0800 1088888  EN

    Dari Iseng, Raup Pendapatan Puluhan Juta

    news / 2 April 2016

    Jalan menuai sukses seperti sekarang ini, dilalui Susy dan suaminya, Abdus Samad penuh liku dan perjuangan. Awalnya, sepasang suami istri ini jualan nasi goreng keliling. Di sela itu, Susy yang tak mau tinggal diam sebagai ibu rumah tangga, iseng mengolah buah Pisang yang tumbuh disekitar pekarangan diolah menjadi keripik. Awalnya, dikonsumsi sendiri dan dibagikan ke tetangga atau sanak kerabat yang kebetulan bertandang. Eh, ternyata respon bagus. Beberapa tetangga dan kerabat memuji rasa keripik Pisang olahannya ini. “Lalu ada yang pesan. Katanya buat hajatan atau camilan saat bepergian,” kenang Susy yang tergabung menjadi mitra binaan Semen Indonesia sejak 2005 lalu.

    Dari sini, terang Susy, akhirnya dia berpikir, kenapa usaha ini tak digeluti secara serius. Toh, dia masih ada waktu senggang disela jualan nasi goreng bersama sang suami. Kebetulan pula, ada teman yang mengajak gabung jadi mitra binaan Semen Indonesia. “Dari sana, saya dapatkan tambahan modal untuk mengembangkan usaha ini,” tambahnya.

    Kendati sudah mulai bisa dapatkan pemasukan dari usaha ini, Susy dan suami belum sepenuhnya terjun total. Sepanjang 2005 sampai 2008, usaha ini dikendalikan bersama jualan nasi goreng. Dalam kurung tiga tahun itu, sederet ujian dialami untuk membesarkan usaha ini. Kehabisan modal untuk berproduksi juga sering dialami karena masih belum adanya sistem keungan yang baik. Sistem penjualan yang masih menunggu pembeli juga menjadi salah satu penghambat belum bisa berkembangnya bisnis keripik ini.

    Tahun 2008 menjadi awal bangkitnya usaha keripik Gerus ini. Tahun itu, sepasang suami istri ini fokus di usaha keripik dengan berhenti menjadi penjual nasi goreng. Ini menghadirkan tantangan yang berikutnya justru membuatnya makin fokus dan kreatif dengan menciptakan beberapa varian baru.

    Peralatan dari usaha nasi goreng digunakan sebagai peralatan untuk bisnis keripik ini. Dengan menambah pekerja dan memperbaiki sistem pemasaran melalui sales dan membuka toko, usaha Susy semakin tumbuh dan kini sudah menjadi salah satu ikon oleh-oleh kota Tuban. Teknologi juga mulai menjadi bagian dari proses produksi. Sebagai seorang sarjana, Susy sangat paham bahwa teknologi sangat dibutuhkan untuk proses produksi agar didapat hasil yang optimal dan lebih baik.

    Kini, Susy miliki 12 karyawan dan 13 tenaga sales. Tiap bulan, omzet yang dicetak dari ‘usaha ringan’ ini mencapai Rp 60 juta dengan keuntungan bersih Rp 18 juta. Pendapatan sebesar itu berasal dari penjualan yang tersebar dari Tuban, Surabaya, Semarang, Jakarta, Kalimantan, Medan dan Sulawesi. Bahkan tak jarang kolega yang ber angkat ke luar negeri ikut pula membawa kripik Gerus untuk dijadikan camilan dan oleh-oleh.

    Gerus kini memiliki 12 varian produk di antaranya kripik singkong dan kripik pisang. Untuk kripik singkong dari biaya produksi 1 sak singkong bisa diambil keuntungan bersih sekitar Rp 100 ribu. Keuntungan untuk produk yang lain pun bervariasi tetapi rata-rata berada dikisaran 30 persen.

    Ke depan, Susy terus berupaya mengembangkan usaha ini makin maju. Selain memperluas cakupan pasar di dalam negeri, Gerus juga mulai menata diri untuk bisa masuk ke pasar luar negeri. Khususnya di beberapa negara yang komunitas warga Indonesianya banyak. Seperti di Hong Kong, Singapura dan Malaysia. “Lidah mereka kan nggak jauh beda dengan kita,” ungkapnya.

    Gerus optimistis, keinginan ini bisa tercapai. Apalagi, dukungan penuh diberikan Semen Indonesia yang menjadikan usaha yang dikelolanya ini masuk dalam mitra binaan. Banyak sekali manfaat yang didapat. Selain pembiayaan, pendampingan pengelolaan keuangan dan pemasaran.

    “Semen Indonesia juga sering memberi kesempatan pada kami untuk ambil bagian dalam kegiatan pameran. Mulai di sekitar sini sampai luar daerah,” ungkapnya. (*)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply