0800 1088888  EN

    Batik Lasem Maju Bersama Semen Indonesia : Masru’ah, Menggores Hidup dengan Canting Batik

    news / 29 Juli 2015

    abc27f871db1d1d3509228d10e25880f

    ” Saya berterima kasih pada Semen Indonesia. Benar-benar membantu dan membina usaha kecil seperti kami ini. “

    Rizki Barokah. Dua kata sederhana yang barangkali biasa saja. Tetapi bagi Masru’ah (38), itu bukan sekadar susunan kata. Nama yang menjadi merek Batik Lasem tulis buatannya itu, mengandung sederet makna dan kisah. Bagi ibu tiga anak ini, nama tersebut menjadi tetenger, wujud ucapan syukur atas garis hidup yang dijalani. “Karena apa yang saya dapat dan terima saat ini semua tak lepas dari berkah dan rizki dari Allah SWT,” terang UKM binaan Semen Indonesia ini.

    Laksana canting yang meliuk-liuk menggoreskan warna di atas kain batik, begitu pula dengan jalan hidup yang dialami warga Dusun Gading Desa Jeruk Kecamatan Pancur Kabupaten Rembang ini. Perubahan hidup yang dialami saat ini, nyaris membuatnya tak percaya. “Seperti guyon saja. Sama sekali nggak menyangka bisa seperti ini. Rasanya seperti mimpi,” kisahnya.

    Ya, masa lalunya memang dipenuhi dengan perjuangan dan air mata. Lahir dari keluarga miskin, Masru’ah kecil hanya mampu menamatkan pendidikan hingga jenjang Sekolah Dasar. Sempat masuk SMP namun tuntutan ekonomi keluarga membuatnya tak melanjutkan sekolah dan beralih ke dunia kerja. Dalam usia yang masih belia, dia pun menjadi pekerja di perusahaan batik setempat. Lebih dari 14 tahun, pekerjaan ini dijalani dengan suka dukanya.

    Sebuah momen kecil yang dialami, tiga tahun lalu, mengubah garis hidupnya saat ikut terlibat dalam penjualan batik. Saat itu, dari 10 potong batik yang dijual, dia mendapat bonus 1 potong kain. Nah, kain ini yang kemudian dibatik sendiri dan dijual kembali. Pola sederhana ini ternyata menjadi jalan suksesnya. Lambat laun, pola seperti ini mampu menambah jumlah batik yang dijual hingga sampai 70 potong.

    Saat rasa optimistis menyembul, masalah kembali menghadang. Masru’ah terkendala dalam pewarnaan batik. Selama ini, dia biasa menitipkan pewarnaan ke beberapa pengrajin yang sudah mapan. “Nggak tahu kenapa, kok tiba-tiba mereka nggak mau dititipi. Saya mau menangis kalau ingat saat itu,” ujarnya. Masalah ini coba diatasi dengan tekad untuk belajar sendiri. Hanya saja, untuk ini, butuh biaya besar. Untuk belajar pada ahlinya, biaya yang dikeluarkan sedikitnya Rp 12 juta. Alamak, dari mana biaya sebesar itu didapat? Sedang usahanya waktu itu masih merangkak. “Saya putus asa sampai kemudian kenal Pak Ruwahdi dari Bantul Jogja yang mau mengajari dengan biaya ringan,” ujarnya.

    Sukses menguasai pewarnaan menjadikan kemampuannya makin komplet. Usahanya makin berkembang. Apalagi, bersamaan dengan itu, Masru’ah tergabung dalam program mitra binaan Semen Indonesia. “Saya mendapat bantuan modal dan pendampingan dalam pengelolaan keuangan dan peningkatan produksi. Beberapa kali juga diajak pameran,” tuturnya.

    Pameran dan expo memang rajin diikuti. Malah even ini yang menjadi tambang rejekinya. Batik yang dibawa laku keras. Tak jarang dia mendapat pesanan dari acara seperti ini. Meningkatnya order membuat jumlah karyawan pun ikutan bertambah. Dari awal dikerjakan sendiri dan bertambah dalam hitungan jari, kini Rizki Barokah miliki 20 karyawan. Omset penjualan pun terdongkrak sampai Rp 25 juta per bulan. “Saya berterima kasih pada Semen Indonesia. Benar-benar membantu dan membina usaha kecil seperti kami ini,” ucapnya.

    Masru’ah menyadari usaha seperti ini dibutuhkan daya kreatifitas dan inovasi tinggi. Ini bagian dari upaya memenuhi kebutuhan pasar. Karena itu, diperbanyak variasi dan motif. Baik lewat pengamatan model yang lagi tren maupun ide sendiri. Urusan kreasi boleh berubah tapi untuk kualitas Rizki Barokah tak ada kompromi. Untuk ini, Masru’ah turun mengawasi sendiri.

    Kualitas yang terjaga memang menjadi salah satu andalan Rizki Barokah. Sebanyak apapun pesanan, semua harus benar-benar terkontrol kualitasnya. Bagi Masru’ah, sikap ketat ini tak semata menjaga nama merek dagangnya. Lebih dari itu, ini juga untuk menjaga nama baik Batik Lasem yang sudah terkenal.

    Batik Lasem selama ini memang dikenal kualitas dan produknya yang halus. Salah satu ciri yang menjadi pembeda dengan daerah lain adalah corak dan pemakaian warna yang lebih berani. Warna-warna menyolok banyak dijumpai di Batik Lasem. Seperti Merah, Coklat dan Biru. Ketiga warna itu biasanya dituangkan dalam satu karya batik.

    Dari sederet motif yang ada, dua yang paling dikenal di Batik Lasem yakni motif Es Teh dan Tiga Negeri. Disebut es teh karena motif ini banyak didominasi dengan warna coklat bata seperti es teh. Sedang Tiga Negeri merujuk pada tingkat kesulitan dan ketelatenan dalam pembuatan. Berbeda dengan motif biasa yang dalam sekali proses sudah jadi, Tiga Negeri ini sampai tiga kali proses. Waktu yang dibutuhkan bisa sampai 30 hari. Alhasil, harganya pun sebanding yakni Rp 1 – Rp 2 juta per potong. Sebagai perbandingan, batik biasa dijual antara Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu.

    Satu keinginan yang kini dipendam Masru’ah adalah memiliki showroom sendiri. Saat ini, semua masih berpusat dirumahnya di Desa Jeruk Kecamatan Pancur, 15
    km dari Kota Rembang. Di sini, menjadi pusat produksi sekaligus penjualan. “Saya berharap Semen Indonesia turut mewujudkan mimpi saya untuk memiliki show room tersendiri,” harapnya. “Saya yakin dengan ikhtiar tak kenal lelah mampu mewujudkannya. Saya percaya itu. Sama seperti garis hidup yang saya jalani ini,” pungkasnya, optimistis. (ram)

    Facebook Comments

    Leave a reply