0800 1088888  EN

    58 th Pabrik Gresik Semen Indonesia Terus Ciptakan Mahakarya

    news / 7 August 2015

    c723839e813eab0bc8edb5aadff82edd

    Sejarah berdirinya Pabrik

    Konon di masa Sunan Giri, ada kepercayaan bahwa ada Harta Karun yang tersimpan di perut  bumi Gresik. Daerah yang dijanjikan memiliki harta karun itu diberi nama Kebomas. Secara  harfiah nama itu berarti Kerbau Emas. Kerbau adalah ibarat sumber tenaga, yakni penghela sedang emas adalah  sumber kekayaan.  Ratusan tahun berlalu, di dusun yang dijanjikan itu, orang menggali harta karun itu  dalam  bentuk bahan untuk pembuatan semen.

    Upaya membangun pabrik semen di Gresik sejatinya sudah dirintis sejak puluhan tahun lampau. Bahkan, keinginan ini sudah timbul sejak  zaman Belanda.  Adalah  seorang ahli  Geologi Belanda, Ir Van Es yang kali pertama memaparkan potensi  ‘harta karun’ yang tersimpan di  balik alam Gresik yang berbukit-bukit.   Pada tahun 1935, Van Es  yang bekerja di Jawatan Geologi Bandung menulis laporan yang berjudul  Hoofdgelohisch Technische Onderzoekingen.  Laporan itu menyebutkan   di bukit yang menghiasai wajah Gresik  miliki batu kapur  berkualitas.   Laporan itu juga merekomendasikan  Gresik cocok untuk diidirikan  Pabrik Semen. Tahun 1943, pemerintah Kolonial Belanda mencoba menindaklanjuti laporan tersebut.  Sebuah rencana telah disiapkan. Sayang, rencana itu gagal dilaksanakan karena keburu pecah Perang Dunia ke II.

    Di masa Revolusi, rencana tersebut dilanjutkan Pemerintah Indonesia. Berbekal laporan  Van Es,  Wakil Presiden Moh Hatta memerintah dimulainya kajian kembali pendirian pabrik Semen.   Untuk memperkuat kajian, dua ahli tambang asal Jerman Dr F Laufer dan A Kraeff  melakukan pengeboran untuk dapatkan data geologis yang lebih akurat.  Pada Januari 1951,  keduanya merangkum hasil pengeboran dalam laporan berjudul  Result of Investigation by core drilling  of the Pliocene limestone near Gresik. Laporan tersebut menyajikan data bahwa  deposit batu kapur yang disurvey mencukupi untuk persedian Pabrik  Semen dengan kapasitas produksi 250 ribu ton per tahun,  untuk jangka waktu 60 tahun.

    Pemerintah RI kemudian menunjuk Bank Industri Negara (BIN) untuk menyiapkan sumber pendanaan bagi pembangunan Pabrik.   Untuk kebutuhan valuta asing, digunakan kredit dari Exim Bank Amerika Serikat.   Setelah semua siap, pada 25 Maret 1953, bentuk legal disiapkan guna menaungi proyek  seiring dengan didirikannya  Badan Hukum  N.V Pabrik Semen Gresik. Akta pendirian dicatat di kantor notaris Raden Meester Soewandi di Jakarta.  Ditunjuk sebagai Presiden Komisaris  BIN  sedang Direktur dijabat salah satu pegawai tinggi di kementerian Perindustrian,  Ir Ibrahim bin Pangeran Mohammad Zahier.

    Sebagai langkah persiapan pembangunan, awalnya tim  diserahkan pada tim perancang dari  White Engineering Amerika Serikat. Berikutnya dilanjutkan  Mac Donald Engineering.  Pada 15 September 1953, tim perancang dari AS ini tiba di Gresik untuk  menetukan lokasi dan pola pabrik.  Desaian pabrik diserahkan pada  G A  Anderson sedang gambar detail perencaan digarap oleh H K Ferguson Company. Sepanjang tahun itu, Bagian Geotehnik Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga juga melakukan pengeboran intensif.

    Akhirnya, pada April 1955, pembangunan Pabrik Semen Gresik dimulai. Proyek ini berdiri di atas  tanah seluas 412 hektar. Tahap pertama,  Pabrik didesain dengan kapasitas produksi  250 ribu ton per tahun dengan memiliki dua tanur pembakar.   Pembangunan ini lebih cepat 73 hari dari waktu yang direncanakan.  Total anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan sebesar USD 14,5 juta dan Rp 512 juta (kurs saat itu).  Bersamaan dengan itu, sejumlah 25 teknisi  dan tenaga administrasi dari NV Pabrik  Semen Gresik dikirim ke luar negeri  untuk dapatkan pelatihan.  Sebanyak 22 orang dikirim ke AS dengan beasiswa dari ICA dan  sisanya dikirim ke Kanada atas beasiswa Colombo Plan.

    Memasuki bulan Maret 1957, Semen Gresik telah berada di masa trial operation.  Menyambut pengoperasian, Pemerintah RI juga lakukan restrukturisasi manajemen.  Pada 1 April 1957, mantan  Gubernur Nusatenggara, Sarimin  Reksodiharjo diangkat sebagai Presiden Direktur. Sedang Presiden Komisaris ditunjuk Ir Darmawan Mangunkusumo dengan empat orang anggota yakni Mr Soemanang, Sardju Ismunandar, Mr Ismail Thayeb, Soedarno dan Soenggono.

    Secara teknis dan manajemen siap, pada 7 Agustus 1957, Presiden RI Ir Soekarno datang ke Gresik dan meresmikan pengoperasian Pabrik Semen Gresik.  Dalam sambutannya, Ir Soekarno sangat bangga karena  putra-putra Indonesia mampu membangun Pabrik Semen. Sejak itu, tanggal 7 Agustus diperingati sebagai Hari Lahir semen Gresik yang diperingati tiap tahun.

    Peran Strategis Pabrik Semen Gresik

    Keberadaan Semen Gresik  miliki peran strategis. Ini adalah Pabrik Semen pertama yang ada di Pulau Jawa, melengkapi Pabrik Semen  Indarung Sumatera Barat yang sudah ada sebelumnya. Berikutnya, Semen Gresik miliki peran vital menyuplai kebutuhan Semen bagi pembangunan infrastruktur di Pulau Jawa yang maju pesat.

    Setelah diresmikan oleh Presiden RI Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1957, pabrik Semen Gresik langsung beroperasi. Sesuai setting awal, target produksi 250 ribu ton per tahun mampu dicapai. Kehadiran Semen Gresik ini melengkapi keberadaan Semen Padang yang sudah lebih dulu ada.

    Kehadiran Semen Gresik tidak hanya memompa semangat kebangsaan, tetapi kenyataan bahwa letak Semen Gresik yang sangat strategis cukup membuat Presiden Soekarno bangga. Dia bahkan makin membumikan impian semua orang Indonesia, berdiri di atas kaki sendiri.

    Dari sisi ekonomis, Semen Gresik dinilai lebih strategis. Itu tak lepas dari keberadaannya di Pulau Jawa. Apalagi, lokasi pabrik di jalur utama transportasi darat dari Surabaya-Jakarta.

    TOREHAN BERSEJARAH SELAMA 58 TAHUN

    Tidak berlebihan jika selama 58 tahun Semen Gresik yang sudah berubah nama menjadi Semen Indonesia menorehkan berbagai jejak bersejarah dan prestasi yang membanggakan. Perusahaan semen ini adalah perusahaan semen yang dibangun pertama kalinya sejak Indonesia merdeka untuk mendukung pembangunan saat itu. Semen Gresik juga adalah BUMN pertama yang melakukan Initial Public Offering (IPO) melantai di bursa di tahun 1991. Menjadi perusahaan pertama yang ditugasi Pemerintah menjadi holding industri semen dengan penyatuan Semen Padang dan Semen Tonasa di tahun 1995. Torehan bersejarah berlanjut dengan menjadi BUMN pertama yang berstus multinational companya dan prestasi membanggakan lainnya. Uraian singkat dibawah ini dapat menggambarkan torehan jejak yang membanggakan selama 58 tahun.

    Proyek Mahakarya Indonesia Menggunakan Semen Gresik

    Kala itu produk Semen Gresik di percaya untuk dipakai dalam proyek-proyek mercusuar di Jakarta. Misalnya pembangunan Monumen Nasional (Monas), Jembatan Semanggi, Gedung Conefo, Hotel Indonesia, Masjid Istiqlal, dan beberapa proyek lain.

    Kepercayaan publik menguat setelah Semen Gresik juga dipakai untuk megaproyek bendungan Jatiluhur di Jawa Barat. Waktu itu kontraktor asal Perancis yang memimpin proyek mengirim sampel beberapa produk semen ke Paris untuk dipakai membangun bendungan. “Hasilnya, kualitas Semen Gresik” yang terbaik dan diputuskan dipakais di proyek tersebut.

    Pada era modern, Semen Gresik kembali menunjukkan posisinya sebagai merek semen yang memiliki kualitas yang sangat baik. Mahakarya Jembatan Suramadu sebagai jembatan terpanjang di dunia, pemenang tender memiliki menggunakan Semen Gresik yaitu semen khusus yang mampu membantu jembatan Suramadu bertahan lebih dari 100 th. Produk yang digunakan adalah special cement dengan adanya komposisi dan bahan tertentu sehingga akan menjamin Jembatan Suramadu akan tetap kokoh sampai lebih 100 tahun. Capaian ini tentu semakin mengkokohkan posisi Semen Gresik sebagai spesialis proyek mahakarya di Indonesia

    Menjadi Strategic Holding, PT Semen Indonesia (Persero) tbk

    Setelah 1991 melakukan IPO, Semen Gresik menjadi BUMN pertama yang mencatatkan diri di lantai bursa. Tahun 1995 dilanjutkan dengan mengkonsolidasikan dengan 2 BUMN semen yang lain, yaitu Semen Padang dan Semen Tonasa melalui akuisisi. Proses yang tidak mudah ini berhasil dilalui, dan pada rentang waktu 2003 hingga 2005 dilakukan penerapan Sinergi dan GCG menjadikan proses akuisisi memiliki fondasi yang lebih kuat.

    Semua proses sinergi BUMN semen ini diakhiri dengan RUPSLB (Rapat Umuma Pemegang Saham Luar Biasa) perseroan pada tanggal 20 Desember 2012, yang memutuskan merubah nama PT Semen Gresik (Persero) tbk menjadi PT Semen Indonesia (Persero) tbk. Penggantian nama tersebut, sekaligus merupakan langkah awal dari upaya merealisasikan terbentuknya Strategic Holding Group yang ditargetkan dan diyakini mampu mensinergikan seluruh kegiatan operasional dan memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki untuk menjamin dicapainya kinerja operasional maupun keuangan yang optimal.

    Menjadi BUMN pertama berstatus Multinational Company (MNC)

    Gebrakan awal perseroan dilakukan 2 hari sebelum resmi berganti nama, yaitu pada tanggal 18 Desember 2012 mengakuisisi 70 persen saham Thang Long Cement, perusahaan semen terkemuka Vietnam yang memiliki kapasitas produksi 2,3 juta ton/tahun. Akuisisi Thang Long Cement Company ini sekaligus menjadikan Perseroan sebagai BUMN pertama yang berstatus multi national corporation. Akuisisi terseubt juga menjadikan posisi Perseroan sebagai perusahaan semen terbesar di Asia Tenggara dengan total kapasitas saat itu mencapai 30 juta ton. Ekspani ke Vietnam bukanlah asal-asalan demi status semata, tetapi memiliki strategi yang sangat penting yaitu menciptakan “multi market”, agar perusahaan tidak tergantung pada single market di pasar domestik. Visi kedepan itu terbukti pada saat konsumsi semen di pasar domestik di tahun 2015 menurun, maka pasar di Vietnam menjadi salah satu penopang perusahaan untuk terus dapat menciptakan kinerja yang positif.

    Terdapat makna lain yang strategis saat perusahaan mengakuisisi Thang Long Cement Vietnam, yaitu bahwah perusahaan di Indonesia khususnya BUMN mampu berkiprah di luar negeri, bersaing secara bebas dan jauh dari proteksi Pemerintah. Ini artinya Semen Indonesia siap untuk terus bertarung di pasar global dan menjadi salah satu perusahaan semen kelas dunia. Dari aspek SDM tentu membanggakan bahwa SDM Indonesia mampu dan bersaing secara global. Keberhasilan meningkatkan kinerja Thang Long Cement Vietnam dari sebelumnya laba operasi minus dan utilitas kurang dari 66% menjadi laba operasi positif dan utilitas produksi mencapai kapasitas 100% menunjukkan bahwa SDM Indonesia khususnya SDM Semen Indonesia adalah kumpulan SDM berkualitas dunia dan akan mampu membawa perusahaan semen ini terbang lebih tinggi dan melompat lebih jauh lagi. Kinerja cemerlang Thang Long Cement pada bulan April 2015 meraih penghargaan The Best Regional Structured Trade Finance Solution di Hongkong.

    Memperkuat Kapasitas, Menciptakan Multi Market

    Perusahaan terus meningkatkan kapasitas produksi dalam upaya mempertahankan pengusaan pasar pada kisaran 44%. Seiring kebutuhan semen yang terus meningkat, maka pada tahun 2014 perusahaan melakukan serangkaian proyek upgrading kapasitas sehingga saat ini kapasitas perusahaan sebesar 31,8 juta ton per tahun. Perusahaan terus menambah kapasitas dengan membangun pabrik baru, yang ditahun 2014 telah dilakukan ground breaking proyek baru di area greenfield (lahan baru) Pabrik Rembang 1 dan perluasan (brownfield) di Pabrik Indarung VI dengan masing-masing berkapasitas 3 juta ton. Proyek pabrik baru ini akan selesai pada akhir tahun 2016, sehingga kapasitas produksi Semen Indonesia melonjak menjadi 37,8 juta ton pertahun.

    Perusahaan sedang proses mendirikan pabrik baru di Papua dan Aceh sebagai upaya menciptakan pasar baru yang belum banyak pesaing yang masuk serta memperkuat jangkauan distribusi yang lebih luas. Pabrik Papua selain memenuhi kebutuhan semen di Indonesia timur dapat dijadikan sebagai basis ekspor ke Papua Nugini, Selandia Baru, Australia dan negara kepulauan di Pasifik. Sedangkan pabrik di Aceh akan memperkuat sinergi dengan pabrik di Vietnam, karena pabrik di Aceh dapat dijadikan sebagai basis ekspor ke Malaysia, Myanmar serta Asia Selatan, Timur Tengah dan lainnya.

    Sejak melaksanakan transformasi, kinerja perusahaan terus tumbuh setiap tahunnya dan di tahun 2014 mencatatkan keuntungan sebesar Rp 5,4 triliun, sehingga memberikan kontribusi besar bagi pendapatan negara dalam bentuk deviden lebih dari Rp 1,1 triliun belum termasuk kontribusi dalam bentuk pajak. Menciptakan multiplier effek yang besar ditingkat daerah melalui kontribusi PAD, penyerapan tenaga kerja, bergeraknya ekonomi lokal serta pemberdayaan masyarakat melalui program CSR.

    Facebook Comments

    Leave a reply