0800 1088888  EN

    (English) 2017 Waspadai Semen China

    news / 5 Januari 2017

    [:en]

    Transformasi Jadi Kata ‘Sakti’ SMI 
    Lembaran tahun telah berganti, tapi persaingan industri semen domestik tidak menjadi lebih mudah. Overcapacity  dan tekanan harga masih menjadi momok bagi Semen Indonesia dan pemain lainnya, termasuk hadirnya sejumlah pendatang baru. Siapa mengira, bila di tahun 2012 jumlah pemain semen di Indonesia cuma 9 perusahaan, kini melonjak mendekati 20 perusahaan.

    Sejumlah pemain baru merealisasikan pembangunan pabrik di tahun 2016 dan 2017, dan sebagian besar berlokasi di daerah yang paling besar market-nya, yaitu Pulau Jawa. Celakanya, mayoritas pabrik itu dibangun di Jawa bagian barat, di mana SMI justu tidak memiliki fasilitas integrated di wilayah tersebut.

    Merek-merek baru yang makin akrab di telinga masyarakat itu antara lain Semen Merah Putih, Semen Garuda, Semen Jawa (SCG), Semen Puger, serta raksasa dari China, Anhui Conch. “Mereka memiliki kekuatan finansial yang tidak kalah dari kita, bahkan lebih kuat. Tentu hal ini berpotensi menggerus pangsa pasar kita jika tidak diantispasi dengan strategi yang tepat,” ingat Dirut SMI Rizkan Chandra di Jakata, Jumat (30/12), dalam acara ‘Penandatanganan Kantong Semen Akhir Tahun 2016.’

    Acara penting itu dihadiri jajaran komisaris dan direksi SMI, pun dikuti secara langsung oleh komisaris dan direksi Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa  serta TLCC Vietnam melalui video conference. Rizkan melanjutkan, merujuk pemeo ada gula ada semut, tidak aneh bila pemain semen berbondong-bondong masuk ke Indonesia. Tingginya EBITDA margin menjadi daya tarik utama, diperparah dengan belum adanya regulasi pemerintah yang membatasi masuknya pemain baru.

    “Saat ini EBITDA margin regional berkisar 20 persen. Sehingga selama di sini lebih tinggi dari itu, maka kemungkinan mereka menyerbu ke sini sangat besar,” imbuhnya.

    Dari sederet new player tersebut Rizkan memberi tekanan pada pemain dari China; Anhui Conch. Dia bahkan memprediksi, perusahaan raksasa yang berkantor pusat di Kota Wuhu, Provinsi Anhui, itu bakal menjadi pesaing terhebat SMI di tahun 2017.

    “Pesaing utama kita bukanlah kompetitor terdekat saat ini, melainkan Anhui Conch. Mereka memiliki kekuatan finansial dan lobbying yang sangat  kuat, karena itu harus diwaspadai dan akan menjadi salah satu fokus kita di tahun 2017,” tandas mantan direktur Pengembangan Usaha dan Strategi Bisnis ini.

    Maka, kurang pas lagi bila SMI membandingkan diri dengan pemain lama yang saat ini berada di jajaran atas penguasa pasar domestik. Sebab pemain yang dominan di masa depan bukanlah pemain lama, tapi justru pendatang baru. “Kemana perginya market share yang hilang dari pemain-pemain besar, ya kepada pemain baru itu,” ucap Rizkan.

    Namun, tidak ada kata lain, dominasi SMI di dalam negeri harus dipertahankan. Sekaligus meningkatkan value perusahaan dengan cara masuk ke bisnis hilir maupun meluaskan pasar dari domestik menjadi regional.

    Transformasi korporasi adalah ‘kata sakti’ yang harus ditekankan untuk memenangi persaingan yang kian berat. Transformasi, jelas Rizkan, adalah perubahan yang fundamental, bukan yang incremental.

    “Persisnya transformasi dari produsen semen menjadi bisnis semen (cement business). Lalu kita masuk ke bisnis hilir (adjacent portofolio), kita juga mengubah market kita dari domestik atau Indonesia menjadi regional,” tambah lulusan Teknik Informatika ITB Bandung ini.

    Dengan begitu, kalau bicara mengenai pendirian pabrik di Bangladesh, tidak ubahnya mendirikan pabrik di Kalimantan. Sama halnya dengan pengiriman semen ke Sri Lanka, tidak beda dengan mengirim ke Kalimanatan atau Maluku Utara.

    Rizkan pun mengingatkan lagi strategi 3 + 1 yang dijalankan perusahaan, di mana plus 1-nya adalah cost transformation (CT).  Dalam situasi EBITDA margin tinggi, CT bukan menjadi opsi mendesak. Tapi sekarang, ketika pemain baru masuk dengan struktur biaya yang lebih baik dibanding kita, maka CT menjadi sangat penting.

    “Dan alhamdulillah teman-teman sudah melaksanakan cost transformation  di tahun 2016, dan saya nilai hasilnya excellent,” cetus Rizkan dalam acara bertajuk Innovation for Sustainable Competitive Advantage itu.

    Strategi 3 + 1, tambahnya, harus didukung sistem dan struktur. Dan yang mendasari semua itu adalah manusia dan budayanya (people and culture).

    Good to Great 
    Lebih jauh peraih Satyalancana Wirakarya ini mengatakan, dalam teori manajemen dikenal istilah burning platform,yakni situasi krisis yang mengancam eksistensi sebuah organisasi.

    SMI sekarang memiliki burning plaftorm, karena walau berhasil meningkatkan volume penjualan 1,3 persen hingga akhir 2016, tapi dengan penurunan harga sekitar 7,3 persen, EBITDA margin tidak bisa tumbuh.

    “Padahal sudah kita imbangi dengan cost transformation. Inilah burning platform kita, maka kita tidak boleh terlena karena situasi benar-benar telah berubah,” katanya lagi.

    Sukses menggenjot penjualan hingga 1,3 persen itu pun, beber Rizkan, tidak dilakukan dengan cara-cara biasa. Perseoran tidak bertumpu pada pasar domestik yang tumbuh negatif 0,3 persen, tapi meluaskan pasar dan mengkonsolidasikan produksi semen di dalam negeri.

    Nantinya strategi itu bakal dilanjutkan dengan akuisisi beberapa perusahaan yang bisa meningkatkan value SMI. “Cara ini bakal meningkatkan hegemoni kita pada penguasaan pasar dalam negeri,” tegas dia.

    Tak ingin seperti Nokia maupun BlackBerry yang mati karena lengah dan kurang adaptif, Rizkan berharap SMI langgeng. Seperti yang ditulis Jim Collins dalam buku Built to Last: Successful Habits of Visionary Companies, atau Good to GreatGood company adalah perusahaan yang bagus seperti SMI, tapi tidak sustabinable. Sedangkan great company adalah perusahaan yang bagus dan bertahan lama.
    “Kita ingin 500 tahun ke depan Semen Indonesia dan seluruh OpCo-nya tetap ada di bumi nusantara ini, bahkan kita bisa masuk ke mana-mana, bukan hanya di Indonesia. Konsekuensinya, setiap karyawan harus berpikir tiada hari tanpa inovasi,” ingat Rizkan.

    Untuk mendukung strategi perusahaan, tahun 2016 perseroan telah melakukan serangkaian aksi korporasi. Misalnya pembentukan Semen Indonesia Internasional yang bergerak di bidang perdagangan bahan baku semen dan turunannya, untuk merambah pasar regional dan internasional.

    Ekspansi perusahaan berlanjut dengan dibangunnya pabrik baru, baik di Rembang (Jateng) maupun Indarung (Padang, Sumbar), yang akan disusul pabrik Aceh serta Kupang.  Di kancah regional SMI tengah menjajaki akuisisi pabrik semen di Asia selatan.

    “Kita juga membentuk Semen Indonesia Beton (SIB), lantaran tren pertumbuhan semen bulk memang lebih tinggi ketimbang bag,” beber Rizkan yang berharap SIB menjadi pemain nomor satu di Indonesia sebelum 2020.

    Senada dengan Rizkan Chandra, Komisaris Utama SMI Mahendra Siregar mengakui tahun 2017 tidak akan lebih mudah dibanding 2016. Tapi bukan itu persoalan utamanya. “Asal kita lebih siap dengan strategi-strategi yang tepat, maka tidak ada alasan untuk tidak optimistis,” kata Mahendra dalam acara yang ditutup dengan penandatanganan kantong semen akhir 2016 oleh direksi Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa dan TLCC itu. (lin/znl/bwo)

    [:]

    Facebook Comments