0800 1088888  EN

    Batik Lasem Art – Jawab Kegelisahan dengan Muatan Lokal

    news / 7 May 2016

    25ab15b2bb8ce65d05c7e1b4d1488277

    Usaha Batik Lasem Art dirintis oleh Usman (61), pada kisaran 2004. Awalnya, usaha ini dibangun sebagai jawaban belum adanya motif batik lokal yang menjadi ciri khas Lasem, sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, yang dijuluki sebagai ‘Tiongkok Kecil’. Padahal, daerah ini secara turun temurun dikenal sebagai salah satu sentra batik nasional. Para perajin kala itu lebih tertarik memproduksi motif-motif yang disukai pasar.

    Keinginan mengangkat muatan lokal itu klop dengan basic yang dimiliki Usman. Seharihari dia menjadi pengajar seni rupa di SMPN Lasem. Jiwa seni itulah yang mendorongnya terus bereksplorasi untuk menemukan motif yang paling identik dengan wajah Lasem. Sampai akhirnya ditemukan motif Rumput Laut dan Latohan.

    Dua motif ini dinilai paling pas menggambarkan Lasem sebagai daerah pesisir. “Motif ini mendapat respons yang bagus sehingga bisa berkembang sampai sekarang,” terang Nurdiansyah Utama, sulung dari tiga saudara penerus usaha Batik Lasem Art saat ini. Pada perkembangannya usaha ini maju pesat. Kepak usaha rumahan ini terus membesar. Dari Lasem dan sekitarnya, pasarnya meluas hingga Jawa Tengah, Jogjakarta sampai Jakarta.

    Kualitas dan kekuatan motif menjadi salah satu andalan untuk mencuri hati konsumen, kendati hanya dipasarkan secara door to door. Booming internet punya andil besar memperluas jaringan pasar Batik Lasem Art. Mulai Blackberry Message (BBM), WhatsApp, Line, Facebook, dan layanan mikroblogging Twitter. “Kami juga memiliki blog sendiri,” terang Nurdiansyah. “Tapi penyumbang penjualan terbesar tetap pasar offline,” lanjutnya.

    Setahun terakhir produk-produk Batik Lasem Art mulai go international dengan masuk ke pasar Hong Kong dan Singapura. Hanya saja, upaya melempar produk ke negeri jiran tersebut tak dilakukan langsung oleh Nurdiansyah. “Kalau ke Hong Kong lewat salah satu trader di Magetan. Sedang di Singapura lewat teman pengusaha di Cilacap,” bebernya.

    Selain motif lokal yang dapat respons bagus, pasar kedua negara tersebut juga cukup familiar dengan beberapa corak andalan. Di antaranya sekar jagad, lerek, kawung, bedak, gunung ringgit, bledak tumpal, naga lokcan, tiga negeri dan es teh. Walau tak bisa direct selling, Nurdiansyah tetap bangga.Setidaknya, respons positif di pasar kedua negara tersebut makin mempertebal keyakinan bahwa usaha ini sudah berada di track yang tepat. Apalagi, dukungan penuh diberikan Semen Indonesia yang menjadikan Batik Lasem Art sebagai salah satu mitra binaan. Ya, diakui Nurdiansyah, Semen Indonesia turut berperan besar menjadikan usaha keluarga ini tumbuh berkembang seperti sekarang. Bergabung pada 2009 lalu, Nurdiansyah awalnya tak terlalu bergairah menyambut uluran tangan Semen Indonesia. Maklum, saat itu, usaha ini masih dikelola secara tradisional.

    “Terus terang, waktu itu agak kurang pede juga. Kira-kira apa usaha ini layak menjadi mitra binaan perusahaan sebesar Semen Indonesia?” kisahnya. Kekhawatiran ini terpatahkan. Setelah resmi gabung, usaha ini mendapatkan banyak keuntungan dan kemudahan. Tidak saja dukungan finansial, Semen Indonesia juga memberikan berbagai pelatihan, antara lain manajemen pemasaran, keuangan, peningkatan kualitas produk, sampai disertakan dalam pameran di beberapa kota di Indonesia. Seiring dengan itu, omzet penjualan pun terdongkrak. Dari awalnya berkisar pada jutaan rupiah, kini sebulan Batik Lasem Art mampu mendulang pendapatan antara Rp 25 juta sampai Rp 30 juta. Angka yang tak pernah dibayangkan Usman saat merintis usaha ini. (*)

    Sumber : Gapura

    Facebook Comments

    Leave a reply