0800 1088888  EN

    Ayo! Bersatu Tangkal Isu

    news / 10 July 2017

    [:id]

    Situasi industri semen di Indonesia sudah tidak lagi senyaman dulu. Belasan perusahaan baru, baik investasi lokal maupun asing, berebut untung dengan beragam cara. Maka itu, kalau operasi bisnis Semen Indonesia masih monoton, bukan tidak mungkin kompetitor menyalip. Komisaris Utama SMI Sutiyoso mengingatkan agar perseroan mengubah budaya kerja. Tidak cuma kinerja karyawan, tapi juga ‘penampilan’ holding SMI sendiri. “Mari kita pikirkan bersama, SMI harus punya gedung representatif di pusat kota Jakarta. Kompetitor utama kita punya kantor megah di jalan protokol, jangan sampai kita kalah,” kata Sutiyoso saat memberikan sambutan dalam halal bihalal keluarga besar SMI di Wisma A Yani, Gresik, Kamis (6/7) pagi. Belum lagi soal kinerja. Menurut pria yang akrab disapa Bang Yos ini, lokasi kantor yang terpisah antara pejabat SMI yang berada di Jakarta, sementara para stafnya berkantor di Gresik, juga bisa jadi masalah. Paling tidak, dari sisi koordinasi tidak bisa berjalan maksimal. Dia mengusulkan agar ke depan pejabat SMI serta para staf teknisnya bisa berkantor dalam satu gedung. “Terus terang agak sulit bekerja maksimal dengan kondisi seperti sekarang,” tegas mantan gubernur DKI Jakarta ini. Kasus pembangunan pabrik semen Rembang, sambung Bang Yos, memberi pelajaran penting bahwa untuk meraih kemenangan harus menggunakan segala cara. Termasuk dalam hal penggalangan opini publik, sehingga meski apa yang dilakukan SMI benar, “Tapi masyarakat melihatnya bisa lain. Itu karena kekuatan media, kita kalah dalam perang opini,” akunya blak-blakan. Beruntung Bang Yos punya kesempatan datang langsung ke Rembang dan Tuban untuk menggali informasi dari berbagai pihak. “Kesimpulannya, bahwa apa yang ada di lapangan bertolak belakang dengan isu yang berkembang di media. Alhamdulillah informasi ini sudah saya sampaikan ke presiden, dan sekarang kita lagi menunggu peresmian Pabrik Rembang oleh presiden,” ujarnya. Berkaca dari kejadian di Rembang, kata Sutiyoso lebih jauh, seluruh karyawan SMI harus kompak dalam menyikapi masalah. Sehingga slogan Together We Bulid a Better Future tidak berhenti di bibir saja. “Harus satu suara dalam menanggapi isu di luar,” katanya lagi. Di mata Sutiyoso, menyusul terbitnya izin lingkungan untuk SMI yang tertuang dalam SK Gubernur Jateng Nomor 660.1/6 Tahun 2017, Pabrik Rembang sejatinya sudah legal melakukan penambangan. Pasalnya tidak ada aturan mengenai posisi yang harus diambil pemerintah pascapembatalan izin oleh Mahkamah Agung (MA). Hal inilah yang jadi alasan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengambil diskresi. “Berarti yang berlaku SK Gubernur tadi. Tapi opini yang berkembang di luar, seolah-olah kita tidak patuh pada hukum,” terang pensiunan TNI AD berpangkat Letnan Jenderal ini. Bang Yos kembali mengingatkan, ’lawan’ telah menggunakan berbagai cara untuk meraih tujuan. Kalau seluruh karyawan SMI tidak mau mengubah paradigma kerja, maka kita bisa ketinggalan. “Setelah lebaran ini ayo seluruh masalah kita tuntaskan. Kita akan kirim surat ke pemerintah lewat Kementerian BUMN, dengan harapan agar dibaca presiden, bahwa MA telah membuat keputusan seperti itu. Artinya kita punya hak untuk melakukan penambangan,” papar Bang Yos dalam halal bihalal yang dihadiri jajaran komisaris dan direksi SMI, komisaris serta direksi Semen Gresik, serta ratusa karyawan itu. Pgs Dirut SMI Darmawan Junaidi mengamini pendapat Bang Yos bahwa seluruh organ perusahaan harus mulai berubah. Ini bisa diawali dari hal-hal kecil, misalnya kedisiplinan karyawan. “Setiap menghadiri acara kita harus fokus ke sana. Jangan sampai kita tidak tahu sedang ada di mana karena sibuk sendirisendiri,” ingatnya. Perubahan itu sejalan dengan semangat Idul Fitri serta ramadan, di mana 10 hari pertama penuh rahmat, 10 hari kedua penuh magfirah, dan 10 hari terakhir terbebas dari api neraka. “Setelah menjalani ibadah ramadan dengan khusyuk, insya Allah kita akan jadi pribadi baru yang lebih baik di masa depan. Perusahaan kita akan semakin maju berkat insan-insan SMI yang senantiasa istiqamah dan takwa dalam bekerja,” kata Darmawan. (lin/znl/fir)

    [:]

    Facebook Comments