan pasokan, permintaan mengecil, persaingan semakin ketat dan Ebitda turun,”tandasnya.

    Sementara dari sisi produksi menurut Mahendra selama ini banyak pihak salah kaprah dengan menggunakan kapasitas produksi terpasang sebagai acuan untuk dibandingkan dengan permintaan. Sehingga kinerja produksi selalu terlihat surplus, padahal kapasitas terpasang tidak merpresentasikan jumlah produksi semen.

    Mantan Kepala BKPM ini menambahkan Semen Indonesia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang semakin berat dengan akan diterapkannya MEA tahun ini. Dikatakannya penerapan MEA tersebut akan membuat persaingan semakin ketat, pasokan semen diprediksi akan jauh lebih tinggi dari permintaan, di tengah bayang-bayang kenaikan tarif dasar listrik dan BBM yang berpotensi menimbulkan inflasi yang akan berimbas pada naiknya biaya produksi dan distribusi. Kondisi tersebut akan mengancam pencapaian target perusahaan ke depan yang menargetkan kenaikan harga 6%, peningkatan produksi semen sebesar 8% dari 28,257 juta ton pada tahun 2014 menjadi 30,565 juta ton di tahun 2015.

    Selain itu target manajemen untuk menaikan laba bersih sebesar 14% dari Rp 24,611 triliun menjadi Rp 27,941 triliun dan Ebitda sebesar 8% dari Rp 8,247 triliun menjadi Rp 8,861 triliun akan terasa berat. Meski demikian pria yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Perdagangan ini tetap optimistis perseroan dapat melalui tantangan berat tahun ini. Keyakinan tersebut didasari adanya peluang yang dapat dimaksimalkan untuk mengejar target yang telah ditetapkan.

    Penguatan nilai rupiah terhadap mata uang euro akan menjadi peluang bagi Semen Indonesia untuk dapat melakukan efisiensi anggaran capex yang terkait dengan pembelian spare-part dan komponen yang digunakan pada fasilitas pabrik. Disamping itu cluster bisnis non semen yang telah ditetapkan dalam RJPP diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan capaian financial perusahaan. “Dalam kondisi ini perseroan harus dapat melakukan optimalisasi capex dan investasi, jalin kemitraan dengan investment bankers untuk pengembangan bisnis,” ujar pria berkacamata ini.

    Melalui rapat kerja tersebut Dewan Komisaris meminta manajemen untuk memaksimalkan upaya peningkatan pendapatan dan efisiensi biaya, dengan melakukan inovasi dan memperkuat sinergi pada aspek produksi, distribusi, dan marketing. “Kualitas perencanaan, disiplin pengajuan usulan anggaran, dan implementasi capex harus terus ditingkatkan,” tambahnya.

    Di sisi lain kompetensi sumber daya manusia (SDM) harus terus ditingkatkan untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat. Sementara untuk meningkatkan pengawasan komisaris meminta agar fungsi internal audit lebih di efektifkan. (bwo)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply