0800 1088888  EN

    Cicipi Negeri China Bersama Semen Indonesia

    news / 7 April 2014

    20140328_170945-kecil

    Bakat menyulam sudah dimiliki Sisca Sumartono sejak kecil. Ketrampilan ini didapat dari sang ibu, Maria Irmiana Suparni.  Anak kedua dari tiga bersaudara ini,  secara otodidak mempelajari ketrampilan itu dari sang ibu. Kendati begitu, bakat terpendam itu masih belum terasah. Pun demikian saat lulus dari STM Pembangunan Surabaya jurusan Teknik Kimia tahun 1990 lalu.  Menyulam hanya  dijadikan ketrampilan sambilan, membunuh waktu senggang.

    Pandangannya mulai bergeser saat bergabung di salah satu perusahaan komestika di Surabaya. Pergaulannya dengan yang berbau kecantikan dan modis membuatnya  mengasah  kembali dengan bakat terpendam. Bedanya, kali ini sulam dimasukkan dalam sebuah proses kreatifitas guna memberi nilai tambah dari suatu bahan. Awalnya, diterapkan di busana yang dikenakan sendiri. Lambat laun akhirnya menyebar dan beberapa teman kantornya tertarik. Order pun datang berkat pemasaran dari mulut ke mulut.  “Sampai akhirnya saya putuskan keluar dari pekerjaan dan fokus di usaha ini,” ujarnya.

    Meski telah ditekuni serius sejak 2007, namun baru dua tahun kemudian Sari Ronche di-launching.  Awalnya, usaha ini dibangun dengan tiga karyawan. Omzet yang dibukukan pun masih terbilang kecil yakni Rp 12 juta per bulan. Usahanya pun makin membesar setelah banyak yang suka dengan karyanya. Pasar mengenal Sari Ronche dari pameran demi pameran yang diikuti.

    Ini pula yang mengantarnya berkenalan dengan Semen Indonesia. Suatu ketika, saat pameran di Palangkaraya, Siska satu duduk bersebelahan dengan karyawan Semen Indonesia yang juga ikut pameran. Dari obrolan singkat itu, Siska akhirnya menjadi mitra binaan.  Putusan ini tepat. September 2013 lalu, Siska diajak Semen Indonesia pameran di Guangzhou, China.  “Semua dibiayai penuh. Saya hanya tinggal bawa produk yang akan dipamerkan. Termasuk jas dari goni ini,” ceritanya.

    Sepulang dari sana, usahanya makin dikenal. Order pun alami kenaikan.  Saat ini, sudah ada sekitar sembilan karyawan  yang bergabung. Omzetnya pun melonjak jadi Rp 40 juta per bulan.  Selain sibuk  produksi, hari-hari Siska kini juga disibukkan dengan mengisi workshop ataupun seminar yang digelar Disperindag Jatim ke daerah-daerah.  Dia juga sibuk menyusun baku baru, setelah pada 2012 lalu  meluncurkan buku dengan judul; Trendi dengan Busana Tenun (kreasi busana tenun nusantara).  Dalam waktu dekat, Sari Ronche juga bersiap tampil di Surabaya Fashion Parade pada bulan Mei nanti. “Semoga bisa makin eksis. Tak hanya di lokal tapi juga internasional,” harapnya.

    Facebook Comments

    Leave a reply